Oleh: Ana Lydia
JAJARAN cemara di samping panti asuhan itu masih berdiri kukuh. Agatha tidak tahu, apakah cemara-cemara itu masih cemara yang sama atau sudah ganti yang baru. Dulu, ia selalu memandang jajaran cemara itu dari jendela kamarnya atau dari aula panti bersama seorang bocah bermata coklat dengan sorot mata teduh. Entah mengapa, sejak awal ia masuk panti ini, ia lebih suka memanggilnya El. Nama sebenarnya Yoel.
Menurut cerita Bunda Beth, El sudah tinggal di panti ini sejak bayi. Orangtuanya meninggalkannya di depan panti. Saat Bunda Beth menemukannya, umur El baru satu minggu; dari secarik data yang diselipkan di pakaian El. Tragis memang! Mungkin karena itu pula, El tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tertutup. Mungkin El merasa tak pernah diharapkan atau dicintai orangtuanya.
Meski samar, Agatha pun masih ingat, kapan ia masuk panti asuhan ini. Ketika itu usianya masih enam tahun. Kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat menuju ke Medan. Karena tak ada pihak keluarga yang bisa dihubungi, ia diserahkan ke panti asuhan. Itulah awal perkenalannya dengan El.
Semula Agatha tak terlalu mengenal El karena El jarang berkumpul bersama teman-teman panti lainnya. Ia hanya bertemu El saat sarapan, makan siang dan makan malam saja. Dan Agatha tak akan mengenal El lebih dekat lagi seandainya mereka tak menyukai hal yang sama: memandangi miliaran jarum langit saat gerimis turun. Saat itu, saat memandang gerimis, saat-saat yang indah dan menyenangkan buatnya dan El.
“Bunda Beth menemukan aku terbaring di depan panti ketika gerimis,” ujar El suatu hari, mengungkapkan alasannya mengapa menyukai gerimis. Saat itu, El sudah remaja dan duduk di bangku kelas dua SMP. “Kalau kamu?” El melirik Agatha sekilas.
“Aku nggak tahu. Aku hanya merasa menyukai gerimis saja. Saat gerimis udara terasa sejuk. Dan aku suka melihat orang lalu-lalang atau berlari kecil di bawah gerimis.”
El tertawa tanpa suara mendengar jawaban Agatha yang menurutnya konyol.
“Kalau saat gerimis itu Bunda tak keluar dan melihatku, mana mungkin aku bisa kenal kamu,” El menatapnya dengan pijar mata yang sulit disembunyikan.
Saat itu, entah mengapa perasaan Agatha serasa meluap. Wajahnya memanas tiba-tiba. Agatha setahun di atas El dan selama ini hubungannya dengan El lebih pada hubungan persaudaraan sebagai sesama penghuni panti. Karena Bunda Beth mengatakan mereka yang ada di sini adalah saudara dan harus saling mengasihi dan melindungi. Itu adalah gemuruh pertama di hati Agatha sejak ia mengenalnya selama sembilan tahun. Dan sejak itu, mereka lebih sering melewatkan waktu bersama.
El memang sosok pendiam dan sulit bergaul dengan teman-teman cowok lainnya, baik di sekolah maupun di panti. Meski El bukan cowok bodoh, namun ia cenderung tak suka memerhatikan pelajaran saat guru sedang menerangkan. Dia lebih banyak melamun atau bengong dengan pikiran mengembara jauh entah ke mana sehingga tak jarang mendapat teguran atau lemparan kapur dari guru. Dan hal itu yang kerap membuat Bunda Beth dipanggil ke sekolah.
Yang membuat Agatha sering takjub dan berbinar-binar adalah kesigapan El yang selalu setia menantinya di gerbang sekolah begitu jam sekolah berakhir.
“Kamu nggak bosan nungguin aku setiap hari, El?” Agatha setengah mengolok dengan senyum tipis di bibir.
“Jadi kamu bosan dong kalau aku tungguin setiap hari?”
“Siapa bilang?” elak Agatha, cepat.
El tersenyum lebar dengan mata mengerjap. Jawaban Agatha selalu membuatnya senang. Mereka pun lebih suka pulang sekolah bersama dengan berjalan kaki. Uangnya buat ditabung, jawab mereka kompak setiap Bunda Beth bertanya.
Bagi Agatha, El adalah sosok yang bisa membuat perasaannya nyaman dan hangat, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bersama El, ia bisa berbagi banyak hal. Agatha tak merasa menjadi orang yang malang lagi karena tak punya siapa-siapa. Perasaan senasib telah menyatukan mereka. Ia merasa bersyukur walau Tuhan telah mengambil orang terkasih dari hidupnya, tapi ia masih menerima dan memiliki banyak cinta dari Bunda Beth, pengurus panti lainnya dan saudara-saudara sesama penghuni panti.
Dulu, ia dan El begitu naif. Mereka menganggap semua akan berjalan sesuai dengan harapan mereka. Tak akan ada yang mengusik dunia kecil yang mereka ciptakan bersama. Hingga pada suatu sore – saat itu gerimis turun– ia dan El seperti biasanya sedang duduk di ambang jendela aula panti asuhan memandangi miliaran jarum langit itu tercurah ke bumi, menyegarkan rerumputan di halaman samping panti dan jajaran cemara yang berdiri kukuh di luar sana. Aroma tanah basah menguar di sekitarnya. Itulah momen terakhir yang melekat kuat di ingatan Agatha. Karena sejak itu, ia tak lagi menemani El memandangi miliaran jarum langit itu tercurah ke bumi serta mendengar impian-impian kecil El saat mereka berbincang di antara irama gerimis. Ia pun tak bisa melihat senyum dan pijar di mata El yang menantinya di gerbang sekolah. Pun genggaman tangan El saat membantunya menyeberangi jalan. Seorang kerabat, yang tak lain dari adik mamanya, yang selama sembilan tahun ini mencarinya dan kehilangan jejaknya akhirnya menemukannya dan berniat menjemputnya untuk tinggal bersama.
Tak ada kebahagiaan yang sempurna. Di balik kebahagiaannya mendapatkan orang terkasih ia harus kehilangan seseorang yang begitu dekat dan menemani hari-harinya selama ini. Perasaan berat dan tak rela berpisah dengan El membuat Agatha tak memberitahukan kepergiannya. Malam itu, ia pergi diam-diam tanpa pamit pada El. Hanya sepucuk surat dan sebuah buku harian yang ia tinggalkan untuk El. Selama ini Agatha selalu mencurahkan isi hatinya di buku itu. Hampir sebagian besar curahan hatinya tentang kebersamaannya dengan El sejak kecil hingga masa remajanya. Agatha tak tahu apakah El akan tersenyum atau menitikkan air mata ketika membaca surat dan buku hariannya. Karena Agatha sendiri merasakan kehilangan yang amat sangat pada awal-awal perpisahan mereka. Ada yang terasa lepas dari jiwanya dan kerap membuatnya menitikkan air mata setiap kali mengenang hari-hari yang mereka jalani selama di panti.
“Terakhir kemari tiga tahun lalu. Sejak kepergianmu, Yoel jadi pendiam seperti dulu,” suara Bunda Beth mengoyak lamunan Agatha yang mengembara jauh, melintasi ruang dan waktu.
“Yoel memang tertutup dan Bunda pun sempat terkejut melihat perubahan sikapnya sejak kalian dekat. Ia begitu bahagia dan terbuka padamu. Satu hal yang Bunda perhatikan dan kerap membuatnya tersenyum adalah saat memandangi gerimis. Ia bisa kerasan menatap keluar jendela seraya mendekap buku pemberianmu,” lanjut Bunda Beth.
“El tak meninggalkan alamat atau nomor telepon, Bun?” Agatha menatap Bunda Beth penuh harap dan perasaan meluap.
Bunda Beth menggeleng. “Dia bilang, dia yang akan menghubungi bila ada sesuatu.”
Agatha terenyak. Tiba-tiba perasaan menyesal dan kecewa berbaur jadi satu. Menyesal karena baru sekarang punya keberanian dan kesempatan mencari El dan kecewa karena orang yang ia harapkan tak meninggalkan jejaknya. Seharusnya sejak dulu ia menghubungi El. Bukankah dalam suratnya ia berjanji untuk berbagi kebahagiaan bila di antara mereka menemukan kebahagiaannya? Seharusnya El ada di sini mendengar apa yang ingin ia ceritakan. Dan ia pun berharap El menemukan kebahagiaannya, seperti janji dan harapan yang sering mereka ucapkan seraya memandangi gerimis bahwa mereka harus bahagia.
“El, kamu di mana? Aku telah menemukan kebahagiaanku. Ada seseorang yang selama ini selalu ada untukku dan membantuku dalam segala hal. Dia seperti kamu, selalu menjaga dan mengasihiku. Aku menemukan sosok kamu padanya. Ia adalah sumber inspirasiku seperti kamu. Tulisan-tulisanku yang tersebar di berbagai media bersumber dari kalian berdua sehingga aku berhasil menjadi penulis yang produktif dan dikenal banyak orang,” bisik Agatha di antara irama gerimis. Agatha tak mampu menahan perasaan dan matanya yang tiba-tiba menghangat. Bayang-bayang Yoel menari-nari di matanya dan kerinduan yang membuncah pada sosok yang pernah begitu dekat dan berarti di hidupnya.
“El, kamu harus bahagia sepertiku.”
Sementara itu, di sebuah kamar kos yang sempit, seorang cowok bermata kuyu, dengan tubuh semakin kurus, pucat dan seperti tak punya gairah hidup duduk termenung dengan pandangan menembus kaca jendela kamar kos yang buram akibat percikan air pada permukaannya. Entah sudah berapa lama ia seperti itu. Ia masih belum bisa melepaskan sosoknya. Seseorang yang pernah menjadi sumber kekuatan dan kebahgiaan dalam hidupnya. Meski ia tahu gadis itu tak ditakdirkan untuknya.
Selepas SMA ia pergi ke Bandung untuk bekerja. Namun, harapan terbesarnya adalah bisa bertemu Agatha. Perlu waktu dua tahun untuk bisa menemukan Agatha. Sayangnya, ia tak punya keberanian untuk menemuinya atau menampakkan diri di hadapan Agatha. Agatha yang ia lihat saat itu serasa tak terjangkau olehnya. Seolah ada jarak yang terurai di antara mereka. Apalagi setelah ia melihat gadis itu selalu didampingi seorang cowok yang kerap mengantar-jemputnya kuliah setiap kali ia memerhatikannya dari jauh.
Ia tak pandai bergaul. Selalu menyendiri dan tak pandai bicara. Sejak kecil ia adalah pribadi yang rapuh dan kesepian, sebelum seorang gadis kecil bermata segaris itu masuk dalam kehidupannya. Tapi, ia pernah merasakan sebuah dunia lain yang membuatnya tersenyum, tertawa dan mau membuka diri. Dan ketika sumber dari kekuatan dan kebahagiaan itu terenggut darinya, ia merasa hidup tak lagi punya arti. Ia mulai berkenalan dengan obat-obat terlarang. Dari sekadar mencoba-coba hingga akhirnya menemukan ketenangan dan kebahagiaan sesaat darinya.
Saat kesadarannya datang, satu yang selalu ia rindukan: gerimis. Ia yakin, bahwa dengan memandang miliaran jarum langit yang tercurah ke bumi, kerinduannya akan sosok yang pernah lekat di hari-harinya, yang memberikan saat-saat manis dan membahagiakan dalam hidupnya dapat terobati. Ia merasa bahagia hidup dari bayang-bayang masa lalu.
* April 2015
* Alamat penulis: Taman Firdaus E-9 Pakuhaji, Ngamprah, Bandung Barat 40552










