Oleh: Theresia Cristine Immanuella Siahaan
Sekarang sudah pukul 12.00 WIB, sudah waktunya pulang sekolah, seluruh siswa meninggalkan kelas dengan riang. Namun tersisa seorang anak laki-laki di dalam kelas, Roland namanya. Ia terlihat murung sejak Bu Rena membagikan hasil ujian matematika. Wajahnya tampak seperti ingin menangis, namun ia menahannya. Tak berapa lama kemudian, dengan langkah yang sangat lambat, Roland bangkit dari tempat duduknya, pergi menuju parkiran dan menjumpai ibunya. Begitu sang ibu melihat anak kesayangannya berjalan ke arahnya, ibunya langsung menyambutnya, “Halo Roland, gimana belajarnya, bisa?” Dengan senyum pura-pura Roland menjawab, “Bisa, Ma.” Kemudian merekapun pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, ibunya menyuruh Roland untuk makan siang, dengan tak bersemangat Roland menghabiskan makanannya. Roland sudah sangat takut kalau ibunya akan menanyakan nilai ulangan matematikanya, tenyata dia selamat, karena ibunya menyuruhnya untuk langsung tidur siang. Namun sebelum tidur siang, ia sempat mengambil kertas ujian matematikanya, dan mengganti angka 2 menjadi angka 9. Selain itu, Roland juga menggantikan beberapa tanda salah menjadi benar, barulah dia tidur.
Pada sore hari, setelah bangun, Roland mandi dan berangkat untuk les. Di tempat les, Bu Leny bertanya, “Bagaimana nilai ujian matematikamu, Roland?” Karena tak berani berbohong, Roland menunjukkan kertas ujiannya, “Dua puluh lima, Bu.”Dengan terkejut gurunya bertanya, “Kok bisa begini? Kemarinkan kita sudah belajar? Ini kenapa kamu ganti-ganti nilainya?” Roland menjawab, “Saya tidak mengerti, Bu. Soal ujiannya susah. Saya takut Mama marah, Bu.” “Ya ampun! Yaudah kamu kerjakan lagi semua soal ujiannya, biar bisa.”Roland menjawab, “Baik, Bu.” Kemudian Bu Leny masuk ke kamarnya dan menelepon ibu Roland untuk memberitahu hasil ujiannya dan memberitahu bahwa Roland mengganti-ganti hasil ujiannya, hal ini dilakukan agar ibu Roland bisa membantu Roland belajar di rumah.
Setelah pulang ke rumah, ibu Roland memanggilnya, “Roland!”, dengan takut bercampur cemas ia menjawab,”Ia, Ma.”Dan ibu berkata, “Sini sebentar, Mama mau ngomong.” Dan Roland pun mendekati ibunya. Ibunya bertanya, “Bagaimana nilai matematikamu?” Roland berbohong, “Bisa, Ma. Nilaiku 95.” Kemudian ibunya menjawab, “Coba Mama lihat.” Dengan menahan tangis Roland berjalan ke kamarnya dan mengambil kertas ujian tersebut, kemudian memberinya pada ibunya. Dengan kecewa ibunya berkata, “Kenapa nilainya bisa begini, Nak?” Karena tak bisa lagi menahan tangisnya, Roland menangis sambil berkata, “Maaf Ma....Soalnya susaaaah, aku gak bisa.” Ibunya berkata, “Ia, Mama maafkan, kok. Tapi kenapa kamu harus berbohong sama Mama? Kamu kan bisa jujur sama Mama.” Roland menjawab, “Aku takut Mama marah.” Ibunya menjawab, “Tapi Mama lebih marah lagi kalau kamu bohong sama Mama.” Dengan memohon Roland memegangi lutut ibunya dan berkata, “Maaf, Ma. Roland janji gak bohong lagi sama Mama.” “Janji ya?” “Ia, Ma.” Lalu ibunya berkata, “Belajar lagi ya, biar nilainya nggak begini lagi.” “Ia, Ma.”Jawab Roland dengan hati yang lega.
Sejak saat itu, Roland semakin rajin belajar, ia juga sering mengajari temannya yang kesusahan di kelas. “Roland, soal ini susah, gimana caranya?” Dengan senang hati Roland menjawab, “Oh, soal itu. Caranya begini...” Rolandpun menjelaskan dengan bergembira, dan tidak ada rasa sombong sama sekali dalam dirinya, ia tetap ramah kepada siapapun. Ia pun tak pernah lagi berbohong kepada orang tua tentang nilainya, karena ia selalu mendapat nilai yang bagus.
Tibalah saatnya pembagian rapor semester, dengan hati yang berbunga-bunga Roland membangunkan kedua orang tuanya, “Ma, Pa, ayo bangun! Hari ini hari penerimaan rapor semester, kita harus ke sekolah!” Kemudian mereka bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, Roland dan orang tuanya menunggu di luar kelas, dan tibalah nama Roland dipanggil oleh Bu Rena, dengan cepat Roland masuk ke dalam ruangan bersama dengan orang tuanya. Mereka duduk berhadapan dengan Bu Rena, kemudian Bu rena berkata, “Nilai Roland semakin bagus Pak, Bu. Dan kalau saya perhatikan, nilainya mulai membaik ketika Roland pernah mendapatkan nilai 25 pada mata pelajaran matematika.” Roland menjawab, “Ia bu, saya sudah janji sama Mama, saya tidak akan berbohong pada Mama, apalagi soal nilai, jadi biar saya nggak bohong sama Mama, saya rajin belajar, Bu.” “Wah! Bagus kalau begitu!”Kata Bu Rena. “Selain itu Pak, Bu, Roland adalah orang yang tanggap terhadap lingkungannya, ia mau membantu temannya yang kesulitan, ia ramah dan rendah hati. Roland, pertahankan sikap baikmu ya, Nak.” “Baik, Bu.”Jawab Roland. Setelah itu, Roland dan keluarganya pulang ke rumah dengan senang hati.
Sesampainya di rumah, ibunya berkata, “Lihatkan, kalau kamu rajin belajar, nilaimu akan baik, dan kamu tidak perlu membohongi Mama.” “Hehehe iya, Ma.” “Oh ia Ma,” lanjut Roland, “aku mau jalan-jalan sebagai hadiah dari prestasiku di sekolah.” “ Mau jalan-jalan kemana?” Tanya ibunya. “Kemana saja yang penting aku bisa bermain-main.” Kemudian ayahnya berkata, “Ya sudah, kita ke Taman Kota, di sana banyak permainan anak-anak, jadi kamu bisa bermain sepuasnya.” “Pa!” Panggil Roland, ayahnya menjawab, “Ya?” “Aku minta hadiah belikan sepeda, boleh?” “Boleh, nanti Papa belikan karena prestasimu sangat membanggakan Papa.” “:Horeeeee!!! Makasih Papa!” “Sama-sama, Nak.”
(SMA Unggul Del)










