Dari Pagelaran Hari Tari Dunia

Dibalik Senyum Para Penari

Oleh: Adelina Savitri Lubis

DARA yang melenggang di pelataran Museum Jalan HM Jhoni Medan terus menyunggingkan senyum. Jari jemari lentiknya me­ngayun-ayun. Juntaian kakinya pun menarik kencang otot pada be­tisnya. Dua bola matanya seakan bicara, menyambut senyuman dari si pemilik lesung pipi di sebelahnya. Tatkala lampu sorot menerpa ke­duanya, tampilan tubuh bercahaya para penari menjadi pelengkap yang manis. Penonton terhibur. Sontak para fotografer dadakan merasa ingin lebih dekat dengan para penari. Kilatan cahaya berebut meng­abadikan para penari. Mereka membungkuk, merapatkan kedua ta­ngan dan menyisakan sebuah senyum.

Tak ada panggung yang megah. Pang­gungnya adalah halaman mu­seum. Tak berbatas dan tak ada bedanya de­ngan pelataran yang diduduki penonton. Properti dan peralatan musik seadanya. Be­berapa potret dan motor tua dihadirkan pada sisi kanan halaman museum. Persis di sisi kanan, sebuah stand minuman dihadirkan. Dua hari yang lalu, izin mempergunakan halaman museum baru diajukan. Syukurnya langsung disetujui. Pagelaran kesenian yang dilangsung­kan merupakan sebuah apresiasi para pegiat seni, dalam mempe­ringati Hari Tari Sedunia dan Hari Puisi Nasional pada 29 April lalu.

Pukul 21.00, jumlah penonton yang hadir semakin banyak. Ruang ba­tas halaman antara panggung dan penonton pun kian sempit. Me­nariknya pertunjukan tari yang ditampilkan semakin ghaib. Meski samar terdengar, malam itu bibir-bibir penonton saling berdecak. Me­reka kagum. Malah ada yang tidak tahu tentang tarian itu. Tari apa itu? Benarkah berasal dari Sumut? Seorang pemuda 20 tahun melontarkan pertanyaan itu kepada teman di sam­pingnya. Saat itu panggung halaman sedang menampilkan tari pesta panen dan tari nelayan asal Simalungun dan Karo.  Mahasiswa Hukum UISU itu lan­tas geleng-geleng kepala. “Ihh keren kali ya woi,” bilangnya.

Apresiasi Sanggar Kesenian

Setidaknya sebanyak 36 sanggar tari di Sumatera Utara (Sumut) dan para pe­nyair terlibat dalam kegiatan ini. Salah satunya adalah sanggar tari Sinar Budaya Group. Stage Manager Sinar Buda­ya Group, Yulandana menuturkan partisipasi yang mereka lakukan pada ke­giatan kesenian 29 April lalu itu sebagai bentuk apresiasi da­lam konteks Hari Tari Dunia dan Hari Puisi Nasional.

“Kami mempersembahkan tari me­d­ley untuk menunjukkan kon­sep tiap daerah. Ingin mengedepankan di Sumut memiliki banyak etnik,” katanya kepada Analisa.

Menurutnya tari yang mereka persembahkan pada kegiatan itu mewa­kili beberapa etnik, dimulai dari etnik Dairi, Simalungun dan et­nik Karo. Puncaknya adalah persembahan tari me­layu. Prinsipnya tari itu dilakoni oleh banyak penari. Namun malam itu Sinar Budaya Group hanya mampu mempersembahkan lakon tari dengaan jumlah penari yang terbatas. Itulah meng­apa mereka memilih tarian medley, menggabungkan semua jenis tari dae­rah di dalam satu per­tun­jukkan.

Diungkapkannya pada dasarnya tari itu menceritakan sesuatu. Tarian-tarian yang mereka bawakan pun tak lepas dari pesan yang ingin disampaikan. Yulanda bilang dalam tarian itu, mereka ber­cerita tentang pesta panen, pesta buah, pergaulan dan para nelayan. Ketiganya cukup kental dengan situasi dan keadaan di Sumut. Apalagi etnis me­layu yang akrab dengan daerah pesisirnya. Menariknya gerak-gerik tari yang mereka bawakan lekat dengan sentuhan-sentuhan modern. Hal ini pun tak dipungkirinya.

“Mari kita lihat dari konteks acara­nya. Hari Tari Dunia. Artinya kami dibebaskan untuk berkreasi. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada juga sanggar yang membawa tarian tardisi murni. Bagi kami menari adalah menghibur, jadi apa gunanya kami mem­berikan hiburan, tapi yang dihibur malah tak terhibur, hehehe,” sahutnya terkekeh.

Menurut Yul, filosofinya budaya itu mengakar pada zaman. Ar­ti­nya budaya sewaktu-waktu akan berubah. Jika ditampilkan dari sisi tradisi secara keseluruhan, tentu akan banyak kendala di sa­na-sini. Salah satunya sanggar tari ha­rus menggunakan musik yang benar-be­nar tradisi. Kita memang harus memi­lih antara budaya atau tradisi. Kebudayaan bertolak belakang dengan tradisi. Kita tidak akan bisa me­ngubah tradisi, karena itu merupakan warisan dari nenek moyang.

“Kami ingin mencuri fokus; mencuri perhatian dengan menampilkan tarian yang menghibur,” ungkapnya.

Paham Kompetisi

Karena dia yakin pasti ada sanggar tari yang menampilkan pertunjukan tari tradisi. Tentang kesenian di Sumut di­ung­kapkan­nya sebagai pelaku seni, dia sa­ngat menyesalkan situasi dan kea­daan kese­nian di Sumut. Miris. Secara jam terbang, geliat lakon tari dalam dunia kesenian yang dihadapi sanggar tari cukup prihatin.

“Oke diluar sanggar, kita bersaudara. Tatkala berbicara tentang karya kami me­nganut paham kompetisi. Tujuannya ada­lah menjadi yang terbaik. Paling ti­dak memiliki ciri. Hanya saja sisi negatif yang muncul kurangnya perhatian da­ri pemerintah dan masyarakat,” ung­kapnya.

Dia melihat kecenderungan menurunnya apresiasi masyarakat terhadap kesenian. Bahkan diakuinya saat ini merekrut penari saja cukup sulit. Mungkin katanya, pemerintah belum memberikan dukungan yang layak bagi para pelaku kesenian. Terbentuk sejak 1980an. Ruh sanggar ini adalah Me­layu. begitupun tidak menutup kemungkinan jika sanggar tari ini mengajarkan segala jenis tari di Indonesia. Contohnya dalam jadwal latihan malam ini, Selasa (10/5) tatkala diwawancarai Analisa, dijelaskannya jika mereka (penari) saat ini sedang berlatih tari Jawa Kreasi sebagai persiapan menjelang akhir Mei 2015 mendatang.

“Tari dihadirkan untuk menyesuaikan kebutuhan,” tegasnya.

Para staf pengajarnya pun orang-ora­ng­ akademisi dan praktisi. Walaupun dalam praktiknya gerak gerik tari tidak diperoleh dari teori secara tertulis, tapi berdasarkan jam terbang pengalaman. Meskipun ruhnya adalah Melayu, namun sanggar ini tidak membatasi peserta didik beretnis melayu. Selama dia mau menari, belajar menari dan menerima pelatihan yang kami berikan, silahkan saja, tambahnya. Khusus tentang anak-anak, Sinar Budaya Group membuka pelatihan tari di kawasan Sri Gunting. Menurut Yul, animo masyarakat di dae­rah sana sangat tinggi, terutama bagi anak-anak kecil. Gairah atau semangat ingin menari itu disambut dengan membuka sanggar tari setiap Minggunya. Sedangkan bagi peserta didik yang usianya remaja dan dewasa dilangsungkan di Jalan Abdullah Lubis Medan. Semua pelatihan itu dilakukan tanpa dipungut bayaran (gratis).

Sinar Budaya Group berjalan secara mandiri dan diakui Yul, tidak adanya apresiasi dari pemerintah. Begitupun dedikasi Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II, sebagai pelestari budaya leluhur tetap dihormati pemerhati budaya. Saat ini sanggar tari ini dipegang oleh anak perempuan dari Tuanku Luckman Sinar, yakni Mira Sinar. Mereka tidak hanya melakukan pertunjukan seni di Indonesia saja, namun juga mancanegara. Selain negara-negara Asean, India, Qatar, Yaman dan Eropa, juga pernah ditunjuk oleh Alm. Ab­dur­rahman Wahid yang ketika itu menjabat pre­siden RI, untuk mewakili Indonesia pada OPEC Summit di Caracas, Venezuela.

Bahkan Sinar Budaya Group merupakan sanggar seni Indonesia pertama yang pentas di beberapa kota di negara Portugal mem­bawakan tarian etnis yang ada di Indonesia, sekaligus di­nyatakan sebagai bagian dari harmonisasi hubungan bilateral antara Indonesia dan Timor Leste.

Senyum dua dara tadi telah digantikan oleh senyum para penari cilik di halaman panggung. Senyum mereka begitu kembang, tanpa beban. Sementara di balik pohon yang menjulang tinggi itu, Yulanda dan para penarinya saling bertepuk tangan. Puas dalam penampilan yang maksimal. Puluhan mata melihat adegan itu. Tapi tak tampaka mata Gubernur, bukan mata walikota pun bukan mata pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Miris.

()

Baca Juga

Rekomendasi