Tiga Panah, (Analisa). Pengrajin keranjang bambu di pedesaan Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo memerlukan perhatian dan pembinaan pemerintah agar eksistensinya tetap bertahan. Para pengrajin keranjang bambu kini mulai jarang dijumpai. Hanya segelintir orang yang masih bertahan meneruskan kegiatan itu, sebab usaha ini dianggap tidak menguntungkan.
Padahal, di pasaran keranjang bambu buatan pengrajin Karo, penjualannya cukup baik di pasar. Harga bervariatif mulai Rp15 ribu hingga Rp30 ribu per keranjang.
Keranjang-keranjang ini dipergunakan untuk tempat buah-buah dan lainnya. Secara ekonomi keberadaan keranjang bambu masih diminati pembeli daripada keranjang plastik impor.
Menurut Anjalius Tarigan, pengrajin keranjang bambu di Kecamatan Tiga Panah pada Analisa, Rabu (1/2), pudarnya kerajinan kerajang bambu karena minimnya keuntungan dan tingginya harga bahan baku.
Terlebih lagi, perhatian pemerintah minim, membuat berangsur-angsur pengrajin keranjang bambu meninggalkan profesinya beralih ke pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.
“Bahan baku berupa lembaran bambu harus dibeli dan mengalami kenaikan, harga jual keranjang menjadi Rp12 ribu per unit, pembelian bahan baku Rp3000. Jadi per buah kita dapat Rp 9000.
Satu hari kita bisa hasilkan 5-7 keranjang. Jika keranjang cepat laku, gaji diterima Rp 45 ribu-Rp63 ribu per hitungan. Sementara kebutuhan bahan pokok naik terus, uang dihasilkan dari pembuatan keranjang tidak cukup,” katanya.
Tambah lagi biaya anak sekolah harus terpenuhi, asumsi hasil kerajinan keranjang tidak memiliki prospek karena kurang menguntungkan. Faktor ini yang menyebabkan banyak pengrajin lainnya meninggalkan pekerjaan ini.
Pekerjaan ini, katanya, jadi kegiatan tambahan. Mungkin bila kondisi seperti ini dibiarkan ke depan tidak ada lagi pengrajin keranjang tradisional dan keranjang bambu digantikan keranjang plastik buatan pabrik.
Namun bila pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan UKM memberikan perhatian dan pembinaan, seperti bantuan modal dan harga pembelian didongkrak keranjang bambu dan pengrajin bisa bertahan.
Saat ini permintaan keranjang bambu masih tinggi, harga keranjang diambil agen murah tidak sebanding harga kenaikan pembelian bahan baku, membuat pengrajin makin tersudut, ujarnya.
Diharapkan, para pelaku UKM profesional dan pemerintah bisa memberikan jalan menangani masalah pengrajin keranjang bambu, kata Nasrullah pengrajin lain mengungkapkan. (dik)










