Mengenang Pahlawan Nasional Djamin Ginting

Oleh: Tigor Damanik. Pada 7 November 2014 lalu Let­nan Jenderal TNI (Purnawirawan) Dja­min Ginting, salah seorang tokoh na­sio­nal asal Provinsi Sumatera Utara (Su­mut) dari (Kabupaten) Tanah Karo secara resmi telah mendapatkan gelar: “Pahlawan Nasional”.

Penyerahan tanda gelar kepada pria kelahiran Desa Suka, Tiga Panah, Ka­ro 12 Januari 1921 dan meninggal du­­nia di Ottawa, Kanada pada 23 Ok­­tober 1974 silam itu , langsung di­serahkan oleh Presiden RI Joko Wi­dodo kepada Likas beru Tarigan (90 tahun) , istri almarhum Djamin Ginting, di Istana Negara, Jakarta.

Kala mana acara penyerahan tanda ge­lar pahlawan dihadiri oleh, antara lain Ibu Negara Iriana Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla serta sejumlah pimpinan lembaga tinggi negara dan beberapa menteri kabinet kerja.

Dalam Keputusan Presiden (Kepres) ber­nomor 115/TK/ 2014 tanggal 7 No­vember 2014 itu disebut­kan, Djamin Ginting dinilai telah berjasa secara luar biasa kepada nusa dan bangsa, antara lain melalui keberhasilannya didalam perang gerilya memimpin penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh.

Berikut saat menjabat Kepala Staf Tentara Nasional dan Teritorium I Bukit Barisan (sekarang : Kodam/Komando Daerah Milter I Sumut) , Djamin Ginting pernah menentang kepu­tusan atasannya untuk menun­jukan loyalitas ( rasa kesetiaan )-nya kepada Negara/Pemerintah RI yang sah dan menjadikan wilayah koman­donya ter­sebut sebagai pangkalan operasi pa­sukan pemerintah untuk menggem­pur pasukan PRRI di Sumatera kala itu.

Demikian bunyi Keppres No. 115/TK/2014 : “Anugerah Pahlawan Na­sional diberikan kepada mereka adalah se­bagai penghargaan dan peng­hor­matan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa, yang semasa hidupnya per­nah memimpin dan melakukan per­juangan bersenjata, atau perjuangan politik ataupun dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, dan memper­ta­hankan, dan mengisi kemerdekaan serta me­wujudkan persatuan dan kesatuan bangsa”.

Djamin Ginting dan Sekilas Histori

Jauh waktu sebelumnya, Djamin Ginting juga pernah tercatat sebagai seo­rang pejuang kemerdekaan yang gigih menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo.

Setelah menamatkan pendidikan se­kolah menengah pertamanya Djamin Gin­ting lalu bergabung dengan satuan mi­liter yang diorganisir opsir-opsir (ten­tara) Jepang.

Pemerintah Jepang ingin mem­ba­ngun kesatuan tentara yang terdiri dari anak-anak muda di Tanah Karo guna me­nam­bah pasukan Jepang untuk mem­pertahankan kekuasaan mereka di benua Asia dan Djamin Ginting men­jadi seorang komandan pada pasukan ten­­tara bentukan Jepang itu.

Padahal semula rencana Jepang se­be­narnya licik, yakni dengan me­man­faat­kan putra-putra Tanah Karo untuk mem­bantu dan memperkuat pasukan Je­pang yang akhirnya kandas setelah Jepang menyerah kepada tentara sekutu pi­mp­inan Amerika Serikat pada Perang Dunia II 14 Agustus 1945 hingga me­nelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang.

Kala itu, Djamin Ginting , sebagai seorang komandan langsung bergerak cepat melakukan konsolidasi pasukan dan malah bercita-cita untuk mem­bangun kesatuan tentara di Sumut dan menyakinkan para anggota pasukannya untuk tidak perlu pulang lagi ke desanya masing-masing.

Mengharapkan kesediaan para ang­gota pasukannya tersebut untuk mem­bela dan melindungi rakyat Karo dari setiap kekuatan yang hendak me­ngua­sai wilayah Sumut. Dimana situasi dan kon­disi politik kala itu memang tidak me­nentu, tidak aman bahkan kacau balau.

Dimana ternyata pasukan tentara Be­landa dan Inggris sendiri masih juga ber­ambisi untuk menguasai daerah Su­matera, termasuk Sumut.

Hingga dikedepan hari ternyata para angg­ota pasukan Djamin Ginting ini mun­cul sebagai pionir-pionir (pah­la­wan) pejuang Sumatera Bahagian Utara dan Tanah Karo. Tercatat nama-nama , seperti antara lain : Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamat Ketaren, Kapten Bangsi Sembiring, Kap­ten Mu­mah Purba , Kapten Selamat Ginting dan lainnya sekaligus sebagai cikal ba­kal kesatuan Kodam Bukit Barisan.

Karir kemeliteran , pangkat dan ja­ba­tan Djamin Ginting pun cepat melejit dan terakhir menyandang pangkat jen­de­ral bintang tiga ( Letnan Jenderal TNI).

Kala masih di Kodam Bukit Barisan, memang pernah terjadi kesalah­pa­haman antara Djamin Ginting yang ber­pangkat Letnan Kolonel (Letkol) dan menjabat sebagai wakil komandan de­ngan komandannya Kolonel M Sim­bolon.

Tidak sepaham dengan tidakan Ko­lonel M Simbolon untuk menuntut kea­dilan dari pemerintah pusat mela­lui kekuatan bersenjata. Perselisihan ma­na memang sangat dipengaruhi oleh si­­tuasi politik dan ekonomi yang me­landa Indonesia dibawah ke­pe­mim­pinan Presiden RI Soekarno saat itu.

Kolonel Simbolon merasa Suma­tera seakan dianak-tirikan oleh peme­rintah pusat , terutama dibidang eko­nomi, namun Letkol Djamin Ginting berpendapat lain. Dimana dirinya justru lebih memegang asas sebagai seorang tentara profesional yang memegang teguh sumpah prajurit, yakni membela NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) .

Hingga dipenghujung masa bakti­nya, Djamin Ginting dipercaya sebagai Duta Besar RI untuk Kanada di Ottawa hing­ga akhirnya tutup usia dinegeri ter­sebut dalam usia 53 tahun dan je­nazahnya dibawa pulang  ke Indonesia.

Rasa Bangga Istri dan Sumut

Terutama sang istri tercinta, Likas beru Tarigan, kala menerima gelar pah­lawan nasional tahun 2014 lalu meng­ungkapkan rasa senang, bahagia dan bang­ganya.

Tuturnya setahun lalu itu, kendati su­dah 40 tahun berlalu dan pernah di­janjikan akan diberi gelar pahlawan na­sional saat Djamin Ginting mening­gal dunia namun baru menjadi ke­nya­taan pada 7 November 2014 , sang istri tetap dan selalu mesyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan tersebut seraya me­ngucapkan rasa terima kasih kepada Pre­siden Joko Widodo.

Namun demikian, tentu bukan ha­nya istri dan keluarga saja yang sesungguhnya merasa bangga dengan penganugerahan Djamin Ginting se­bagai pahlawan nasional. Bukan juga semata masyarakat (asal) Tanah (Kabupaten) Karo, tapi seluruh ma­sya­rakat di Provinsi Sumut.

Sehingga kini sudah terdapat se­puluh orang pahlawan nasional asal Su­mut. Menurut catatan , dari jumlah 175 orang pahlawan nasional , sepu­luh orang diantaranya berasal dari Su­mut (1,75%) dan terakhir atau pahlawan kesepuluh itu berasal dari Sumut yakni: Letnan Jenderal TNI Djamin Ginting.

Berikut data lengkap kesepuluh nama pahlawan nasional asal Sumut, yaitu : 1. Raja Sisingamangaraja XII, 2. Dr Ferdinand Lumbantobing, 3. KH Zai­nul Arifin, 4. Mayjen TNI DI Pan­jaitan, 5. Tengku Amir Hamzah, 6. Ki­ras Bangun, 7. H Adam Malik , 8. Jen­dral Besar TNI Abdul Harris Na­sution, 9. Melanthon Siregar dan 10. Letjen TNI Djamin Ginting.

Penutup

Nama Djamin Ginting bukan hanya telah diabadikan sebagai nama jalan saja, yakni salah satu jalan terpanjang di kota Medan. Dimulai dari tikungan sim­pang Jalan Wolter Monginsidi -Padangbulan-Simpang Pos hingga Pancur Batu Medan, tapi juga sudah diabadikan menjadi nama sebuah jalan layang (fly over) atau jalan layang ke­tiga di kota Medan , bernama : “Fly Over Jamin Ginting”.

Jalan layang panjang, lebar, indah dan megah mana membelah Jalan Dja­min Ginting dan Jalan Ngumban Sur­bakti yang telah diresmikan Men­teri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rak­yat ( PU dan Pera ) M Basoeki Ha­dimoeljono pada 28 Februari 2015 lalu.

Selamat memperingati Hari Pah­lawan 10 November 2015. Kami cinta Indonesia. ***

 Penulis: Warga Sumut, tinggal di Medan.

()

Baca Juga

Rekomendasi