Oleh: Isnaini Kharisma
KOTA Medan terkenal dengan multietnis dan menjadikan kota ini berbeda dengan kota lainnya. Beragam budaya yang mewarnai, melatarbelakangi kehidupan dan nuansa sejarahnya. Apalagi keberadaannya yang dahulu merupakan perkotaan, yang sengaja dibangun untuk kepentingan perdagangan kolonial Belanda. Sehingga pendatang dari berbagai penjuru negara berkumpul dan berdagang di kota ini.
Begitu banyak warisan budaya yang ada di Kota Medan, di antaranya bangunan tua, ruang publik, taman kota hingga seni budaya. Namun sejumlah aset warisan itu perlahan mulai hilang ataupun dimusnahkan dengan sengaja. Bahkan, jumlah bangunan tua di Medan yang bermuatan sejarah penting, secara perlahan menghilang seiring derap pembangunan fisik kota mengatasnamakan modernisasi.
Kota Medan kini bergeliat mengejar impian agar menjadi kota metropolitan. Pemimpin kota pun mendambakan kota ini menjadi kota besar seperti di negara tetangga. Penghancuran bangunan tua selama ini cenderung untuk mengejar pendapatan asli daerah saja.
Tak heran, kota ini pun tertinggal dalam sistem pengelolaan dan persepsi terhadap heritage (warisan) budaya masyarakat, baik bersifat tangible (kasat mata) maupun intangible (tidak kasat mata). Persepsi tentang pemahaman heritage juga belum singkron. Padahal ini penting agar pemerintah dapat mengambil kebijakan dan menyusun program pelestarian yang bermanfaat untuk jangka panjang, yang nantinya berdampak positif bagi aspek pariwisata.
"Berangkat dari pemikiran itulah, kami ingin menggerakkan anak-anak muda untuk sadar akan warisan yang ada di Kota Medan dan mendirikan komunitas ini," kata Penggagas Medan Heritage Tour, Rizky Syahfitri Nasution.
Medan Heritage Tour merupakan perkumpulan anak muda yang ingin mengajak masyarakat, khususnya penerus bangsa agar lebih peduli dengan warisan di Kota Medan. Untuk kata ‘tour’, memang jarang digunakan, karena nantinya dapat menjadi lembaga yang bisa bekerjasama dengan pemerintah agar mereka juga memiliki city tour Kota Medan.
Dua tahun pertama komunitas ini bergerak, lebih terfokus pada edukasi masyarakat menyangkut hal heritage. Setelah dua tahun, masyarakat sendirilah yang nantinya merasakan hal tersebut.
Aktivitas Medan Heritage dikemas dengan banyak cara. Seperti pergelaran seni, kelas heritage, jalan-jalan heritage, serta mempelajari situs batik atau kerajinan tangan yang dibuat dengan sistem workshop. Selain itu, juga memperkenalkan anak-anak agar mencintai batik dengan cara berbeda atau melibatkan mereka secara langsung dalam mencanting, sehingga paham cara membatik.
"Dari beberapa kegiatan yang kami gelar, maka anak muda Medan yang turut lebih mengetahui secara langsung. Misalnya, mencanting itu ternyata tidak mudah. Makanya pemerintah Indonesia mendaftarkan batik Indonesia ke UNESCO," jelasnya.
Begitu banyak kegiatan yang dapat diikuti masyarakat bersama Medan Heritage. Di antaranya kelas heritage (kelas internal dan kelas eksternal) yang dilakukan setiap bulan. Khusus kelas heritage eksternal, menghadirkan penyaji yang ahli di bidangnya.
"Melalui Medan Heritage, kami ingin terus memberikan kontribusi memajukan warisan yang ada di Kota Medan. Kami juga membuka wawasan anak muda bahwa heritage bukan semata isu bagi orangtua, tapi bagi semua orang dan kita berhak untuk melestarikannya," ujarnya didampingi Irvan Deriza, serta Rudolf Sitorus.
Mereka berharap, Medan Heritage tak hanya sekadar komunitas biasa, tapi dapat menjadi lembaga yang nantinya bisa memiliki city tour.










