Tanaman Juga Diserang Lalat Buah

Harga Anjlok, Petani Jeruk Menjerit

Sekitar 6 bulan lalu, konsumen  harus membayar mahal untuk mengonsumsi jeruk manis, yang per kilogramnya sempat melonjak sampai Rp25.000. Namun tingginya harga tersebut juga belum bisa membuat petani tersenyum akibat langkanya produksi jeruk  karena terserang virus lalat buah dan  musim trek  ketika itu.

Kini buah jeruk mulai membajiri pasaran. Beberapa sentra jeruk seperti di Tanah Karo, Simalungun dan Dairi sudah memasuki masa panen. Namun produksi buah jeruk kali ini juga tidak terlalu menggembirakan, karena sebagian besar tidak luput dari serangan lalat buah yang mengakibatkan kualitas jeruk kurang bagus.

Meskipun demikian, ketiga daerah yang menjadi sentra penghasil jeruk itu mampu membajiri pasar mengakibatkan harga jeruk jatuh ke titik nadir.

Seperti pengakuan, J Nainggolan,  petani jeruk di Desa Sileu-leu, Kecamatan Sumbul Dairi, harga jeruk di daerah itu anjlok sampai Rp4000  hingga Rp5000 per kilogram dari  tingkat petani. Karena  sulit memasarkannya, banyak petani jeruk membiarkan jeruknya tidak dipanen.

Dairi saat ini menjadi daerah pendatang baru sebagai sentra jeruk yang mulai menyingkirkan Tanah Karo pasca meletusnya Gunung Sinabung. Banyak petani Tanah Karo yang mulai beralih menanam jeruk  dan tanaman lainnya di Dairi. Hal ini jugalah yang mengakibatkan buah jeruk membanjiri beberapa daerah Sumatera.

Agen jeruk, Zein Sembiring ketika ditemui Analisa di perkebunan jeruk Paribun, Kecamatan Dolok Silau Kabupaten Simalungun, pekan lalu mengakui harga jeruk memang lagi jatuh. Kalau awal bulan tahun ini dia membeli dari tingkat petani Rp7500 per kilogram. Namun saat ini, jeruk petani hanya dihargai Rp4000 per kilogram.

Zein mengatakan, di saat panen raya kali ini, rata-rata per minggu dia mengirim 20 ton jeruk kualitas super untuk konsumsi Pasar Induk Jakarta. Kalau jeruk lagi langka (musim trek) paling seminggu ia hanya dapat mengumpulkan 5 ton jeruk. Musim trek biasanya pada bulan Januari hingga Mei. Sedangkan panen raya dimulai Juni hingga Oktober setiap tahunnya.

Dikatakannya, meskipun dari tingkat petani mereka membeli dengan harga murah, namun ketika sampai di tangan konsumen, seperti di pasaran Jakarta, harga jeruk Medan ditawarkan sekitar Rp25.000 -Rp30.000 ribu per kilogram untuk ukuran paling banyak 12 buah per kilogram. Hal itu terjadi karena biaya tinggi mulai panen,ongkos pengangkutan sampai tiba di pedagang besar di Jakarta.

Ia menjelaskan turunan biaya-biaya tersebut seperti, biaya petik Rp80 ribu per orang, biaya lansir Rp200 per kilogram, ongkos kemas Rp1500 per kilogram, ongkos pengangkutan Rp1500 per kilogram. Ongkos sortir Rp200.000 per hari.

Dikatakannya, proses pemindahan sampai ke tingkat pedagang di Jakarta biayanya bisa mencapai tiga kali lipat dari harga jeruk yang dibelinya dari tingkat petani saat ini.Oleh karenanya harga jeruk Medan lebih mahal daripada jeruk kompetitor dari Bali maupun Kalimantan. Namun, diakuinya, warga Jakarta lebih menyukai jeruk  Tanah Karo, atau jeruk Sumut dan populer disebut jeruk Medan karena lebih manis dan tahan lama.

Sedangkan sistem pembelian dari petani tergantung dari perjanjian. Apakah ditimbang atau sistem borong. Misalnya jeruk yang dipanen saat itu di Desa Paribun, ia membeli dengan sistem borong. Dari luas  23 hektar kebun jeruk ditaksir dapat menghasilkan sekitar 40-45 ton jeruk. Total biaya yang dikeluarkan Jonson Rp160 juta. Namun semua biaya proses pemanenen sampai pengirim sudah menjadi tanggungannya.

Infrastuktur

Lebih lanjut dipaparkannya, harga jeruk dari tingkat petani juga ditentukan dari kondisi infrastruktur jalan ke perkebunan itu sendiri. Kalau infrastrukturnya bagus harganya sedikit lebih tinggi. Ia mencontohkan, seperti kondisi perkebunan jeruk di Desa Paribun, kondisi jalannya karena sangat parah dan hanya mampu dilalui angkutan roda empat gerdang dua.

“Jadi kami harus dua kali melansir. Kalau kami membeli dari kebun di tepi jalan raya, harganya bisa lebih mahal antara Rp1000,- hingga Rp1500 per kilogram.,” papar Zein yang mengaku pernah membeli jeruk dari tingkat petani Rp 13.500 per kilogram.

Meski beberapa sentra perkebunan jeruk di daerah ini lagi panen, namun hasilnya juga kurang memuaskan akibat serangan lalat buah. Idealnya produksi jeruk yang sehat dari 23 hektar harusnya bisa menghasilkan 50-60 ton jeruk. Namun karena tidak semua pohon menghasilkan, produktifitas juga menurun.

Zein Sembiring mengatakan, jeruk yang terserang lalat buah, kondisinya menjadi cepat rusak dan membusuk. Oleh karenanya ia lebih menyukai membeli jeruk dari kebun yang terawat dengan baik, semisal yang mengunakan pupuk cair Fitofit anti lalat buah.

“Jeruk yang disemprot dengan cairan enzim Fitofit daya tahannya akan lebih lama daripada jeruk yang tidak mendapat nutrisi Fitofit.” paparnya sembari menambahkan, jeruk yang menggunakan enzim Fitofit teksturnya bulat sempurna. dan buah BS (sisa sortir) lebih sedikit. Kalau dikirim ke Jakarta daya tahannya bisa sampai tiga minggu.

Sementara itu Rudi Simare-mare, petani jeruk yang baru mengambil alih 23 hektar kebun jeruk di Desa Paribun Dolok Silau, Simalungun mengatakan, banyak petani jeruk ‘menangis’ mengalami kerugian akibat serangan hama. Saat ini ia mengelola 23 hektar tanaman jeruk yang dalam kondisi memprihatinkan sejak ditelantarkan tiga tahun lalu oleh pemilik pertama.

“Saat kita ambil ahli kebun ini, banyak tanaman jeruk dalam kondisi sakit akibat terserang virus lalat buah. Kondisinya meranggas, daun kering dan batang mengering dan tidak berbuah. Setelah dilakukan perawatan instensif dari produksi pada Januari kami hanya menghasilkan 7,8 ton kini meningkat menjadi 45 ton jeruk,” jelas Simare-mare.

Dikatakannya, produktifitas meningkat tapi itu belum mencapai  kapasitas maksimum, soalnya lahan 23 hektar yang dikelola dari kondisi sakit menjadi menghasilkan, hal ini sudah cukup menggembirakan.

“ Panen berikutnya, target kami dua kali lipat dari hasil panen sekarang, mungkin bisa mencapai 90 ton,” papar A Simare-mare. (Anthony Limtan)

()

Baca Juga

Rekomendasi