Kaitkan Hukuman Mati Penyelundup Narkoba

Warga Aceh Siap Kembalikan Bantuan Tsunami Australia

Banda Aceh, (Analisa). Pernyataan Perdana Menteri (PM) Australia, Tonny Abbot yang mengungkit-ungkit kembali bantuan untuk korban tsunami Aceh yang pernah diberikan negara Kangguru tersebut beberapa tahun silam, kini telah menuai protes dan membuat warga Aceh menjadi tersinggung.

PM Abbott mengatakan hal ini agar Indonesia membatalkan ekse­kusi hukuman mati terhadap dua warga negaranya yang terlibat pe­nye­lundupan narkoba, yaitu Myu­ran Sukumaran dan Andrew Chan.

“Pernyataan PM Australia itu seperti dikutip banyak media asing, telah membuat rakyat Indonesia, khususnya Aceh merasa ter­singgung. Makanya, karena kita punya harga diri, kita akan meng­ga­lang dana dan gerakan kumpul­kan koin untuk Australia guna mengembalikan bantuan tsunami yang pernah diberikan itu,” kata Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Wilayah Aceh, Darlis Azis, Jum­at (20/2).

Ia menyebutkan, warga yang tergabung dalam komunitas pemu­da subuh (Kompas) yang diprakar­sai oleh OKP dan Ormas Islam se-Aceh merasa prihatin terhadap pernyataan PM Tonny Abbot yang mengaitkan antara bantuan yaang diberikan negaranya dengan vonis hukuman mati kepada pengedar nar­koba yang kebetulan saja adalah warga Australia. 

“Karenanya, kami siap me­ngem­balikan dana takziyah yang diberikan Australia kepada Aceh sepuluh tahun silam, asalkan pelaku dan pengedar narkoba itu tetap dihukum mati oleh Pe­merintah Indonesia,” tegas Darlis.

Menurutnya, rakyat Aceh bu­kan­lah tipe masyarakat yang haus akan bantuan. Jika pun dibantu maka masyarakat akan bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih atas bantuan yang diberikan sebagai wujud rasa kemanusiaan.

“Tapi jangan lalu mengungkit-ungkitnya lagi, apalagi meng­aitkan dengan vonis hukuman mati terhadap penyelundup nar­koba. Karenanya, kami meminta Presi­den Jokowi tetap tegas dan konsis­ten menghukum mati warga asing mana pun yang terlibat dalam pengedar narkoba,” sebutnya.

Kecam Keras

Anggota Komisi III DPR-RI asal Aceh, Nasir Djamil, me­nge­cam keras pernyataan Perdana Menteri Australia Tony Abbott. Negeri Kanguru itu mewacanakan minta balasan dan ganti rugi terhadap bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana tsunami, seandainya Pemerintah Indonesia tetap mengeksekusi mati dua warga negara Australia.

“Wacana itu sungguh sangat memalukan, karena keluar dari seorang perdana menteri,” ujar Nasir Djamil dalam siaran pers kepada Analisa, Jumat (20/2).?

Anggota DPR dari Fraksi PKS ini meminta Tony Abbott se­gera menghitung bantuan yang pernah diberikan Negeri Kanguru untuk tsunami Aceh. Nasir optimistis rakyat Aceh, baik dalam dan luar negeri, mampu mengumpulkan uang untuk mengganti bantuan materi dari Australia.

“Ini sangat serius dan menghina rakyat Aceh. Kami juga sadar bah­wa bantuan asing ke Aceh saat reha­bilitasi dan re­konsoliasi justru banyak yang dinikmati oleh negara donor,” katanya.

Tony Abbott menyatakan, pi­hak­­nya bakal minta ganti rugi sebesar 1 miliar Dolar Australisa atas bantuan yang pernah dibe­rikan­nya untuk Aceh. Jika ekseku­si terpidana mati pe­ngedar narkoba yang berkewarganegaraan Australia, Andrew Chan (31) dan Myu­ran Sukumaran (33) tetap dilak­sana­kan. Bahkan, Abbot mengi­ngat­kan akan ada konsekuensi jika ban­ding untuk dua terpidana mati tersebut diabai­kan Indonesia. 

PM Abbot mengatakan, dirinya berharap Indonesia akan mem­balas kebaikan Australia. “Ketika Indonesia dilanda tsunami, Australia memberi bantuan senilai satu miliar Dolar,” kata PM Abbott. Dia menambahkan, “Kami mengi­rim pasukan angkatan darat dalam jumlah banyak untuk membantu Indonesia di bidang kemanu­siaan,” sebutnya.

Ajak Kembalikan Bantuan

Dari pantauan, warga Kota Banda Aceh juga mulai meng­ubah tampilan foto mereka pada display pictures, di blackberry messenger (BBM) dengan foto Koin Untuk Australia. Didik Ardiansyah, warga Banda Aceh juga mengajak warga kumpulkan uang recehan untuk mengembalikan bantuan tsunami yang pernah diberikan Australia kepada Aceh. ”Apa hu­bungannya bantuan tsunami Aceh dengan bandar narkoba,” katanya.

Selain itu, rata-rata warga di Aceh juga mengubah tampilan gambarnya dan mengajak semua orang mengkampanyekan “balikin uang Australia!!

Hasan Basri M Nur, Dosen Fakultas Dakwah UIN Ar-Ra­niry yang juga pernah terlibat dalam masa proses rehabilitasi dan re­kon­struksi pascatsunami Aceh, dalam pesan singkatnya menyam­paikan, PM Australia telah me­nying­gung-nyinggung suatu pem­berian kepada pihak lain oleh pihak yang membe­rikan sesuatu yang sangat tabu dan terlarang dalam masyarakat Aceh dan Islam.

“Saya menyarankan kepada Tony Abbott untuk mencabut resmi pernyataan yang berbau menagih itu. Saya tentu tidak ber­harap Abbott yang sedang me­mim­pin negara maju bernama Australia punya penyakit memin­ta-minta kembali bantuan­nya,” tulis Hasan Basri.

Beberapa waktu lalu, PM Australia Tonny Abbot pernah menya­ta­kan jika eksekusi mati dua warga Australia, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, bisa mengusik hubungan yang telah terjalin baik antara Australia dan Indonesia selama ini. Australia sudah cukup baik kepada Indonesia dengan menjadi pemberi bantuan cukup besar saat negara ini dilanda masalah, seperti terjangan tsunami di Aceh yang menewaskan ribuan orang dan membuat mereka tidak punya tempat tinggal.

Dilansir Reuters, Jumat 20 Februari 2015, Abbot mengaku jika pernyataannya itu tidak ber­mak­sud untuk meningkatkan kete­gangan di antara kedua negara. “Saya hanya menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara Australia dan Indonesia. Faktanya, kami selalu ada saat Indonesia di masa-masa sulit,” ujar Abbot.

Saat 2004 lalu, Indonesia terke­na duka mendalam karena terja­ngan tsunami di beberapa wilayah. Aceh mendapatkan terjangan paling parah dan banyak orang yang kehilangan tempat tinggal. Australia memberikan bantuan sebesar 1 juta Dolar Australia untuk pemuli­han di wilayah itu.

Pernyataan Abbott, meski telah mendapat klarifikasi dari Menteri Luar Negeri (Menlu) Australia Julie Bishop, yang menelepon langsung Wakil Presiden Jusuf Kalla, namun sta­temen Perdana Menteri Negeri Kangguru itu masih menjadi topik hangat yang dibincangkan warga Aceh. (mhd)

()

Baca Juga

Rekomendasi