Oleh: Syafitri Tambunan
PAGAR beton didominasi nuansa hijau, merah dan biru, dengan ornamen-ornamen lukis yang artistik. Pagar besi yang ada di balik temboknya pun dibentuk secara khusus, tidak seperti kebanyakan pagar modern. Ini merupakan bagian tampak luar dari Kuil Shri Mariamman Binjai.
Sekilas, corak warna yang beragam itu tidak memperlihatkan identitas bangunan religi. Padahal, Kuil Hindu Tamil ini merupakan area religi yang situasinya selalu khidmat. Setiap Jumat, aktivitas kerohanian umat Hindu Tamil, terlihat di kuil tersebut. Tidak jarang, umat lain juga berkunjung dan berdoa di tempat itu sebagai rasa syukur dan takjub menyaksikan kekokohan bangunan lebih seabad itu.
Bukan hanya kuliner, artefak-artefak bangunan bersejarah seperti itu membuat Kota Binjai semakin spesial. Jika berkunjung ke 'Kota Rambutan' itu, persis di pertigaan Jalan A Yani, Binjai, maka akan terlihat bangunan multiwarna yang menarik pandangan mata.
Kuil Shri Mariamman itu dirawat sejumlah pengurusnya, yang dipimpin ketua dan wakil, Ir M Raj Kumar dan dr. M Nehru, MKes. Sekretaris dan wakil sekretaris, R Bala Murli, ST dan N Aditya Pratama, SE, serta bendahara dan wakil bendahara, S Siwa Kumar, SSos dan A Jenty.
Beberapa hal mengenai keunikan kuil lawas yang tetap tampak kekinian itu, menjadi saksi sejarah yang terjadi di Binjai selama kurun waktu 136 tahun. ini. Bangunan di atas area 3.545 meter kubik itu, didirikan pada 1880, setahun lebih tua dibanding Kuil Shri Mariamman yang ada di Jalan Zainul Arifin Medan.
Kompleks area kuil itu sebagai tanda perjalanan panjang umat Hindu Tamil di Kota Binjai. Muttu Kapitan, orang yang berinisiatif membangun kuil tertua di Sumut itu. Mengedepankan pendekatan diri kepada Tuhan secara khusyuk, bangunan itu akhirnya didirikan. Tepat setelah Sultan Langkat, kala itu memberikan setapak tanah sebagai ucapan terima kasih kepada etnis Tamil. Dalam literatur yang diberikan pengurus, kuil diartikan sebagai tempat suci atau rumah Tuhan, juga sering disebut Aalayam (tempat bersemadi/suci) atau ‘Aa’, singkatan dari atma (jiwa) dan layam (bersamadi).
Secara spesifik, Kuil Shri Mariamman Binjai memiliki beberapa bagian, yakni raaja koburam, thoobi, viamaanam, karprakkiraham, artamandaba, dan maha mandhabam. Raaja koburam atau thoola linggam merupakan bagian yang paling penting, letaknya di atas pintu utama. Sisi ini dianalogikan sebagai bagian tubuh manusia yakni kepala. Thoobi atau khalsam, letaknya pada puncak (bubungan) di atas vinaanam.
Kemudian shanidanem merupakan ruangan yang ada di hadapan vinaanam, di bagian inilah para pendeta berdiri melaksanakan upacara. Berikutnya, mahandabam, sebuah ruangan yang ada di hadapan Shanidanem, digunakan umat yang datang bersembahyang. Lalu, vahanam, yakni wahana dewa, letaknya di hadapan shanidanem. Tiap arca suci utama memiliki wahana masing-masing.
Terdapat arca beberapa guru suci di tempat-tempat tertentu, seperti Thirunyanasambadar, Thirunawakarashar, Sundara Moorthy Swamial Manika Wasagar, dan guru-guru suci lainnya. Di samping vigraram utama (arca suci utama) Utchava Murthy, diletakkan di suatu bagian kuil Vigraham. Vigraham tersebut biasanya dibuat dari panca logam (campuran 5 macam logam) yang khusus dilakukan setiap tahun untuk upacara-upacara khusus pula (diarak mengelilingi kuil).
Arsitektur Khusus
Kuil tersebut dibangun berarsitektural khusus dan khas. Bangunannya ditopang empat pilar sebagai ciri khasnya, yang tidak pernah ada di Kuil Hindu Tamil lainnya di Sumut.
Kekhususan lainnya, di area halaman terdapat sumur yang usianya sama dengan kuil itu. Hingga kini sumur yang tidak pernah kering itu, masih menjadi sumber mata air bagi pengunjung kuil sekaligus warga sekitarnya.
Kehadiran sumur itu bermakna penting bahwa kehidupan manusia semestinya harus lengkap, antara jiwa dan raga, begitu juga sumber air yang menjadi sumber kehidupan manusia. Selain itu, terdapat sebatang pohon tua yang dikelilingi pagar khusus, yang usianya juga nyaris sama dengan kuil tersebut.
Sebuah lonceng tua warisan zaman colonial, masih terjaga dan disimpan di bagian inti kuil. Pada 1931, kuil itu sempat dipugar oleh Annamalai Kapitan agar menambah nilai estetika bangunannya. Kehadiran watte namaya atau aula, persis di samping bangunan inti, sebagai tempat persinggahan dan istirahat, menambah nilai sendiri bagi kuil itu.
Arsitektur kuil itu, juga mengisyaratkan terjadinya akulturasi budaya tempatan dan pendatang, seperti adanya ornamen Melayu pada bagian depan dan lampion khas Tionghoa yang tergantung dekat pintu masuk.
Mengusung konsep hijau pada area halaman kuil, memberikan kesan nyaman bagi pengunjung yang datang. Siapa saja boleh berkunjung dan masuk hingga ke bagian inti kuil. Tanpa memberdakan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Untuk menjaga kesucian Kuil, wanita yang sedang Haid dilarang masuk ke bangunan inti kuil.
Aktivitas perayaan dan peringatan tertentu sering diadakan di kuil itu. Seperti belum lama ini digelar Thaipusam. Saat acara itu, kereta kencana pembawa Dewa Muruga yang ada di kuil juga disertakan pada perayaan. Kereta kencana itu menjadi bagian penting pada bangunan kuil tersebut, karena merupakan satu-satunya yang masih menggunakan roda kayu dan belum pernah diganti.
Arsitektur bangunan multiwarna itu tidak hanya berfungsi sebagai area religi, tapi juga wadah edukasi bagi semua orang, khususnya etnis Tamil. Sedangkan bagi warga setempat, keberadaan kuil tua itu menjadi pengingat sejarah panjang kehidupan etnis Tamil di Binjai. Sejak kedatangan, membangun komunitas, hingga berinteraksi sosial dalam kehidupan. Bangunan itu juga menjadi simbol akulturasi, multicultural, serta wujud keharmonisan interaksi sosial etnis-etnis di Sumut, seperti Jawa, Tionghoa, Melayu, Batak, dan Tamil.
(Analisa/syafitri tambunan) PAGAR: Bangunan ini didominasi dengan warna-warna yang cerah terlihat dari bagian pagarnya yang indah.
(Analisa/syafitri tambunan) RUANG DALAM: Ruang dalam di bangunan inti kuil. Bagian dalam terdapat ornamen-ornamen menarik, dengan warna yang terang, serta dilengkapi arca-arca religi yang penting bagi umat.
(Analisa/syafitri tambunan) ATAP: Atap kuil dengan ornamen-ornamen yang menarik.
(Analisa/syafitri tambunan) SUMUR: Sumur tua yang masih berfungsi dengan baik terletak tepat di depan area kuil
(Analisa/syafitri tambunan) BAGIAN DALAM: Tampak seseorang sedang melakukan prosesi doa di bagian dalam di bangunan inti Kuil Shri Mariamman Binjai.
(Analisa/syafitri tambunan) RINDANG: Pohon bunga tanjung yang berusia sama seperti kuil dan masih bertahan sampai sekarang.
(Analisa/syafitri tambunan) ARCA: Arca di bagian luar bangunan inti kuil.










