Menurut Penelitian

Kapal Perang Jepang Musashi Meledak Saat Tenggelam

PAKAR dari tim peneliti yang menganalisa ka­pal perang Jepang Musashi mengungkapkan bah­wa kapal tadi meledak saat tenggelam ke dasar laut sedalam 1.000 meter.

Bangkai kapal tersebut ditemukan oleh kelompok peneliti milik salah satu pendiri Microsoft Paul Allen, Vulcan belum lama ini.

Kelompok peneliti terse­but berlayar dengan meng­gunakan kapal M/Y Octopus milik salah satu pendiri Mi­crosoft Paul Allen.

Penelitian bawah air dila­kukan pada 2 Maret de­ngan meng­gunakan data sejarah, topografi dasar laut ter­perinci dan teknologi canggih untuk mene­mukan dan me­motret Musashi, sekaligus meng­ak­hiri misteri ke­beradan kapal tersebut, menurut laman res­mi penelitian itu.

Penemuan ini segera me­narik perhatian dunia karena Musashi dan "saudaranya", kapal Yamato, merupakan kapal perang terberat dan memiliki persenjataan yang paling banyak di antara semua jenis kapal selam yang pernah dibuat.

Para sejarawan berminat untuk mengetahui apakah masih banyak bagian utuh dari kapal tersebut.

Juru bicara Vulcan Alexa Rudin menyatakan me­lalui surat elektronik bahwa Musa­shi dalam kon­disi tidak utuh di dasar laut, terpisah menjadi beberapa ba­gian.

Ukuran puing-puing kapal itu me­nun­jukkan bahwa Musashi patah sebelum me­nyentuh dasar laut. Hantaman torpedo menye­babkan kapal tersebut patah.

Musashi sendiri diteng­ge­lamkan pada 24 Oktober 1944. Pertempuran tersebut menewaskan lebih dari 1.000 tentara Jepang, sekitar sete­ngah dari jumlah awak kapal.

Peristiwa itu terjadi pada awal pertempuran Teluk Ley­­te, salah satu pertem­pur­an laut terbesar dalam se­ja­­rah, dimana saat itu pa­sukan AS dan Australia ber­tempur melawan tentara Jepang.

Musashi sendiri diambil dari nama sebuah provinsi di Jepang yang mulai beroperasi pada Agustus 1942. Kapal pe­rang itu memiliki panjang 263 meter dan berat total 73.000 ton, jika dihitung bersama sembilan senjata utama, pesawat militer dan perlengkapan tempur lain.

Sementara itu kapal Ya­mato tenggelam pada 7 April 1945. Bangkai kapalnya telah beberapa kali difoto selama bertahun-tahun.

Allen dan tim penelitinya menyadari bahwa lokasi pe­nemuan bangkai kapal itu merupakan "kuburan perang" dan mereka telah bekerja sama dengan peme­rintah Jepang dan Pilipina untuk memas­tikan wilayah ter­sebut dilin­dungi, kata Rudin. (ap/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi