Oleh: Saurma.
Ada suatu masa dimana kita tidak mampu lagi menahan amarah. Saat itu, kita seperti mendadak sudah tiba di puncak kemarahan sehingga amarah kita demikian membara. Semua kekecewaan, kekesalan dan ketidaksenangan ingin kita luapkan saat itu juga. Apapun, sepertinya tidak akan mampu menghentikan kita untuk meredam kemarahan itu. Padahal, setelahnya, bisa saja kemudian kita akan menyesali semua sikap, perkataan dan perbuatan kita dalam meluapkan kemarahan itu. Lantas bagaimana sebaiknya?
Marah adalah suatu ekspresi normal yang muncul saat kita merasa tidak senang atas apa yang sedang kita hadapi. Apakah sikap, perkataan hingga perbuatan seseorang terhadap kita serta kondisi yang terjadi, yang di luar dari harapan kita. Semua itu bisa saja membuat kita menjadi kesal dan langsung menampilkan kemarahan kita. Secara umum penyebab suatu kemarahan ditandai dengan rasa kecewa yang mendalam terhadap seseorang, kelompok, lembaga, ataupun sebuah situasi yang di luar dugaan kita. Kekecewaan itu dapat berarti bahwa ada hal yang tidak sinkron antara realita dengan pemikiran dan harapan kita.
Kemarahan itu sendiri terbagi atas kemarahan yang diungkapkan dan kemarahan dalam diam. Pada kemarahan yang diungkapkan tentu saja dapat langsung diketahui sebab hal itu dinyatakan. Ada beberapa tanda kemarahan yang umum kita lihat, seperti suara yang keras, mata melotot, sikap gusar, gaya menantang serta tindakan marah dengan menggebrak barang di sekitarnya hingga tindakan lain yang lebih mengancam dan juga ucapan-ucapan mengancam.
Sementara kemarahan dalam diam bisa saja tidak terdeteksi karena memang tidak selalu memunculkan tanda-tanda kemarahan. Orang yang demikian ini bisa saja merasa tidak perlu menunjukkan kemarahannya karena merasa akan percuma saja sebab tidak akan diperdulikan. Ia sudah menghitung lebih dulu bahwa sia-sia saja dia meneriaki orang yang telah membuatnya marah karena orang itu punya kekuasaan yang lebih tinggi dan keras kepala serta mudah emosional pula. Jangan-jangan ia malah dapat tekanan. Atau ia tidak ingin memiliki konflik dengan orang lain sehingga walaupun kesal tapi ia berusaha untuk bisa tetap menahan diri. Tetapi pada beberapa kasus orang seperti ini tidak jarang menjadi dendam dan menyimpan kemarahannya untuk diluapkan kemudian. Hal ini sering kali menjadi suatu amarah yang membara dan harus diwaspadai.
Pengalaman Marah
Setiap orang tentu memiliki pengalaman dalam marah. Bahkan bayi berumur beberapa bulan sudah dapat mengekspresikan kemarahannya, apakah dengan jeritan ataupun tangisan, saat ada hal yang tidak menyenangkan baginya. Apakah kesal karena badannya tidak enak sebab kepanasan, basah ataupun juga karena kedinginan. Demikian pula remaja, orang dewasa hingga para lanjut usia. Ada banyak cara yang ditunjukkan setiap orang pada level itu ketika ia marah. Sehingga pengalaman marah menjadi pengalaman yang umum bagi setiap orang karena tidak pernah ada jaminan semua situasi yang dialami seseorang akan selalu menyenangkan.
Pengalaman marah ini ada yang biasa saja tetapi ada pula yang luar biasa sehingga dapat mengakibatkan kita terlibat dengan dunia hukum. Apakah karena kemarahan yang dipancing si penyebab kita marah. Atau memang kita sudah di ambang batas sabar sehingga dengan cepat kemarahan itu meluap sehingga tanpa sadar kita sudah merusak sesuatu dan menyakiti seseorang. Dari sinilah kemudian kita akan menerima akibat dari kemarahan itu.
Hukuman
Setiap tindakan yang melanggar hukum tentu akan mendapat sanksi hukum pula. Kemarahan yang demikian membara memang sering membuat kita meledak-ledak serta lupa diri dan situasi. Apalagi jika kemarahan itu didukung oleh orang lain dan kelompok kita, maka kemarahan itu semakin tersulut dan membuat kita lebih yakin dengan kemarahan kita dan melampiaskannya.
Kemarahan itu tentu membuat orang yang kita marahi menjadi tersudut atau malah semakin galak karena tidak terima dengan kemarahan kita itu. Ia tentu berusaha membela diri dan menyatakan bahwa dirinya tidak layak menerima kemarahan kita. Jika kita tidak memberi kesempatan sedikit saja baginya untuk memberi penjelasan terkait kemarahan kita maka sudah dapat dipastikan kita akan terus mengumbar kemarahan.
Akibatnya, ketika kemarahan telah usai dan mendadak ada seseorang datang dan menjelaskan kepada kita bahwa orang yang kita marah itu ternyata tidak bersalah, tentu sangat memalukan bagi kita. Apalagi ketika kemudian kita menyadari bahwa telah terjadi kesalahpahaman antara kita dengan orang yang kita marah, dimana orang itu justru telah berupaya menyelamatkan kita, tentu tak terkira sesal di dada kita. Hanya karena kemarahan yang meluap, kita justru telah menyerang orang yang seharusnya kita haturkan terima kasih.
Kalau saja kemarahan kita tepat sasaran, tentu kita merasa baik-baik saja dan menganggap bahwa kemarahan kita itu wajar. Tidak perlu ada yang kita sesali, apalagi jika orang yang kita marahi kemudian menyadari kesalahannya dan berubah sikap. Sangat penting memang untuk memberi kesadaran, meski harus dengan sedikit kemarahan. Tetapi kemarahan yang terlalu tentu akan membawa pada penyesalan kemudian. Sehingga, alangkah bijaksana kalau kita memilih lebih dulu memikirkan bentuk kemarahan yang tepat untuk kekecewaan yang kita rasakan sehingga hasil akhirnya adalah perubahan sikap dari seseorang yang kita marahi itu. Dengan demikian, kita tidak perlu menampilkan aksi marah yang membara sebab kemarahan demikian juga seringkali memutus kompromi diantara kita sehingga bisa berlarut-larut dan tidak mencapai apa yanb me jadi keinginan utama dari kemarahan kia itu, yaitu : perubahan sikap. Sekedar renungan di hari Minggu yang indah ini.










