Oleh: Dr. Muhammad Iqbal, M.Ag.
Dalam satu riwayat dikisahkan, Imam Abu Hanifah, salah seorang Imam mazhab terkenal dalam Islam, ditantang oleh seorang ateis untuk berdebat. Disepakatilah hari, waktu dan tempat untuk perdebatan tersebut. Disepakati pula bahwa perdebatan itu harus disaksikan oleh orang ramai. Si ateis merasa akan dapat mematahkan argumentasi Abu Hanifah kelak dan akan mempermalukannya di depan umum.
Pada hari yang sudah ditentukan, berkumpullah orang-orang untuk menyaksikan perdebatan penting ini. Si ateis tidak mau kehilangan momentum. Ia datang lebih dahulu sebelum Abu Hanifah tiba di lokasi debat. Sepuluh, dua puluh menit hingga hampir satu jam, Abu Hanifah yang ditunggu-tunggu tidak muncul-muncul. Si ateis merasa jemawa dan menganggap Abu Hanifah pengecut, takut kalah berdebat dengannya. Sebagian pengunjung pun mulai bertanya-tanya, mengapa Abu Hanifah tidak kunjung muncul. Apakah ia takut atau bagaimana? Orang-orang yang mendukungnya pun mulai cemas.
Ketika orang-orang akan membubarkan diri, dari kejauhan terlihatlah Abu Hanifah berjalan tergopoh-gopoh.
“Hai, Abu Hanifah, mengapa Anda terlambat dan berjalan tergopoh-gopoh begitu. Apakah Anda takut berdebat dengan saya?” cemooh si ateis.
Dengan tenang Abu Hanifah menjawab, “Maafkan saya, kawan. Tadi saya ketika menuju ke sini melihat suatu kejadian yang aneh. Ketika menyusuri tepi sungai, saya melihat sebuah batang pohon besar tiba-tiba tumbang. Bukan itu saja. Isi batang pohon tersebut terkorek keluar dan tak lama kemudian membentuk perahu. Masih dalam keadaan heran, saya melihat pohon yang sudah menjadi sebuah perahu tadi tiba-tiba bergerak menuju pinggir sungai hingga akhirnya mencapai bibir sungai. Kemudian perahu itu pun berlayar mengikuti arus sungai. Inilah yang membuat saya terlambat ke tempat perdebatan ini.”
Tentu saja si ateis tidak percaya pada “bualan” Abu Hanifah. Ini hanya akal-akalan Abu Hanifah saja. “Anda mengada-ada, Abu Hanifah. Saya tidak percaya apa yang Anda ceritakan itu. Mana mungkin ada pohon yang tiba-tiba tumbang lalu membentuk dirinya menjadi perahu dan kemudian berlayar sendiri menyusuri sungai. Kalau pun pohon itu menjadi perahu, pasti ada ahli perahu yang membuatnya. Kalau pun ia bergerak, pasti ada yang menggerakkannya sehingga bisa berlayar. Anda ngibul, membual,” sergah si ateis sengit. “Saya menganggap Anda sudah hilang akal,” si ateis merasa telah berhasil mempermalukan Abu Hanifah di depan umum.
Abu Hanifah tetap tenang. Setelah puas si ateis menumpahkan kekesalan dan rasa menangnya, ia menjawab. “Wahai kawan, Anda tidak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Lalu, bagaimana mungkin Anda bisa percaya bahwa alam semesta ini tercipta dengan sendirinya, tidak ada yang menciptakan? Coba Anda perhatikan keteraturan alam raya, perputaran bumi mengitari matahari, pergantian siang dan malam membentuk hari merangkai bulan dan tahun. Apakah Anda anggap tidak ada yang menciptakan dan mengaturnya? Apakah Anda berpikir bahwa itu semua hanya kebetulan saja? Lalu coba Anda perhatikan diri Anda sendiri. Apakah Anda menganggap diri Anda lahir ke dunia karena hubungan seksual orang tua Anda belaka. Lalu orang tua Anda ada karena ada nenek dan kakek Anda, dan seterusnya. Apakah semua itu hanya kebetulan? Tidak. Semua itu ada karena ada Allah Yang Maha Mencipta dan Maha Mengaturnya. Kalau Anda tidak percaya cerita saya, maka batallah semua pandangan Anda yang selama ini Anda pertahankan.”
Jawaban Abu Hanifah ini telak mematikan argumentasi si ateis tersebut. Ia pun bungkam tidak mampu berkata-kata lagi.
Dalam Alquran, kelompok ateis seperti lawan debat Abu Hanifah di atas disebut dengan kaum dahriyyîn, kaum naturalis. Dalam surat al-Jâtsiyah ayat 24 Allah mengecam pandangan mereka yang mengatakan bahwa kehidupan ini hanyalah di dunia saja. Bila tiba masanya maka mereka akan menginggalkan panggung kehidupan dunia dan tidak akan ada pertanggunggujawaban kelak di akhirat. “Mereka berkata: Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”
Kisah ini menunjukkan betapa rapuhnya keyakinan orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Ia menganggap semua kehidupan berjalan apa adanya tanpa ada yang mengaturnya. Namun ketika disodorkan kepadanya tentang sesuatu yang tidak masuk akal sebagaimana dalam kisah Abu Hanifah di atas, mereka malah membantahnya. Nah, di sinilah kekeliruan cara berpikir mereka. Dalam manthiq namanya tadhâdhud. Di satu sisi mereka meyakini alam ini terjadi dan berjalan dengan sendirinya tanpa campur tangan Allah yang menciptakan dan mengaturnya. Tapi di sisi lain, mereka menolak peristiwa yang terjadi dengan sendirinya sebagaimana disodorkan Abu Hanifah. Kalau mereka yakin bahwa alam ini tercipta dengan sendirinya, tentu mereka harus yakin pula bahwa pohon pun bisa membentuk perahu dan menyusuri sungai dengan sendirinya tanpa ada campur tangan pihak lain. Atau sebaliknya, kalau si ateis itu menolak pandangan bahwa pohon bisa menjadi perahu dengan sendirinya, tentu dia juga harus menolak keyakinannya bahwa alam tercipta dengan sendirinya.
Tepat sekali kalau ujung ayat 24 di atas ditutup Allah dengan penggalan kalimat, “dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” Artinya, mereka sendiri pun ragu dengan keyakinan ateisme mereka itu.
Jadi, bagaimana pun, keyakinan akan keesaan dan kekuasaan Allah adalah fitrah manusia. Hanya saja, tidak sedikit manusia yang mengingkari fitrahnya.










