Penyakit Campak (Measles)

Oleh: Ronnie Wirawan Salim. Penyakit campak me­rupakan penyakit sangat menular yang dapat menge­nai semua golongan usia, tetapi lebih sering terjadi pa­da anak-anak berusia di ba­wah lima tahun yang tidak divaksinasi. Menurut World Health Or­­ganization (WHO), pada tahun 1980 sebe­lum di­te­mukan vaksin, pe­nyakit campak menyebabkan kema­tian hingga 2,6 juta orang per tahun.

Pada tahun 2013 sebanyak 145.700 orang meninggal diakibatkan penyakit campak dan kebanyakan terjadi pada anak-anak di bawah lima ta­hun. Hal ini merupakan ang­ka yang cukup ting­gi, pada­hal penyakit campak meru­pa­kan pe­nyakit yang sudah mem­punyai vak­sin. Oleh karena itu mari kita me­nge­­nal penyakit campak lebih men­dalam.

Penyakit campak atau yang dikenal juga dengan nama measles merupakan penyakit menular melalui udara yang disebabkan oleh virus morbili. Sese­orang akan tertular penyakit cam­pak apa­bila terhirup udara yang telah ter­kon­taminasi oleh batuk atau bersin dari orang yang sedang menderita pe­nyakit campak.

Virus tersebut dapat ber­ta­han hingga dua jam di uda­ra dan apabila terhirup, virus tersebut akan mengin­fek­si sel saluran pernafasan dan sistem per­tahanan tubuh, se­hingga menye­bab­kan batuk, coryza (perada­ngan pada permukaan bagian dalam hidung sehingga pilek), dan konjungtivitis (peradangan pada selaput mata sehing­ga mata menjadi merah dan berair).

Penularan penyakit cam­pak kepada orang lain dimu­lai pada saat orang tersebut demam hingga 4 hari setelah munculnya ruam. Oleh kare­na itu dianjurkan untuk ber­istirahat terlebih dahulu di rumah untuk mencegah pe­nu­laran kepada orang yang berada di sekitar lingkungan.

Gejala

Penyakit campak awalnya ditandai dengan demam yang semakin lama semakin me­ning­kat selama 4-7 hari, yang disertai dengan batuk, pilek, mata merah berair dan kop­lik’s spot, yaitu bin­tik-bintik pada bagian dalam pipi yang sangat khas pada penyakit cam­pak, dan hanya dapat dilihat pada hari ke 3-4 de­mam atau 1-2 hari se­belum mun­culnya ruam pada tubuh sampai dengan 2 hari setelah ruam muncul.

Pada saat demam yang disertai batuk,pilek, mata merah dan terdapat koplik’s spot, maka orang yang sakit tersebut berada dalam fase prodormal. Setelah itu akan memasuki fase selan­jut­nya dimana akan muncul ruam me­rah dan timbul yang di­mu­lai dari bela­kang telinga ke wajah lalu ke badan pen­­derita yang akan bertahan hingga 5-7 hari yang kemu­dian men­jadi war­na kecok­latan dan mengelupas. Dari gejala klinis di atas, biasanya dokter sudah dapat menegak­kan penyakit campak dan apabila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan labo­ratorium.

Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi adalah diare sehingga dapat menye­bab­­kan dehidra­si, infeksi pada saluran te­li­nga bagian tengah (otitis me­dia) yang dapat menyebab­kan telinga be­rair dan nyeri pada telinga, infeksi pa­da saluran paru-paru (pneumonia) yang dapat menye­bab­kan sesak nafas, infeksi pada jaringan otak (enchep­halitis).

Pneumonia merupakan komplikasi yang paling se­ring hingga menye­bab­kan kematian. Komplikasi lebih mu­dah terjadi pada anak-anak yang beru­sia di bawah 1 ta­hun, anak-anak yang meng­alami gizi kurang, yang se­dang melakukan kemoterapi, dan orang yang berusia lebih dari 20 tahun.

Pengobatan

Pengobatan yang dapat dilakukan hanyalah peng­obat­an suportif seperti anti­biotik apabila telah terjadi kom­plikasi seperti otitis media atau pneumonia, obat un­tuk menurunkan panas apa­bila diperlukan.

Hidrasi yang cukup juga penting untuk mencegah dehidrasi yang dia­ki­batkan oleh diare. Pem­berian vita­min A menurukan terjadinya kom­pli­kasi teruta­ma pada anak-anak yang ku­rang gizi, orang yang mem­punyai sis­tem perta­han­an tubuh yang lemah.

Pencegahan yang dapat dilakukan un­tuk mencegah terkena campak ada­lah de­ngan melakukan vaksinasi MMR (vaksin yang mempu­nyai virus pe­nyebab gon­dok,campak, dan rubella yang telah dilemahkan). Pem­berian vak­sin MMR diberikan sebanyak dua kali yaitu saat berusia 15 bulan kemu­dian pada saat berusia 5 tahun.

Dengan melakukan vaksi­nasi, ma­ka tubuh orang terse­but akan mem­ben­tuk perta­hanan tubuh terlebih dahulu ter­hadap virus penyebab cam­pak. Per­nah terdengar bahwa vaksinasi dapat menyebab­kan anak menjadi autis. Berita ini tidaklah benar dikarena­kan menurut penelitian yang telah dila­kukan tidak ditemu­kan adanya hu­bu­ngan antara vaksinasi dengan penye­bab anak menjadi autis.

Vaksinasi memang mem­punyai efek samping mem­buat anak menjadi demam, muncul ruam, tetapi hal ini jauh lebih aman diban­ding­kan apabila sudah menderita penyakit campak yang dapat menjadi komplikasi. Oleh ka­rena itu, ada baiknya anak-anak di­berikan vaksinasi ter­lebih dahulu se­belum pe­nya­kit campak datang.

()

Baca Juga

Rekomendasi