Komite Sekolah SMAN 4 Pematangsiantar Kunjungi Sekolah Unggulan

Pematangsiantar, (Analisa). Mewujudkan sekolah bermutu yang memiliki keunggulan, sejumlah guru dan pengurus Komite Sekolah SMA Negeri 4 Pematangsiantar mengunjungi 3 sekolah unggulan yang ada di Sumatera Utara, 13-14 Maret.

 Ketiga sekolah yang dikunjungi SMA Del Laguboti, SMA Negeri 2 Balige serta SMA Negeri 1 Matauli Pandan Tapanuli Tengah. Dari ke 3 sekolah yang dikunjungi, 2 di antaranya cocok diterapkan di SMA Negeri 4 Pematangsiantar. Alasan utamanya, kedua sekolah ini statusnya sekolah negeri. Sedang SMA Del Laguboti murni dikelola pihak swasta sehingga pembiayaannya yang besar sulit jika diterapkan di sekolah negeri.

 Setelah mengunjungi SMA Del Laguboti, rombongan mengunjungi SMA Negeri 2 Balige. Di sekolah yang merupakan eks Sekolah Pendidikan Guru (SPG) tahun 1982 ini rombongan diterima kepala sekolah, Aldon Samosir dan Kepala Asrama, Mekar Sinurat.

Berbeda dengan SMA Del yang murni dikelola yayasan, SMA ini murni milik pemerintah. Hanya saja, sejak tahun 1992, sebagian siswanya (awalnya 120 orang sekarang 90 orang) dibina Yayasan Soposurung, dipimpin Mayjen TB.Silalahi untuk dibina secara khusus di asrama.

Peserta studi banding terinspirasi dengan sekolah ini, karena statusnya sama dengan SMA negeri 4 Pematangsiantar. Dibanding SMA Del, model pengelolaan pendidikan di sekolah ini lebih cocok untuk diterapkan di SMA Negeri 4 Pematangsiantar.

“Kami sebenarnya tidak ada menggunakan istilah unggulan di sini, karena siswanya belajar bersama dan diajar oleh guru yang sama. Bedanya, ada yang tinggal di asrama dan ada yang pulang sebagaimana biasanya,”kata Aldon Samosir.

Setiap tahun, lanjut Aldon Samosir, ada 90 pelajar (tiga kelas) yang lulus seleksi dari ribuan pendaftar untuk dibina pihak yayasan.

Pembinaan dilakukan setelah pulang sekolah sampai mereka masuk sekolah lagi esok hari. Mereka harus tinggal di asrama, dan mendapatkan berbagai macam kegiatan setelah pulang sekolah termasuk tambahan belajar dari pengelola bimbingan belajar.

Khusus untuk pelajar yang diasramakan, menurut Aldon Samosir, pihak yayasan telah menandatangani perjanjian kesepakatan (MoU) dengan pemerintah kabupaten Toba Samosir, mereka melakukan seleksi tersendiri menurut standar mereka. Selebihnya, pelajar yang diterima dari jalur umum mengikuti seleksi yang digariskan Pemkab.

Kepada rombongan, Mekar Sinurat menjelaskan, sejak awal dibina Yayasan Soposurung sampai 2007, seluruh biaya siswa yang tinggal di asrama digratiskan.

Subsidi

Saat ini, biaya riil per siswa sebesar Rp1.650.000 per bulan. Tetapi masing-masing pelajar yang di asramakan hanya dibebani sebesar Rp900.000 per bulan. Sisanya merupakan subsidi dari yayasan. Bagi yang tidak mampu, disediakan beasiswa dari yayasan.

 Saat berdialog, Kepala SMA negeri 4 Pematangsiantar, Rudolf Manurung, dan sejumlah guru lainnya antusias bertanya, apa tidak ada kesenjangan dengan model seperti itu, baik antara sesama siswa maupun sesama guru?

Kepsek dan kepala asrama, menjelaskan, antara pengurus Yayasan Soposurung dengan SMA Negeri 2, telah ada garis kerja masing-masing. Pihak yayasan sama sekali tidak mencampuri urusan akademik, baik siswa berasrama maupun non asrama. Sebaliknya pihak sekolah juga tidak mencampuri urusan pembinaan usai sekolah, yang dilakukan pihak yayasan di asrama.

Keduanya menjelaskan, selama ini tidak pernah ada masalah baik sesama pelajar maupun guru. Sebab, saat belajar di sekolah, kelas berasrama maupun non asrama diajar guru yang sama.

“Jadi, tidak ada guru yang khusus hanya mengajar pelajar binaan yayasan. Semua guru di sekolah ini juga mendapatkan insentif yang sama dari pihak yayasan. Kalaupun ada tambahan belajar bagi siswa berasrama, itu sifatnya sudah diluar jam belajar biasa,”jelas Aldon Samosir dan mengakui sekolah itu juga menerima dana bantuan operasional sekolah (BOS) dari pemerintah dan juga masih memungut uang komite sebesar Rp 75.000 per bulan per siswa.

Menjawab pertanyaan anggota DPRD Pematangsiantar, Togar Sitorus tentang pengelolaan dana pendidikan, Samosir menjelaskan, pengelolaan dana BOS dan komite sama sekali tak dicampuri pihak yayasan.

Sabtu (14/3 ) rombongan mengunjungi SMA Negeri 1 Matauli. Di sekolah yang digagas tokoh nasional asal Tapteng, Jenderal Feisal Tanjung dan Ir. Akbar Tanjung. Mereka mendapatkan penjelasan tentang profil sekolah, dari Kepala Sekolah, Murdianto S.Pd, MM dan wakilnya Iso Suwarso mengatakan, sekolah yang berdiri sejak 1994 ini, melakukan seleksi penerimaan siswa baru dengan sistem testing, baik kemampuan akademik, psikotes, kesehatan maupun kesempatan yang dilakukan Tim Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta.

Untuk menentukan kelas unggulan pada tahap awal, katanya, digunakan hasil seleksi apakah siswa cocok di kelas A, B, atau C. Fasilitas yang diberikan untuk kelas unggulan diasramakan sehingga dapat dibina secara khusus usai pulang sekolah. Kelas A, biaya seluruh siswa ditanggung pihak yayasan, kelas B setengahnya dan kelas C sebagian.

Penilaian dilakukan secara berkesinambungan, dengan ketentuan jika ada siswa dari kelas A yang prestasinya tak mencapai target, bisa diturunkan ke kelas B atau kelas C dengan sanksi fasilitas dicabut. Sebaliknya dari kelas B dan C boleh naik ke kelas A jika prestasinya meningkat. “Hal ini kami lakukan agar seluruh siswa berpacu meraih dan mempertahankan prestasinya,”kata Iso Suwarso.

Sama seperti SMA N 2 Balige, sekolah ini juga mengasuh lebih banyak siswa yang non asrama. Secara khusus, sekolah yang mengikat kerjasama dengan banyak lembaga di dalam dan luar negeri ini, memberikan bea siswa kepada 30 orang siswa yang berasal dari Tapanuli Tengah. Meski tidak di asrama, prestasi siswa yang tidak masuk dalam kelas unggulan sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda karena diajar oleh guru yang sama dan kurikulumnya juga sama.

Rombongan memberikan cenderamata kepada pimpinan sekolah serta berkenan melihat-lihat lokasi dan fasilitas belajar yang ada di lahan seluar 14 hektare. (tps)

()

Baca Juga

Rekomendasi