Oleh: Celvin Angkasa, S. Ked
Kata apendisitis tentu masih sangat asing di telinga kita. Namun bagaimana kalau usus buntu? Tentu dari cukup sering mendengar dan sangat lumrah dengan kata itu. Setiap manusia memiliki usus buntu. Apakah anda tahu sebenarnya usus buntu itu apa?
Usus buntu atau yang dalam bahasa kedokteran dikenal dengan sebutan appendix vermiformis ini terletak tepatnya di bagian perut kanan bawah, dan termasuk dalam bagian dari usus besar kita dengan ukuran kira-kira 10 cm. Fungsi usus buntu itu sebenarnya masih belum diketahui secara pasti, namun beberapa ahli mengungkapkan appendix memiliki peran membentuk antibody tubuh dalam jumlah yang sedikit.
Maka dari itu banyak di antara kita yang takut apakah dalam operasi pengangkatan usus buntu akan berpengaruh atau tidak pada pembentukan antibody tubuh kita? Jawabannya tentu saja berpengaruh karena alasan di atas, namun pengaruh yang ditimbulkan akan sangat minim.
Usus buntu yang sering kita dengar dari orang-orang yang mengalami rasa sakit (usus buntu). Sebenarnya terjadi peradangan ataupun infeksi usus buntu yang lebih sering disebut dalam dunia kedokteran apendisitis.
Apendisitis adalah peradangan maupun infeksi pada appendix vermiformis (usus buntu) yang biasa ditandai dengan gejala khas demam, dan nyeri yang sangat pada daerah perut bagian bawah (McBurney’s point).
Apendisitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Berbagai hal yang berperan dalam mencetuskan terjadinya infeksi bakteri pada usus buntu adalah terjadi penyumbatan di bagian appendix itu sendiri karena timbunan feses yang keras (fekalit), tumor pada appendix, cacing, penyebab lain yang diduga juga dapat menyebabkan apendisitis adalah luka pada dinding appendix karena parasit E. histolytica.
Berdasarkan penelitian, ditemukan bahwa peranan kebiasaan makanan rendah serat (kurang mengkonsumsi sayur-sayuran) dan pengaruh konstipasi dapat menimbulkan terjadinya konstipasi. Karena konstipasi akan menyebabkan sisa makanan menumpuk di dalam tubuh dan tidak dikeluarkan, maka sisa makanan yang menumpuk di dalam tubuh ini akan menekan organ-organ sekitarnya terutama organ appendix (usus buntu) sehingga appendix tertekan dan tersumbat, jika hal ini terjadi terus-menerus maka akan mempermudah bakteri untuk berkembang biak di appendix dan menyebabkan apendisitis.
Kasus apendisitis lebih tinggi di negara maju dibandingkan dengan negara berkembang, hal ini mungkin disebabkan pola makan. Namun dalam 30-40 tahun terakhir kejadian apendisitis di negara maju menurun secara drastis. Apendisitis ini merupakan keadaan emergency. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan insiden apendisitis di dunia mencapai 7% dari keseluruhan jumlah penduduk didunia. Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari setahun jarang terjadi, insidens tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun, insidens pada pria dengan perbandingan 1,4 lebih banyak dari pada wanita.
Apendisitis (Infeksi Usus Buntu) Ditantai dengan Munculnya Gejala-gejala Seperti Berikut:
1. Nyeri sama-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah ulu hati disekitar pusat. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke bagian perut kanan bawah (McBurney’s point). Disini nyeri dirasa lebih nyata, tajam dan lebih jelas letaknya terutama jika perut bagian kanan bawah ditekan. Kadang tidak ada nyeri pada ulu hati, tetapi terjadi konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya robekan pada apendisitis sehingga menyebabkan infeksi menjadi meluas keseluruh organ perut (perforasi).
2. Nyeri juga dapat semakin dirasakan jika penderita batuk ataupun saat mengedan karena terjadi peningkatan tekanan didalam perut yang menyebabkan appendix yang sudah terinfeksi semakin tertekan sehingga menimbulkan nyeri.
3. Demam, tidak enak badan, nyeri seluruh tubuh, nafsu makan menurun.
4. Gejala apendisitis pada anak tidak spesifik. Pada awalnya, nyeri jarang terjadi. Tidak ada nafsu makan lebih lazim terjadi. Demam tidak terlalu tinggi jika belum terjadi perforasi.. Karena gejala yang tidak khas apendisitis sering baru diketahui setelah terjadi perforasi pada kasus anak.
5. Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosa sehingga tidak dapat ditangani pada waktunya dan menyebakan terjadinya kompliasi. Misalnya pada orang dengan usia lanjut gejalanya sering hanya samar-samar saja sehingga menyebabkan lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosa setelah perforasi.
Penderita apendisitis biasanya juga memerlukan pemeriksaan-pemeriksaan tertentu untuk membantu penegakan diagnosis apendisitis. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:
1. Hitungan darah lengkap
Pada pemeriksaan darah lengkap biasanya ditemukan peningkatan jumlah sel darah putih (leukosit) antara 10. 000-20.000/ml (leukositosis) dimana peningkatan jumlah leukosit menunjukkan adanya proses infeksi atau radang akut didalam tubuh. Namun jika leukosit masih dalam batas normal tidak menutup kemungkinan adanya apendisitis.
2. Pemeriksaan urin
Diperlukan untuk menyingkirkan penyakit lainnya berupa peradangan saluran kemih. Pada pasien wanita, pemeriksaan ini diperlukan untuk menyingkirkan diagnosis kelainan peradangan saluran telur/kista indung telur kanan atau KET (kehamilan di luar kandungan)
3. Apendicogram/radiologi
Pemeriksaan radiologi ini berupa foto barium usus yang dapat membantu melihat apakah ada sumbatan ataupun kotoran yang melekat di daerah appendix.
Pengobatan tunggal terbaik untuk usus buntu yang sudah meradang adalah dengan melakukan operasi untuk membuang usus buntu (operasi appendektomi).
Tujuan dari appendektomi adalah untuk membuang sumber infeksi dan juga mencegah terjadinya penyebaran infeksi bakteri ke organ-organ perut lainnya (perforasi). Banyak masyarakat di Indonesia lebih senang mencari pertolongan alternatif untuk kasus-kasus seperti ini, dan tidak sedikit orang-orang mencari tukang pijat/kusuk untuk meredakan gejala nyeri yang samar pada bagian perut.
Bahkan sering praktisi alternatif tersebut mengatakan bahwa pasien menderita masuk angin sehingga bagian perut yang sakit akhirnya dipijit ataupun dikusuk. Secara teori ilmiah, hal ini akan menyebabkan nyeri semakin bertambah dan yang paling berbahaya dari hal memijat perut pasien infeksi usus buntu adalah terjadinya robekan pada appendix yang sudah terinfeksi sehingga nanah yang sudah mengisi appendix akan keluar dan menyebar ke organ-organ lainnya sehingga menimbulkan infeksi di seluruh organ perut. Hal ini tentu saja sangat berbahaya dan mengancam nyawa penderita apendisitis.
Sering masyarakat awan datang meminta pertolongan ke rumah sakit setelah dikusuk oleh praktisi alternatif, dan pada saat dilakukan operasi ternyata appendix sudah pecah dan infeksi sudah menyebar ke organ-organ perut lainnya. Operasi pengangkatan usus buntu adalah satu-satunya jalan bagi penderita apendisitis untuk mencapai kesembuhan.
Kebanyakan pasien setelah operasi appendektomi sembuh spontan tanpa penyulit, namun komplikasi dapat terjadi apabila pengobatan tertunda atau telah terjadi peritonitis/peradangan di dalam rongga perut. Cepat dan lambatnya penyembuhan setelah operasi usus buntu tergantung dari usia pasien, kondisi, keadaan umum pasien, penyakit penyerta misalnya diabetes mellitus (sakit gula), komplikasi dan keadaan lainya biasanya sembuh antara 10 sampai 28 hari.
Alasan adanya kemungkinan ancaman jiwa dikarenakan peritonitis di dalam rongga perut ini menyebabkan operasi usus buntu akut/emergensi perlu dilakukan secepatnya. Kematian pasien dan komplikasi hebat jarang terjadi karena usus buntu akut. Namun hal ini bisa terjadi bila peritonitis dibiarkan dan tidak diobati secara benar. (Penulis adalah mahasiswa FK-UNPRI)











