TIM ilmuwan dari Belgia melakukan penelitian terhadap kotoran dari panda-panda raksasa. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kenapa hewan tersebut mampu melahap dan mencerna tumbuhan bambu yang begitu keras.
Pada dasarnya panda adalah hewan karnivora (pemakan daging). Namun, seiring berjalannya waktu, hewan asal Cina ini telah beradaptasi untuk bertahan hidup dengan memakan bambu.
Menurut susunan genetiknya, panda langka itu karnivora yang telah beradaptasi dengan diet yang hampir semuanya berupa bambu.
Sementara beberapa peneliti sudah melihat saluran pencernaan panda, para peneliti Belgia fokus pada mikroorganisme dalam usus panda.
Dalam penelitian ini, diharapkan petunjuk untuk mengembangkan generasi baru dari bahan bakar hayati, biofuel, didapatkan. Beberapa studi yang dilakukan sebelumnya juga telah mengungkap apa saja mikroorganisme yang ada dalam usus bermacam hewan.
"Kami bisa mencari enzim baru dalam penelitian ini yang bisa digunakan untuk mendegradasi biomassa sulit," ujar profesor di bidang teknologi biokimia dan mikroba Universitas Ghent, Belgia, dilansir Reuters, Senin (28/9).
Hasil studi itu bisa menunjukkan cara baru yang lebih murah untuk memproduksi apa yang disebut biofuel generasi kedua dari tumbuhan dan biomassa yang tidak untuk konsumsi seperti batang jagung.
Biofuel yang dicari dalam penelitian ini diharapkan bisa lebih terjangkau dari sebelumnya. Selain itu, peneliti mengaku ingin mendapatkan bahan bakar hayati tersebut dari tanaman yang bukan ditakdirkan untuk konsumsi manusia.
Dalam penelitian ini ada kotoran dari dua panda yang dikumpulkan. Mereka adalah Xing Hui, panda jantan berusia 6 tahun dan pasangannya betina bernama Hao Hao. (rtr/es)











