Oleh: irfan batubara
USIANYA kini tak muda lagi, langkah kaki yang kian tertatih namun semangat berwirausahanya sungguh luar biasa. Aban (60), ia adalah pewaris salah satu kilang penggilingan padi tertua yang ada di Kota Medan. Terletak di jalan Brigjen Zein Hamid, Medan Johor, kilang ini sudah turun menurun diwarisi mulai dari sang ayah Aliong yang kini telah meninggal dunia. Berdiri sejak 1959 silam, kini pria keturunan Tionghoa itu menjadi penerus generasi ke tiga kilang padi yang diberi nama Kilang Padi Gunung Jaya. Sabtu (17/10).
Aban mengaku saat ini kilang yang ia kelola sudah mulai menurun pendapatannya bila dibandingkan era 80-an. "Hanya beberapa orang saja yang masih meminta kepada saya untuk digilingkan padi-padinya sampai selesai jadi beras, kondisinya yang berbeda sekarang, kalau dulu orderan bisa banyak tiap hari, kalau sekarang jauh berbeda lahan sawah saja sudah hampir tidak ada dan sulit bagi petani untuk menanam padi" ungkap bapak satu orang anak itu saat ditemui dikilangnya.
Lebih lanjut Aban mengakui meski kini orderan jasa penggilingan tidak seramai dulu namun seringkali Aban mendapat orderan jasa berupa menggiling benih-benih ketan hitam untuk dibersihkan kulit arinya dari para pedagang. Tidak hanya itu Aban juga kerap memanfaatkan sisa-sisa gabah yang tak terpakai dengan cara digiling dengan mesin yang kemudian dapat dijadikan pakan ternak lalu ia jual kepada para pelanggannya. "Saya sengaja tidak mengganti mesin penggiling ini dengan yang baru, seperti yang ada saat ini mesin penggiling yang berbentuk mobil odong-odong jadi bisa dibawa kemana saja, soalnya harganya cukup mahal apalagi produksi tidak sebanyak dulu, jadinya mesin ini akan saya rawat baik-baik karena warisan dari oragtua." ujar Aban yang memiliki 12 saudara kandung itu.
Pengurangan karyawan pun pernah dilakukan Aban guna meminimalisirkan ongkos produksi. Mengingat pendapatan serta padatnya aktivitas dari pekerja saat ini sudah tak sesibuk dulu. Elbaiman pria kelahiran 1948 ini sudah bekerja dikilang milik Aban sejak 30 tahun yang lalu. Memiliki enam orang anak Elbaiman mampu mengabdi sebagai pekerja kilang di tengah gerusan zaman yang kian sengit. Kakek yang saat ini memiliki dua belas cucu tersebut mengakui sulitnya lahan sawah saat ini ditengarai menjadi menurunnya orderan jasa penggilingan. "Syukurlah ini menggiling ketan hitam untuk dibuang kulit arinya jadi ada aktivitas." ungkapnya.
Kini meski di tengah gerusan teknologi canggih usaha Aban sebagai jasa penggilingan padi masih saja diminati pelanggan setianya dan ia mampu berinovasi dengan jasa-jasa yang lain agar tidak menganggur, sehingga kesejahteraan keluarganya dan tiga orang pekerjanya dapat terus berjalan di kian sulitnya ekonomi Indonesia saat ini.











