Oleh: Syawaluddin Sembiring
Kaki tua Marina menyeret jalan bebatuan yang kasar untuk sampai ke rumahnya sambil membopong sebuah cangkul. Setiap hari dia menghabiskan waktu dengan berladang. Apa saja yang bisa tumbuh ditanam olehnya. Matanya sudah sendu, air wajahnya benar-benar menggambarkan rasa lelah mendalam. Perempuan renta itu tinggal bersama seorang anak perempuannya, Menda. Anak lelaki satu-satunya, merantau ke kota besar dan sudah lima tahun belakangan tidak pernah pulang ke kampung ini. Menurut cerita didengarnya dari anak tetangga yang merantau ke kota mengatakan, anak lelakinya telah menjadi seorang dokter.
“Tidak sia-sia aku menjual serantai tanah yang ditinggalkan oleh bapakmu,” batin Marina. Marina selalu menangis, jika membayangkan kegagahan anaknya ketika memakai seragam dokter. Semenjak suaminya meninggal, Marina memang menjadi tulang punggung, sebab itu dia bekerja diladang, memupuk semua tanamannya. Kelak, ketika musim panen tiba, dia dapat menjual hasil panennya untuk membiayai sekolah anaknya. Suaminya sudah meninggal tiga tahun lalu, terkena serangan stroke. Marina bekerja sendiri untuk membiayai kebutuhan ekonomi keluarganya.
Setiba di rumah, Menda menyambut kepulangan mamaknya. Diambilnya cangkul yang dibopong mamaknya, dibawanya masuk ke belakang. Dia pun keluar membawa segelas air hangat.
“Kapan abangmu pulang ya, rindu nian rasanya hati mamak ini.” Kata Marina pada Menda yang duduk disebelahnya. Perlahan diminumnya air hangat itu. Anak perempuannya mendengus pelan, sambil memandangi wajah mamaknya yang semakin renta.
“Janganlah mamak pikirkan, pulangnya abang nanti. Kalau terus mamak pikirkan, sakit mamak nanti.” Menda memijat sebelah kaki Marina yang terselonjor di atas bale-bale.
Marina meneteskan airmata. Wajah anak lelakinya bermain-main nakal dalam benaknya. Perempuan renta itu kembali mengingat semua kenangan masa kecil anak lelakinya itu.
Anak lelaki kebanggaan bapaknya. Setiap hari membantu bapak membelah pinang. Tidak jarang juga membantu mamak di ladang. Dia anak yang selalu cemas, jika mamak ataupun bapaknya jatuh sakit. Itulah mengapa dia selalu berkeinginan menjadi dokter, agar dapat merawat mamak dan bapak.
Kenyataannya berbeda, anak lelakinya itu seolah telah melupakan mamaknya, pergi tanpa kembali. Bahkan kabarpun harus Marina yang mencari tau. Marina selalu menemui anak-anak tetangga yang baru pulang dari kota. Dia menanyakan kabar anaknya, apakah dia sehat, apakah dia berkecukupan. Marina memang sangat menyayangi anaknya itu.
Selepas maghrib, Menda pulang dari masjid. Dia bercerita pada mamaknya mengenai kupu-kupu yang datang dan terbang di salah satu rumah warga. Warga yang rumahnya di datangi kupu-kupu pun sangat senang. Mereka percaya, kupu-kupu adalah sebuah pertanda langkah. Mereka mempercayai, kupu-kupu adalah simbol kedatangan. Biasanya setiap rumah didatangi seekor kupu-kupu, akan kedatangan seorang tamu. Bisa saja tamu jauh atau kerabat yang rumahnya ada di luar kampung.
“Benarnya itu?” tanya Marina dengan sangat antusias pada anak perempuannya. Menda meletakkan mukenahnya di atas meja di dalam kamar, lalu duduk disebelah mamaknya yang duduk di atas ranjang.
“Orang kampung mulai mempercayainya, Mak.”
“Kalau kupu-kupu itu datang ke rumah kita, bisa abangmu pulang?” kedua mata Marina mengikat pandangan Menda. Sekejap anak perempuannya itu merasa terenyuh, benar-benar diramuk rindu mamaknya itu.
“Aku tidak bisa meng-iya-kannya, Mak. Biar Tuhan sajalah yang membawa langkah abang pulang.” Menda merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu memejamkan matanya. Dalam doa dia memanggil abangnya, agar hilang rindu yang menyandra hati Marina.
* * *
Pagi-pagi sekali Marina sudah menyiapkan sarapan untuk Menda sebelum berangkat ke kantor kepala desa. Menda bekerja disana, sebagai petugas yang selalu bekerja di depan komputer. Wajah lelah yang dilihatnya kemarin sore, pagi ini tidak terlihat lagi. Mamaknya itu terlihat segar, bahkan dia tidak mengunyah sirih pagi ini. Sungguh hal berbeda. Biasanya sarapan pagi Marina, mengunyah sirih. Agak siangan baru dia menyantap makanan yang dimasaknya. Tanpa bertanya apa-apa, Menda segera pergi ke kantor kepala desa, meninggalkan mamaknya seorang diri.
Di kantor kepala desa, cerita yang di dengar Menda selepas shalat maghrib tadi malam menjadi topik pembicaraan hangat. Menurut cerita mereka, pak kepala desa didatangi istri mudanya. Sebelumnya, dua hari yang lalu, kupu-kupu bersayap pelangi telah mendatangi rumah kepala desa. Dipikir istrinya bakalan ada saudara mereka yang akan datang. Ternyata istri muda pak kepala desa yang datang. Menda hanya tersenyum saja mendengar cerita itu. Dia bukan orang yang suka bergosip atau pun mendengar gossip.
Di kantor kepala desa, pikirannya terus mengingat Marina. Dia mulai menaruh curiga pada mamaknya itu. Apa mungkin Marina akan menyusul anak lelakinya ke kota? Ah, itu terlalu jauh. Bahkan untuk menjual hasil panen ke tengkulak saja Marina tidak berani seorang diri. Katanya sawit-sawit yang menjadi tiang jalanan membuatnya takut. Mana mungkin pula dia dapat pergi jauh dari itu. Perlu diantisipasi juga, jika seseorang sudah merasa nekat, apapun yang tidak mungkin bisa saja menjadi mungkin. Sudahlah. Semua itu hanya praduga yang dibisikkan oleh setan saja.
Hari ini Menda pulang cepat. Pak kepala desa tidak datang. Beberapa temannya memilih jalan-jalan ke pajak rabu, namun Menda memilih pulang. Dia mencemaskan mamaknya. Dengan cepat Menda berjalan. Langkahnya membawa dia ke ladang yang biasa di datangi mamaknya. Napasnya sedikit memburu, karena dia sedikit berlari tadi. Setibanya di ladang, tidak di dapatinya mamaknya.
Marina tidak ada disana. Ladang terlihat sangat sepi. Dugaannya saat di kantor tadi muncul kembali. Apa mungkin Marina memang benar-benar pergi ke kota demi mencari anaknya? Menda tidak mau mempercayainya seratus persen. Dia kembali ke rumah, pikirannya sudah tidak tenang.
Menda merasa lega saat melihat mamaknya sedang duduk di sebuah bangku kayu di halaman rumah mereka. Marina sedang menanam sesuatu. Entah apa.
“Tidak ke ladang mamak rupanya, ya?” ucap Menda sedikit kesal. Dia mendekati bale-bale yang biasa diduduki mamak sepulang dari ladang. Bale-bale yang memang sengaja ditaruh di depan rumah.
“Sudah mamak titipkan ladang ke Parlan,” Marina memberitahu anaknya.
“Iya, kesana aku tadi. Bingung aku tak ada mamak disana.”
“Kenapa kau susul aku kesana?”
“Tidak apa-apa, Mak. Apa yang mamak tanam di halaman rumah kita? Tidak cukup ladang kita itu Mak?”
“Di ladang tidak mungkin menanam bunga. Mamak menanam bunga ini biar rumah kita terlihat berwarna,” jelas Marina.
“Bukannya mamak tidak suka dengan bunga? Apa yang terjadi, Mak?” Menda menodong Marina dengan sebuah keyakinan. Marina menghentikan aktifitas tanam-menanamnya. Dia terlihat merenung sejenak. Menda masih menunggu jawaban dari Marina.
“Biar banyak kupu-kupu yang datang ke rumah kita,” Marina mengucapkannya dengan nada lirih. Menda menghela napas mendengarnya.
“Tidak perlu itu, Mak. Jangan mamak racuni pikiran mamak itu. Sakit mamak nanti!” Menda mencoba menenangkan Marina.
“Biar pulang abangmu.”
* * *
Setiap hari ada saja warga yang bercerita perihal kedatangan kupu-kupu ke rumah mereka. Marina hanya dapat mendengarnya saja. Hanya rumahnya sajalah yang belum sekalipun didatangi kupu-kupu. Hatinya mulai merana. Bunga-bunga itu memberi harapan besar padanya. Marina selalu pergi dari kerumunan cerita warga mengenai kupu-kupu itu. Dia tidak sanggup, dia ingin selalu menangis. Dia semakin tidak berdaya.
Sore ini senja tidak terlihat di langit. Hujan turun sangat deras. Marina duduk termenung di depan jendela. Dia memangdangi bunga-bungan yang mulai bermekaran di halaman rumahnya. Cantik sekali. Banyak jenis bunga disana, warnanya pun macam-macam. Selama bunga-bunga itu bermekaran, tidak ada satupun kupu-kupu yang hinggap disana. Setiap hari hanya ada lebah yang mengerumuni bunga-bunga. Menda mendekati mamaknya, dia membawa segelas air jahe untuk menghangatkan tubuh ringkih mamaknya.
“Apa sudah tidak suka lagi kupu-kupu dengan bunga-bunga?” tanya Marina dengan polos.
“Kenapa mamak ngomong begitu?”
“Tak ada satupun kupu-kupu datang ke rumah kita. Bagaimana abangmu akan pulang?” keluhnya.
“Percayakan semuanya kepada Tuhan. Tutuplah jendela itu Mak. Air tempiasnya sedaritadi mengenai muka mamak.” Menda mencoba untuk menutup jendela.
“Jangan kau tutup. Biarkan aku menikmatinya. Tidak apa-apa wajahku basah.”
Mendengarnya Menda menjadi rapuh. Dipeluknya Marina dengan begitu kuat. Dia menangis sambil memeluk mamaknya. Menda menangis tersedu-sedu, betapa tidak kuasanya dia membiarkan mamaknya menanggung rindu sedalam itu.
“Oh abang, pulanglah kau. Lihatlah mamak yang selalu merindukanmu. Siang-malam dia memikirkanmu. Lupakah kau dengan semua kenanganmu? Lupakah kau dengan mamak dan tanah kelahiranmu?” batin Menda. Dia terus menangis dan mamak menutup kedua matanya, tubuhnya pun menjadi lemas.
* * *
Sudah seminggu Marina terbaring lemah di atas tempat tidur. Badanya terasa tidak kuat untuk berdiri, suhu tubuhnya juga makin panas. Menda sangat mengkhawatirkan keadaan mamaknya itu. Kata dokter, jika sampai sepuluh hari tidak baik juga, Marina harus dibawa ke rumah sakit di kota.
Dengan penuh perhatian, Menda merawat Marina. Dia menangis, mamaknya semakin tidak berdaya. Malam semakin larut, Menda sudah tertidur, suasana benar-benar hening. Marina bangkit dari tidurnya. Dia keluar dari dalam kamar, duduk di ruang tamu. Kedua matanya terlihat cekung, dia sangat ringkih. Beberapakali dia terbatuk dan membetulkan posisi baju hangat lusuh yang dipakainya. Marina membuka pintu rumah, bunga-bungan itu menyambut pandangannya dengan bahagia. Marina terjebak pada bunga-bunga itu.
“Mengapa mamak buka pintu itu?” tanya Menda saat keluar dari dalam kamar. Dia menggulung rambut panjangnya. Matanya











