Hujan Bulan Juni;

Stereotip pada Tuan Penyair

Oleh: Sartika Sari.

Puisi itu clairvoyant!” pungkas dosen muda di Antropologi FISIP Universitas Indonesia itu. Dalam kesibukannya melakukan penelitian di berbagai wilayah, Sarwono, tak pernah menghentikan perdebatan dengan pemikirannya sendiri tentang apa pun. Termasuk mengenai cinta. Karakternya diperkuat dalam banyak narasi. Salah satunya, Dia percaya pada teori yang menjelaskan bahwa inti kehidupan itu komunikasi dan komunikasi itu inti kehidupan. Puisi itu komunikasi dan komunikasi itu shaman. Shaman itu medium. Karenanya puisi itu medium. Keyakinan tersebut kemudian mendarah daging dan menjadi dasar pemikiran sebagian besar tindakan Sarwono.

Ketika puisinya Hujan Bulan Juni, terbit di surat kabar dan ditertawakan oleh seorang tukang becak karena dianggap tak masuk akal. Pada hari itu juga tiba-tiba hujan turun, Sarwono semakin yakin pada kekuatan puisi. Memang, menurut teori, bulan Juni termasuk musim kemarau, jadi tidak ada hujan. Juni tidak bisa dipisahkan dari bedhidhing. Tidak ada awan di langit, belum ada polusi. Kalau siang panas minta ampun, tetapi kalau malam panas bumi membubung ke batas atmosfir dan dunia ini ditinggalkan dalam keadaan kedinginan.

Kenyataannya, ada hujan di bulan Juni. Apa yang tertulis dalam puisi Sarwono terjadi. Hal itu membuat Sarwono semakin yakin, seandainya dukun zadul memang benar memiliki kekuatan. Puisi yang ditulisnya itu jelas melampaui kekuatan segenap dukun yang pernah, masih, dan akan ada di mana saja di dunia ini.

Selain sebagai penyair, Sarwono terkenal sebagai peneliti handal. Beragam polemik masyarakat Indonesia menjadi bahan penelitiannya, bisa dikerjakan dengan baik. Pekerjaan itu juga pada akhirnya menempah mental lelaki yang sangat gemar menulis puisi itu menjadi sosok yang tenang. Terbiasa beradaptasi dengan suasana apa pun.

Karakter Sarwono cenderung anti mainstream. Jika dalam kehidupan sehari-hari, pada umumnya, laki-laki dikenal sebagai sosok yang agresif dalam merealisasikan keinginannya, Sarwono tidak demikian. Lelaki asli Jawa itu, tergolong sebagai lelaki idealis. Lebih senang berpetualang dengan pemikirannya sendiri dan sangat meminimalisir pendengaran atas ucapan orang lain. Termasuk perihal kehidupan asmaranya.

Di usia yang terbilang siap menikah, Sarwono masih saja lebih senang bergerak pelan mendekati Pingkan. Gadis campuran Jawa dan Menado, merupakan adik dari Toar, sahabatnya.

Sarwono yang menjadi sentral dalam Hujan Bulan Juni (HBJ) sangat menyatu dengan puisi. Apapun dalam hidupnya senantiasa bermuara pada puisi. Cukup sulit bagi Sarwono memiliki medium lain untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Cuma puisi. Karakter Sarwono yang demikian nyeni dengan puisi tentu saja dengan sangat mudah mengingatkan pembaca pada sosok penulis HBJ yang juga seorang penyair. Dugaan ini diperkuat dengan penggambaran sosok Sarwono yang secara fisik, tinggi semampai dan kurus, mirip dengan Sapardi Djoko Damono.

Setidaknya, petunjuk-petunjuk yang diberi dalam novel yang terbit pada tahun 2015 itu dapat digunakan untuk memperkuat dugaan serupa dari Ratna (dalam Albertine, 2010:54). Pengarang hidup di tengah-tengah masyarakat dan pengarang juga menciptakan karya sastranya termasuk tokoh yang ada di dalamnya. Tokoh yang diciptakan secara tidak sadar oleh pengarang, memiliki muatan kejiwaan yang timbul dari proyeksi pelaku yang ada dalam masyarakat.

Tentu saja yang akan dipersoalkan bukan sebatas bagaimana HBJ mampu mencerminkan sosok pengarangnya. Penyentralan seorang Sarwono sebagai penyair, menjadi salah satu titik yang menarik untuk dibincangkan. Di tengah masyarakat, stereotip yang melekat pada penyair adalah orang yang suka menghayal, menciptakan kehidupan sendiri dan cenderung lebih senang melepaskan diri dari keramaian. Dalam HBJ, kenyataan itu disebut cengeng oleh Pingkan. Walaupun ketika stereotip ini dikembalikan pada para penyair laki-laki, sebagian besar dari yang bersangkutan justru menolak dan mencari-cari alasan.

Karakter yang melekat pada diri penyair -dalam hal ini diwakili oleh Sarwono- salah satunya tersurat dalam petikan, Sepanjang pesta kecil-kecilan itu Sarwono membayangkan tampang Pingkan ketika memanggilnya “Kang Serba Ada”. Moga-moga si Semprul cantik itu tahu, aku mengharapkannya datang, katanya dalam hati.

Begitu sebagian besar yang Sarwono lakukan. Untuk keinginannya, dia tidak lantas buru-buru meluapkan pada dunia. Dia lebih sering menyimpan, berharap dalam diam dan menuliskannya pada puisi. Seperti yang dilakukannya pula dalam petikan, Tanpa aku kirim pun, karena puisi itu shaman tentu pesannya sudah sampai ke Kyoto. Dia merasa puas dengan pernyataannya sendiri, ketika dia begitu menginginkan Pingkan membaca sajaknya.

Pemuda yang menggilai musik jazz; Charlie Byrd, Concierto Williams dan The Swan versi Bob James adaptasi yang dicuplik Le Carnaval des animaux karya Camille Saint itu punya pemikiran sendiri tentang cinta. Da yakin, Pingkan adalah takdir dan bukan sekadar nasib. Takdir tidak bisa diubah, katanya selalu kepada dirinya sendiri. Nasib tergantung kepada usaha manusia. Dia merasa tidak pernah berusaha, tetapi dianugerahi oleh Sing Ngecet Lombok, begitu orang Jawa menyebut Tuhan.

Dialaminya selama ini dari hubungannya dengan Pingkan ditafsirkannya sebagai amanat yang jatuh begitu saja dari langit ketika pertama kali dia melihat gadis itu. Meski dia dan Pingkan jelas berbeda. Bagi Sarwono asli keturunan Jawa, Pingkan merupakan bagian dari Pelenkahu dianggap Wong Sabrang.

Dalam pewayangan ksatria sabrang mempunyai punakawan Togog dan mBilung, bukan Semar sekeluarga. Mereka liyan-meliyankan tetapi pada kenyataannya semuanya termasuk trah Punakawan - seandainya ada istilah itu.

Di kelir wayang kulit, mereka olok-mengolok tanpa pernah bertengkar. Selain itu, Sarwono dan Pingkan berbeda kepercayaan. Sarwono tidak ingin kisruh. Bagaimanapun dia yakin bisa memberikan jawaban dalam puisi yang ditulisnya. Meskipun jawaban itu berupa pertanyaan. Da tidak ingin tergesa-gesa melakukan blokade atau semacamnya.

Saat Pingkan merupakan dosen muda di UI harus melanjutkan studi ke Jepang, Sarwono tetap berusaha tenang dan teguh pada keputusannya untuk tidak turut, meski Pingkan telah mengajaknya untuk menikah di Kyoto. Dia benar-benar tidak ingin hidup di tempat asing. Oleh karena itu, sejak kepergian Pingkan dan diam-diam Sarwono jatuh sakit. Da meyakinkan dirinya sendiri. Dia harus berusaha sebaik-baiknya melupakan Pingkan, tetapi tidak untuk melepaskannya. Dia hanya menitipkan sebuah sajak pendek untuk gadis yang dia cintai itu.

Tiga Sajak Kecil; …kita tak akan pernah bertemu: aku dalam dirimu/tiadakah pilihan kecuali di situ?

Kali ini tidak ada hujan, tetapi dalam narasi, membawa Sarwono dan Pingkan pada perpisahan, agaknya rentang waktu itu adalah Juni pula. Hujan kali ini adalah hujan yang turun dari kelopak mata dan hati Pingkan, ketika melihat tubuh lelaki yang dia cintai terbaring lemas, dalam keadaan kritis. Sarwono sudah memilih diam dan hanya bicara melalui puisi, menutup seluruh polemik tentang dirinya, tentang Hujan Bulan Juni dengan sebuah papan polos. Tanpa lukisan, tanpa warna, tanpa ukiran kesan mendalam untuk orang di sekitarnya, untuk para pembaca.

Penulis; Mahasiswa Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

()

Baca Juga

Rekomendasi