Sedih Lihat Pejuang Kini Tak Hargai Merah Putih

Oleh: Nirwansyah Sukartara. YANG menyedihkan, setiap menjelang 17 Agustus, pejuang kini sangat berat menaikan bendera merah putih di depan rumahnya. Bayangkan, betapa sulitnya dahulu Sakti Lubis bersama pasukannya menaikan bendera merah putih di Jalan Sakti Lubis. Sudah ia kantongi merah putih di celananya. Sayang, setengah jalan sebelum merah putih berkibar, langkah ia diketahui penjajah dan harus gugur terkena senjata metraliur.

Sore yang hangat itu dengan balutan baju Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) ia terlihat begitu gagah. Tidak terlihat bahwa usianya sudah beranjak 83 tahun. Dengan bangga ia menjelaskan segenap wajah tokoh pers yang terpampang di seluruh dinding ruangan kerjanya. Satu persatu ia ceritakan. Mulai dari perjuangan pahlawan nasional seperti Dr Mr Teuku HM Hassan, tokoh pers Jacouesdeen, Pemimpin Redaksi Deli Courant (1855) yang merupakan media pertama di Medan, pertempuran di Yos Sudarso hingga sejumlah karya dan penghargaan yang telah diterimanya.

Hal ini semata-mata dijelaskannya agar pejuang kini tertarik untuk memahami perjuangan bangsa dan menghargai para pahlawan. Menurut veteran yang berasal dari Sumut ini, Muhammad Tuk Wan Hariah (TWH) perjuangan pejuang dahulu sangat berbeda jika dibandingkan dengan perjuangan yang dilakukan sang pejuang kini. Jangankan merebut kemerdekaan, memasang bendera-pun mereka sulit.

“Ini yang saya rasakan. Masih banyak rumah masyarakat yang tidak terkibarkan merah putih,” ucap veteran yang pernah berjuang di Biruen tahun 1948 ini. Bukan hanya itu, TWH juga berkata, dahulu, untuk mengibarkan bendera merah putih benar-benar penuh darah, airmata dan doa. Sang pahlawan siap gugur hanya untuk merah putih.

Selain Sakti Lubis, masih banyak jejeran pahlawan lainnya yang gugur hanya untuk merah putih. Bagi TWH, bukan hanya tak menghargai merah putih. Nilai-nilai ketuhanan yang tertera dalam pancasila juga mulai ditinggalkan pejuang kini. Padahal dalam sila pertama tersebut telah dijanjikan surga bagi umatnya yang saleh.

“Ke depan ilmu agama ini harus ditekankan kepada mereka. Tak hanya itu nilai-nilai perjuangan bagaimana Teuku HM Hassan mengibarkan bendera merah putih di Lapangan Merdeka Medan mereka harus pahami. Penuh darah dan air mata perjuangan 6 Oktober 1945 tersebut,” kata Kakek dari 10 cucu tersebut.

Pesan inilah yang ingin ia sampaikan kepada pejuang kini di hari kemerdekaan tersebut. Yang membuat mereka bangga adalah ketika jasa mereka telah dihargai. Cukup memasang benderah di tanggal 14 hingga 18 Agustus. 

Untuk apresiasi veteran sendiri, ia bangga hadirnya undang-undang yang menghargai jasa veteren. Memberikan tunjangan bagi veteran, menguburkan mereka di makam pahlawan serta memeberikan kemudahan lainnya.

“Untuk veteran, satu hal lagi yang kami inginkan. Kami harap undang-undang ini bisa segera direalisasikan. Karena selama ini kami masih belum bisa menikmati realisiasi undang-undang veteran tersebut,” kata tokoh pers yang 60 tahun menjadi jurnalis tersebut.

()

Baca Juga

Rekomendasi