Menyentil Imlek Lewat Cerita Pendek

Oleh: J Anto.

MEMAKNAI perayaan Imlek dengan konteks kekinian, tak hanya dilakukan  pegiat kemanusiaan yang menggelar berbagai kegiatan sosial untuk kaum papa. Sejumlah penulis fiksi Tionghoa Medan, ternyata sudah lama menyuarakan pan­dangan kritis mereka lewat karya-karya fiksi, terutama cerita pendek (cerpen). Mereka menuliskan sisi-sisi dari perayaan Imlek agar tak kehilangan subtansinya. Dua di antara penulis fiksi Tionghoa itu, Liven R dan Yusrin Lie.

Liven R (34) tak hanya menulis cerpen, tapi juga puisi dan prosa. Sebagai cer­penis, ia telah menulis tak kurang 52 cerpen sejak karyanya dimuat harian Analisa, 2007. Tentang cerpen dengan tema Imlek, ia mengaku telah menulisnya sejak 2013.

“Itu artinya setiap tahun saya rutin menulis cerpen dengan topik Imlek,” tutur Liven diiringi derai tawanya.  Dari 52 cerpen karyanya, ada 6  cerpen bertema Imlek. Sebagai penulis fiksi, penulis muda yang enggan mengungkapkan tanggal lahirnya di Oktober 1983 itu, memang tak melulu menulis cerpen dengan tema Imlek. 

Ihwal kesukaannya terhadap fiksi, terutama dengan menulis cerpen, Liven punya alasan. Katanya lewat menulis cerpen, ia bebas menjadi siapa saja,  bebas berada dalam ruang mana saja, serta bebas menembus dimensi waktu.

Menulis Saat Galau

Sebagai penulis, ia mengaku sangat tertarik dengan isu-isu humanisme,  hu­bungan antarmanusia, manusia dengan Tuhannya, dan manusia dengan alam.

“Saya menulis ketika saya galau melihat fenomena sosial yang timbul,” katanya. Sebagai orang muda, Liven tentu saja punya idealisme. Ia menginginkan peru­bahan sosial ke arah yang lebih baik. Cara  yang paling tepat dan digaulinya adalah lewat menulis fiksi.  Bisa cerpen, bisa juga puisi atau prosa di surat kabar.

Melalui cerpen atau prosa yang ia tulis, Liven berharap kegelisahannya, aspirasi­nya dapat terserap masyarakat luas, menggugah mereka, atau setidaknya menginspirasi akan sesuatu yang berman­faat.

Khusus tentang cerpen bertema Imlek, Liven pernah menulis cerpen yang mengu­pas bakti anak kepada orangtua yang sudah mulai dilupakan anak muda sekarang. Ada  juga keprihatinannya terhadap orang-orang kecil yang tak bisa merayakan Imlek karena harus berjuang keras menaklukkan kehidupan.

Apa yang mau disampaikan Liven lewat cerpennya itu? “Menyadarkan ketika di antara kita ada yang tenggelam dalam euforia 'merah', ternyata sebagian dari  mereka ada yang melewati Imlek tak lebih dari hari-hari biasa penuh perjuangan. Karena itu, Imlek tak perlu dirayakan secara berlebihan,” ujar Liven yang cerpennya masuk dalam buku antologi Cerpen “Ironi-ironi Kehidupan” terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumut itu.

Untung Rugi

Yusrin Lie, yang dikenal sebagai penulis cerpen bermuatan  kritik sosial-politik, cinta dan budaya Tionghoa, pernah menulis sebuah cerpen berjudul Angpao. Cerpen yang dimuat di harian Analisa itu meng­gambarkan ekses dari pemberian angpao setiap Imlek.

Menurut penulis cerpen dan  puisi yang telah menulis sejak kelas II SMP namun tak pernah punya nyali mengirim ke surat kabar saat itu, pemberian angpao sebe­narnya sebuah  budaya baik dan perlu dilestarikan. Angpao  merupakan ungkapan rasa syukur dari orang yang sudah diberi rezeki oleh Tuhan.

Ungkapan itu diwujudkan dengan berbagi. Saat Imlek, angpao hanya diberi­kan kepada orangtua dan orang-orang yang belum menikah atau  belum berpeng­hasilan.

“Namun kenyataannya  ada orang yang kurang mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan itu, mereka sering menghitung laba-rugi ketika mau ber­kunjung ke rumah famili, sahabat atau kenalan, “ tuturnya.

 Karena perhitungan laba-rugi itu, maka sering beberapa kunjungan persahabatan dan persaudaran dibatalkan.  “Jadi lewat cerpen tersebut, saya ingin mengkritik sikap orang yang kurang mau berbagi. Menurut saya, mereka adalah orang yang kurang mensyukuri nikmat Tuhan.”

Seharusnya, kata Yustin Lie yang belakangan lebih banyak menulis prosa tentang kebudayaan Tionghoa dibanding menulis cerpen itu, semakin banyak harta dan rezeki yang dititipkan Tuhan, maka semakin banyak yang harus dibagikan terhadap sesama yang berkekurangan. Harta itu menurutnya bersifat sementara.

“Membangun jalinan persaudaran dan persahabatan itu jauh lebih penting daripada memperhitungan kerugian sedikit uang,” katanya.

Lalu adakah tanggapan pembaca terha­dap cerpennya?  Menurutnya,  “Redaktur Budaya Analisa pernah bilang ke saya, cerpen itu jadi bahan perbincangan bebe­rapa penulis non-Tionghoa. Mereka jadi tahu ada persoalan dari budaya pemberian angpao dalam perayaan Imlek.”

Yusrin Lie dilahirkan di Pantai Labu, sebuah desa pantai yang kental dengan budaya Melayu. Sebagi penulis cerpen, ia mengaku kurang  produktif. Sampai saat ini, ia baru menghasilkan 30 cerpen.  Bercita-cita menghabiskan masa tuanya di desa kelahirannya dengan berternak dan menulis novel, saat ini Yusrin sedang menulis novel  “Tiga Batang Hio”.

Penulis adalah saksi zamannya. Karya kreatif penulis fiksi, kadang bisa menda­hului zamannya. Simaklah pendapat Liven tentang angpao dan anak muda yang belum menikah tapi sudah punya penghasilan.

"Ketika Imlek tiba, kami bertukar angpao, mendoakan yang tua, mengasihi yang muda. Kalau ini menabrak keperca­yaan yang mengatakan orang yang belum menikah dilarang memberi angpao, maka menurut saya itu tradisi kuno dan pelit," ujar Liven.

Jika seorang anak  telah berpenghasilan, cobalah untuk memberi angpao kepada orangtua atau mereka-mereka yang ditua­kan di keluarga. "Maka  Anda akan segera melihat mentari yang menghangatkan hati pada wajah mereka. Ini menyenangkan," ujar Liven  seperti tengah melantunkan sebaris puisi.

Setuju?

()

Baca Juga

Rekomendasi