Mendongeng Tradisi yang Hilang

Oleh: Toba Sastrawan Manik

Dongeng, cerita yang disuguhkan dan dikemas dengan menarik. Mengambil tokoh- tokoh beragam terkadang binatang, alam dan juga sering tentang kisah kerajaan, legenda dan sebagainya. Dongeng jangan disepelekan dalam sebuah tradisi edukasi, media pendidikan di Indonesia yang sudah lama kita kenal secara turun temurun.

Cerita dongeng mengambil tokoh binatang, umumnya digunakan kepada anak-anak. Sangat lucu dan asyik dan tidak lupa menyelipkan nasihat bijak, penting dan berguna bagi anak.

Dengan adanya dongeng, paling tidak anak terlelap tidur, tidak rewel dan manja. Itulah secuil keampuhan mendongeng. Selain itu, mendongeng tidaklah sulit dan memakan waktu banyak. Mudah dilakukan oleh orangtua dan dapat disesuaikan dengan keadaan sianak. Misalnya si anak yang suci bandal, rewel dan nakal diceritakanlah tentang  dongeng tentang Monyet dan sebagainya. 

Mendongeng adalah kebia-saan yang sesungguhnya pernah menjadi kebudayaan di Indo-nesia. Hampir setiap daerah, kebudayaan memiliki dongeng-nya tersendiri. Bukan sekadar menghibur namun juga mendidik, menanamkan akhlak, moral terhadap anak.

Penulis sendiri lahir di abad ke-20 ini pernah mendengar dongeng-dongeng ( tori-torin dalam bahasa Pakpaknya) ketika malam menjelang tidur. Tidak sedikit yang membuat berdecak kagum, sedih dan menjadi pelajaran.

Pertanyaannya, kemana dongeng sekarang? Apakah dongeng sudah hilang tergerus jaman? 

Hanya Dongeng

Dongen memang kerap mengambil cerita diluar nalar manusia seperti hewan berbicara, tumbuhan berbicara dan sebagainya. Justru, karena demikian inilah memang mudah diterima oleh masa per kembangan anak-anak sehingga mudah diterima dan masuk dalam kerangka berpikir. Sebab, justru ketika mengambil cerita- cerita yang penuh dengan logika maka tentu si anak belum sanggup untuk menerima.  Maka cerita dongeng asyik, menarik, mudah diterima dan sesuai dengan perkembangan anak-anak. 

Kita sadari atau bukan banyak cerita-cerita dongeng yang sekalipun jaman kini didominasi oleh rasio, akal atau logika tetap memperoleh makna signifikansinya. Salah satu contoh misalnya ketika para orang-orangtua kita menceritakan pohon besar memiliki penghuninya jadi jangan sembarang ditebang. Sungai ada penghuni, sehingga jangan dikotori dan sebagainya. Nyatanya, dongeng memperoleh kebenarannya sekalipun lewat metode berbeda. Tidak bisa dipungkiri, mendongeng metode alternatif yang diyakini oleh para nenek moyang dalam membentuk karakter terhadap anak. Hal itu bisa kita temukan kebenarannya kekinian dalam beberapa bidang.

Indonesia adalah negara memiliki banyak kebudayaan, adat istiadat yang juga memiliki cerita-cerita dongengnya tersendiri. Mendongeng seharusnya bagian yang tidak terpisahkan dalam kebudayaan kita dalam sebuah usaha pendidikan karakter. Mendongeng kini perlahan-lahan menghilang dari masyarakat. Dongeng-dongeng mendidik kini kalah. Tergantikan berbagai siaran televisi yang sesungguhnya bobot nilainya bisa dipastikan lebih mengutamakan pada sensional. Penampilan dan cerita-cerita yang ngawur dan ngelantur. Hasilnya bisa kita lihat generasi-generasi hasil didikan dongeng dalam keluarga dengan generasi-generasi akibat mengkonsumsi tayangan-tayangan televisi. Sangat jauh berbeda dan bahkan menurun secara kualitas moral. 

Dongeng sebagai Pendidikan Karakter

Dongeng sering mengajarkan karakter-karakter yang seyogyanya dimiliki seorang anak. Misalnya Kancil ditokohkan sebagai binatang yang cerdik dan bijak. Ular yang licik, monyet yang rakus dan masih banyak penokohan hewan lainnya. Diupayaka sedemikian, sehingga cerita bisa diterima seorang anak dalam tahap perkembangan. Dapat dikatakan, dongeng adalah upaya pertama dan utama, diterima anak dalam keluarga dalam mengenalkan dan mengajarkan karakter terhadap anak.

Jika kita telusuri secara lebih mendalam, mendongeng sebuah pendidikan karakter dalam keluarga. Hal ini mendapat signifikasinya ketika dilakukan terhadap dalam tahap perkembangan awal. Dalam masa tabula rasa sehingga karakter- karakter yang diceritakan dan diperankan mudah diterima oleh anak.

Sebagai sebuah pendidikan karaker dalam keluarga, mendongen adalah kegiatan yang seyogyanya dihidupkan kembali. Tentu dengan pengemasan berbagai bentuk dan adopsi hal-hal lebih sesuai dengan tuntutan jaman. Selain sebuah upaya pendidikan karakter, dongengan yang diberikan orang tua terhadap anak secara psikologis juga mempererat hubungan kasih sayang anak dan orangtua. Membuka keterbukaan antara anak dan orang tua. Muara dari mendongeng adalah mampu mencegah, melindungi anak dari pengaruh-pengaruh arus lingkungan, masyarakat bahkan arus globalisasi.

Dongen bukan berarti cerita yang dongeng belaka tanpa makna, kata yang bisa dicerna, cerita diatas awan. Dongeng adalah cara mendidik karakter yang diupayakan dan disesuaikan dengan perkembangan seorang anak. Tidak bisa kita dipungkiri, beberapa karakter hingga hari ini bertahan tidak lain adalah kita terima dari dongeng-dongengan para terdahulu. Mendongeng umumnya kegiatan dalam keluarga. Keluarga menjadi garis terdepan dalam mendidik karakter anak. Dongeng sebuah upaya, senantiasa harus dihidupkan kembali sebagai upaya pendidikan koginitif, afektif yang bermuara pada psikomotorik anak.

()

Baca Juga

Rekomendasi