Umat Katolik Etnis Tionghoa Rayakan Imlek dengan Ekaristi

Medan, (Analisa). Umat Katolik etnis Tionghoa di Medan, Kamis (19/2), mengawali perayaan Tahun Baru Imlek dengan perayaan Ekaristi atau Misa Kudus di gereja berbagai tempat dalam Keuskupan Agung Medan.

Salah satu gereja yang jemaatnya mayoritas etnis Tionghoa di Jalan Letjen Haryono MT merayakan Tahun Baru Imlek dengan nuansa khas Tionghoa yang penuh hikmah dan diliputi suasana ramah dan ramah.

Umat datang ke gereja yang secara khusus disebut Gereja Kristus Raja itu sebagian besar memakai pakaian khas Tionghoa atau Chongsam yang berwarna merah menyala. Suasana dalam ruang gereja pun turut termotivasi menjadi lebih semangat di samping adanya dekorasi lampion merah dan bunga meihua serta tuilien (sepangan kain merah  panjang ke bawah bertulisan kuning emas yang bermakna pujian dan doa).

Perayaan Misa Tahun Baru Imlek 2566 atau Tahun Kambing itu dimulai tepat pada pukul 08.00 saat umat sudah memenuhi ruang gereja bahkan melimpah ke luar gedung. Misa dipimpin Pastor Paroki Kristus Raja Fristz Tambunan Pr dan rekannya Pastor Selman Sipayung Pr.

Berbeda dengan Misa Minggu-minggu biasa, Misa Tahun Baru Imlek diawali dengan lagu bahasa Mandarin “He Xin Nian” yang artinya mari kita rayakan tahun baru.

Bacaan, mazmur dan doa umat juga dibacakan dalam bahasa Mandarin oleh umat generasi muda.

Pastor Paroki Fritz Tambunan Pr dalam kotbahnya menyatakan rasa kagumnya kepada umat paroki yang semangat roh tercermin pada ibadat Rabu Abu, yaitu tanda memasuki masa pra Paskah yang kebetulan jatuh pada malam menjelang Imlek, di mana gereja penuh oleh umat etnis Tionghoa, padahal malam itu merupakan malam 30 atau sacapmei yang saatnya seluruh keluarga berkumpul untuk makan bersama.

“Umat telah menunjukkan semangat roh untuk mengutamakan ajaran Gereja ketimbang adat,” katanya.

Pastor Fritz juga menjelaskan arti aksara Tionghoa pada tuilien yang tergantung di kiri kanan Salib Yesus itu. Menurut dia: Anugerah Tuhan melimpah, sehingga umat-Nya dapat hidup tenteram dalam zaman sejahtera. Sabda Allah mengajarkan umat-Nya, berbahagialah orang yang jujur dan menyenangkan Tuhan dalam pekerjaan-Nya.

Mengenai Tahun Kambing, selain menyebut satu persatu sifat hewan kambing atau domba itu yang bisa menjadi contoh teladan manusia, pastor juga mengutip ayat-ayat kitab Yesaya: “Dia ditindas dan Ia menderita, tetapi Ia tidak membuka mulutnya, seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian, dan seperti seekor domba yang terdiam di depan para penggunting bulunya, demikianlah ia tidak membuka mulutnya.”

Menurut Pastor Fritz, dalam misa atau doa-doa, Yesus Kristus senantiasa disebut Anak Domba Allah yang menebus dosa-dosa dunia. Dan umat pengikut Kristus juga disebut kawanan domba-domba sedangkan Yesus menyebut diriNya sebagai Gembala yang baik.

Maka dalam Tahun Kambing ini, tidak salah bila kita belajar sifat-sifat yang baik dari kambing, dan menganggap diri kita sebagai kawanan kambing (domba) yang digembalai Yesus, niscaya kita akan Ia baringkan di padang rumput yang hijau dan dibimbing menuju air yang tenang.

Selesai Misa, Imam memberkati jeruk sebagai hasil bumi yang dipersembahkan umat lalu diserahkan kepada yang mawakili umat etnis Tionghoa, dalam hal ini Ketua Umum Keluarga Santo Fransiskus Xaverius atau Perkumpulan Umat Katolik Berbahasa Mandarin se-Keuskupan Agung Medan Paulus M Tjukrono dan isteri untuk selanjutkan dibagikan kepada seluruh umat di luar gedung. Selain jeruk, umat lansia dan anak-anak juga menerima angpao dari pimpinan Dewan Pastoral Paroki.

Meski Misa Imlek tahun ini tidak dimeriahkan dengan atraksi Barongsai, namun umat yang mengambil bagian dalam perayaan itu sangat antusias. (p)

()

Baca Juga

Rekomendasi