IDI Sumut:

Evaluasi Program Dokter Internship

Medan, (Analisa). Terkait meninggalnya dokter internship saat bertugas, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Sumatera Utara meminta agar program tersebut segera dievaluasi.

Pasalnya, program pemerintah pusat yang awalnya bertujuan meningkatkan mutu pelayananan kesehatan itu dinilai justru menjadi polemik bagi para dokter, khususnya dokter muda karena sistemnya persis outsourcing.

"Kedengarannya memang seperti itu (sistem outsourcing). Dua bulan ter­akhir ini sudah dua korban meninggal dunia saat melaksanakan program dokter intern­ship. Jangan sampai ada korban jiwa lain­nya seharusnya, maka­nya segera dieva­lu­asi," tegas Ketua IDI Sumut dr Suhelmi, Jumat (18/12)

Gaji yang diberikan pun tidak seberapa. Dengan Rp2.500.000 per bulan dengan tempat terpencil tentu tidak mencukupi untuk dokter. Na­mun, mereka dipaksa ha­rus mengikuti program itu untuk bisa prak­tik. Sayang program itu sama sekali tidak men­dapat pengkajian mendalam karena fa­silitas rumah sakit atau puskesmas tem­pat mereka bekerja juga masih belum me­madai. Sehingga teori yang mereka terima tidak sesuai dengan praktiknya. Karena itu, menurutnya sebaiknya mereka masuk la­ngsung ke Dokter Pegawai Tidak Tetap (PT­T) saja tanpa dokter internship. Kema­hiran para dokter, lanjutnya, seha­rusnya lebih ditingkatkan pada sistem pendidikan di kampus sewaktu mereka menimba ilmu.

"Seharusnya kurikulum pendidikan dok­terlah yang diperbaiki. Bukan mem­buat mereka (dokter muda) mem­buang waktu dengan dokter internship," katanya.

Saat ini makin banyak dokter muda yang menolak program dinilai lebih kepada perbudakan modren itu. Maka dikhawa­tirkan dokter internship bisa menjadi gejo­lak di dalam pelayanan kesehatan. Karena itu, perlu evaluasi dalam pendidikan ke­do­kteran Indonesia. Pembenahan apa yang harus dilakukan tanpa memberatkan para dokter akan tetapi semakin memajukan kedokteran di Indonesia.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Din­kes) regulasi pemerintah pusat Provinsi Sumatera Utara, Afwan Lubis, me­ngatakan tidak bisa ber­buat banyak ter­kait permasalahan atau dokter muda dalam penempatan atau falisitas dokter internship. Ka­rena itu, dikatanya meru­pa­kan regu­lasi dari kebijakan pe­merintah pu­sat. Oleh karena itu, Dinkes Sumut ha­nya bisa melakukan koor­dinasi de­ngan Din­kes kabupaten/kota yang me­miliki wahana penempatan dokter inter­nship agar lebih mem­perhatikan mereka.

"Itu tergantung rumah sakit dan peme­rintah kabuàpaten/kota tempat dokter internship bagaimana dengan fasilitas dan apakah ada tunjangan tambahan selain yang disediakan oleh pemerintah pusat. Ini kebijakan peme­rintah pusat kami tidak bisa mem­berikan tanggapan tentang kelu­han dokter muda yang menjalankan prak­tik dokter internship," katanya.

Berdasarkan data yang diterima dari Dinkes Sumut sebanyak 351 dokter in­ter­n­ship tersebar di 22 Kabupaten/Kota di Sumut. Para dokter internship biasa ditem­patkan atau wahana puskesmas dan rumah sakit minimal tipe C. Sementara sejak tahun 2012 hingga 2015 sudah ada 1.080 dokter internship yang menja­lani proses pemahiran untuk memperoleh kemandirian dalam menjalankan praktik profesi.

Adapun rincian dokter internship di Sumut tahun 2015, masing-masing angka­tan I/Februari sebanyak 35 orang: Medan 7, Tanjung Balai 21 dan Toba Samosir 7. Sementara angkatan II/Juni sebanyak 153 orang: Medan 18, Nias 6, Samosir 17, Hum­bahas 18, Langkat 18, Serdang Beda­gai 18, Labusel 18, Palas18, Paluta 18 dan Pakpak Bharat 6. Untuk angkatan III/Okto­ber seba­nyak 72 orang masing-masing Dairi 18, Tapsel 18, Asahan 18, Tapteng 18. Angkatan IV/November  sebanyak 91 masing-masing Silamungun 7, Taput 6, Madina 6, Sibolga 18, Labuhan batu 18, Labura 18 dan Medan 18.

"Kalau dijumlahkan semua banyak 353 dokter internship akan tetapi ada 2 orang mengundurkan diri. Tidak tahu apa penye­ba­bnya makanya jumlah jadi 351. Ke­ba­nyakan yang memilih wa­hana di Sumut adalah alumni kedokte­ran di universitas di Sumut,” ujar Edwin Tam­bun Staf Peren­ca­naan dan Pen­daya­gunaan SDM Keseha­tan Dinkes Sumut. (mc)

()

Baca Juga

Rekomendasi