Oleh: dr. Melissa Edelweishia
Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia dan dijumpai hampir di seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh parasit yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak menginfeksi manusia dan hewan peliharaan.
Infeksi oleh toxoplasma ini bisa menyerang siapa saja, mulai anak-anak sampai orang dewasa, baik pria maupun wanita.
Toxoplasmosis sering menimbulkan berbagai masalah kesuburan (fertilitas) pada wanita dan pria sehingga menyebabkan sulit terjadinya kehamilan. Apabila infeksi terjadi pada ibu hamil maka akibatnya sangat fatal, dapat menyebabkan keguguran maupun mengancam keselamatan janin yang akan dilahirkan nanti.
Penularan dan Gejala
Parasit toxoplasma biasanya hidup di dalam usus hewan peliharaan rumah seperti anjing, kucing, tikus, burung atau ayam dan binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing, domba sehingga penularan dari hewan kepada manusia mudah sekali baik melalui interaksi secara langsung dengan manusia, dikonsumsi ataupun melalui kotoran yang mengandung parasit tersebut. Walaupun sering terjadi pada hewan-hewan yang disebutkan di atas penyakit toxoplasmosis ini paling sering dijumpai pada kucing dan anjing. Kotoran yang mengandung parasit toxoplasma juga bisa mencemari tanah, sehingga bisa mencemari sayuran yang tumbuh di tanah. Kotoran hewan yang terinfeksi bisa terbang terbawa bersama lalat, serangga atau burung dan menempel pada makanan, kemudian makanan tersebut masuk ke dalam mulut manusia dan hidup dalam darah manusia.
Bila parasit ini menginfeksi wanita hamil maka janin dalam kandungan juga akan beresiko terinfeksi dan menimbulkan berbagai kecacatan pada anak setelah dilahirkan, baik fisik maupun mental. Penularan toxoplasmosis bukan dari orang ke orang. Transmisi atau cara penularan pada manusia biasanya melalui rute oral, melalui konsumsi daging mentah/kurang matang, buah/sayur mentah yang tidak dicuci bersih, kontak dengan benda yang tercemar, terinfeksi dari ibu ke janin melalui transplasental. Secara garis besar manusia dapat terkena infeksi parasit ini dengan dua cara yaitu didapat (acquired toxoplasmosis) maupun diperoleh semenjak dalam kandungan (congenital toxoplasmosis).
Gejala yang timbul pada infeksi toksoplasma tidak khas, sehingga penderita sering tidak menyadari bahwa dirinya telah terkena infeksi. Gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati) terutama di leher, yang dapat disertai demam, kaku leher, nyeri otot, nyeri sendi, dan ruam pada kulit. Sedangkan gejala pada penyakit toxoplasmosis kongenital biasanya ditandai dengan gejala kinis infeksi retina (korioretinitis),mikrosefalus atau hidrosefalus, anemia, kejang, pembengkakan kelenjar air liur, muntah, bisul-bisul di kulit, radang paru-paru, diare, demam, kulit kuning dan pengapuran dalam tengkorak. Gejala-gejala tersebut umumnya tampak setelah bayi berusia satu tahun atau lebih dan bila tidak ditangani akan berlanjut dengan kejang-kejang serta keterlambatan pertumbuhan fisik dan mental pada usia selanjutnya, sehingga saat ini telah terlambat untuk menyembuhkan penyakit secara tuntas.
Cara Diagnosis
Diagnosis toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi toxoplasmosis adalah dengan pemeriksaan darah di laboratorium untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma. Selain hal tersebut diagnosa pada prenatal dapat dilakukan dengan deteksi adanya parasit di dalam darah janin atau cairan amnion, adanya dokumentasi/riwayat Toxoplasma IgM dan IgA dalam darah janin/bayi.
Wanita hamil yang sudah positif terinfeksi toxoplasma sebaiknya juga dilakukan pemeriksaan ultrasonografi, cairan amnion untuk pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) dan atau dikultur pada kehamilan 18-20 minggu. Hal tersebut nantinya dapat digunakan untuk mendeteksi apakah ada kelainan pada janin yang dikandung sehingga bisa segera diberikan penanganan yang tepat.
Tidak semua ibu hamil yang terinfeksi toxsoplasma akan menularkan toxoplasma bawaan pada bayinya. Bila dalam pemeriksaan ibu sebelum hamil menunjukkan IgG positif terhadap toksoplasma, berarti ibu tersebut terinfeksi sudah lama, tetapi bukan berarti bahwa 100% bayinya akan bebas dari toxoplasma bawaan. Apabila pemeriksaan serologis baru dilakukan pada saat hamil, maka :
1. bila IgG (+) dan IgM (-); dianggap sebagai infeksi lama dan risiko janinnya terinfeksi cukup rendah sehingga ada sebagian pakar yang berpendapat tidak perlu diobati, kecuali jika pasien itu mengidap gangguan imunitas.
2. bila IgG (+) dan IgM (+); uji perlu diulang lagi 3 minggu kemudian. Bila titer IgG tidak meningkat maka dianggap infeksi terjadi sebelum kehamilan dan risiko untuk janinnya cukup rendah, sedangkan jika titer IgG meningkat 4 kali lipat dan IgM tetap positif maka ini berarti bahwa telah terjadi infeksi baru dan janin sangat berisiko mengalami toxoplasma bawaan atau terjadi keguguran.
3. bila IgG (-) dan IgM (-), bukan berarti terbebas dari toksoplasma bawaan, justru pada ibu ini pemeriksaan harus diulang setiap 2-3 bulan untuk mencegah perubahan negatif menjadi positif.
4. Bila pada ibu hamil ditemukan IgM (+), pengobatan sudah pasti harus diberikan dan pemeriksaan ultrasonografi dilakukan berulang kali untuk menentukan adanya kelainan janin.
Setelah bayi lahir juga perlu dilakukan pemeriksaan lengkap terhadap bayi, antara lain pengambilan darah tali pusat ketika bayi baru saja lahir untuk pemeriksaan serologis antibodi janin atau isolasi toxoplasma gondii, pemeriksaan titik-cahaya mata (funduskopi), dan USG atau foto rontgen tengkorak. Diagnosis toxoplasma bawaan pada bayi lebih sukar ditetapkan karena gejala klinis dari infeksi toksoplasma bawaan sangat beraneka ragam dan seringkali subklinis (tidak terlihat) pada bayi baru lahir. Oleh karena itu perlu dilakukan juga pemeriksaan serologis pada neonatus, terutama bila diketahui ibunya terinfeksi selama kehamilan.
Pengobatan
Untuk mengendalikan infeksi yang persisten ini, umumnya diperlukan reaksi kekebalan tubuh yang memadai. Penderita toksoplasmosis dengan sistem imun yang normal tidak memerlukan pengobatan, kecuali ada gejala-gejala yang berat atau berkelanjutan. Toksoplasmosis pada ibu hamil perlu diobati untuk menghindari toksoplasmosis kongenital pada bayi.
Obat-obat yang dapat digunakan untuk ibu hamil adalah spiramisin, azithromisin atau klindamisin yang terbagi dalam 3-4 dosis tanpa memandang umur kehamilan, dan bila mengharuskan maka dapat diberikan dalam bentuk kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin setelah umur kehamilan di atas 16 minggu. Namun obat-obatan tersebut seringkali menimbulkan efek mual, muntah dan nyeri perut sehingga perlu disiasati dengan meminum obat- obatan tersebut sesudah atau pada waktu makan.
Pencegahan
Pencegahan merupakan faktor utama dalam mengurangi kejadian toxoplasmosis pada manusia. Cara yang paling efektif adalah dengan sebisa mungkin menghindari hal-hal yang bisa menyebabkan terinfeksi toxoplasma dan perilaku hidup bersih sangat dibutuhkan. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pencegahan primer dan pencegahan sekunder.
Pencegahan primer
Beberapa cara yang dapat dilakukan seperti:
1. Hindari mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang, serta buah dan sayuran yang belum dicuci.
2. Hindari mengosok mata atau menyentuh muka ketika sedang menyiapkan makanan.
3. Cuci alas memotong, piring, serta alat memasak lainnya dengan air panas dan berbusa setelah kontak dengan daging mentah.
4. Masak air sampai mendidih serta hindari meminum susu yang belum dipasteurisasi.
5. Sedapat mungkin kendalikan serangga-serangga yang dapat menyebarkan kotoran hewan seperti lalat dan kecoa.
6. Jika Anda memiliki hewan peliharaan seperti kucing atau anjing, jangan biarkan berkeliaran di luar rumah yang memperbesar kemungkinan kontak dengan toxoplasma.
7. Mintalah anggota keluarga lain untuk membantu saat membersihkan hewan peliharaan termasuk memandikan, mencuci kandang, dan tempat makannya.
8. Beri makan hewan peliharaan dengan makanan yang sudah dimasak dengan baik.
9. Lakukan pemeriksaan berkala terhadap kesehatan hewan peliharaan.
10. Gunakan sarung tangan plastik ketika anda harus membersihkan kotoran hewan peliharaan.
11. Cuci tangan sebelum makan dan setelah kontak dengan daging mentah, tanah atau hewan peliharaan.
12. Gunakan sarung tangan plastik saat berkebun terutama jika terdapat luka pada tangan.
Pencegahan sekunder (serological screening)
Selain itu pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan sebelum merencanakan kehamilan. Hal ini penting untuk mengidentifikasi wanita sebelum ataupun selama hamil terhadap adanya infeksi toxoplasma gondii dan jika ditemukan janin terinfeksi pada pemeriksaan saat hamil, kemungkinan terapi lanjutan terhadap janin yang dikandung perlu didiskusikan dengan pasien. Ibu dan suami perlu tahu adanya risiko termasuk adanya risiko terhadap janin yang dikandung. Selama masa kehamilan, pastikan juga agar memeriksakan kandungan secara rutin dan teratur.











