Mengungkap Suku Mante

DALAM dua pekan terakhir, sebuah video yang diunggah di kanal berbagi video YouTube menjadi viral di Indonesia. Video yang diunggah pada 21 Maret 2017 tersebut yang sudah ditonton jutaan kali memperlihatkan penampakan satu sosok yang diduga adalah sosok suku Mante, suku asli pedalaman di Aceh. Adalah sekelompok pemotor trail yang bersua sosok ini. Namun, tidak dijelaskan di daerah mana penampakan tersebut. Wilayahnya disebut-sebut sengaja dirahasiakan untuk menghindari upaya eksploitasi terhadap suku tersebut.

Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, du kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, Kamis (30/3) menyatakan, pihaknya sudah mem­­bentuk tim untuk menelusuri keberadaan suku ter­sebut. Penelusuran ini dilakukan karena terkait dengan ba­nyak sejarah Aceh. Dia sendiri mengaku belum pernah ber­interaksi dengan suku ini. Tapi, berdasarkan penuturan tetua di “Tanah Rencong”, perawakan suku Mante ini ada­lah pendek-pendek, seperti yang terlihat di dalam video tersebut.

Suku Mante memang masih misterius sampai sekarang. Kisah tentang keberadaannya terus hidup di Aceh. Suku ini dipercayai sebagai suku asli di “Serambi Mekkah”. Suku ini diperkirakan tinggal di gua-gua di pegunungan. Wilayah sebarannya sendiri diperkirakan di hutan-hutan yang ada antara lain di Aceh Besar, Pidie, Aceh Timur, Aceh Tenggara.

Misteriusnya keberadaan suku ini, antara lain, seperti dikatakan Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, yang menanggapi fenomena tersebut. Menurutnya, suku Mante selalu menghindar, lari, saat bertemu kita, Homo sapiens. Sehingga, sulit untuk mendeteksi dan mengonfirmasi eksistensinya.

Memang, selama puluhan tahun terakhir, muncul kisah penampakan atau pertemuan beberapa orang dengan sosok suku ini. Sayangnya, kisah tersebut tanpa doku­men­tasi memadai. Baik catatan tertulis, sketsa, atau bahkan gam­bar. Tidak mengherankan jika pada akhirnya selubung misteri atas keberadaan suku asli ini masih begitu kuat. Kita masih meraba-raba untuk membuktikan kebenaran atas ke­beradaan suku ini.

Terlepas dari misteri tersebut, kita patut menghargai upa­ya yang dilakukan Gubernur Zaini Abdullah yang mem­bentuk tim untuk menelusuri keberadaan suku ini. Apalagi, salah satu alasan mendasarnya, adalah untuk menguak seja­rah peradaban manusia di provinsi tersebut. Hara­pan­nya, dengan terungkapnya keberadaan suku Mante ini, akan bisa dipelajari dan dieksplorasi pula berbagai hal ter­kait suku Aceh yang hidup sekarang ini. Misalnya, silsilah ge­netika, perkembangan peradaban, bahasa, dan se­bagainya.

Apalagi, sesungguhnya, soal eksistensi suku Mante ini merupakan salah satu keping sejarah peradaban manusia yang bisa diungkap di Aceh. Sebab, jejak kehidupan manusia pra­sejarah juga sedang dan terus digali seperti di situs Loyang Mendale dan Ujung Karang, Aceh Tengah. Di situs purbakala ini sedang dipelajari kehidupan prasejarah "Orang Gayo". Mungkin akan bisa dipelajari hubungan atau ke­ter­kai­tan di antara keduanya yang jika bisa diungkap tentu akan menjadi lompatan besar bagi sejarah kemanusiaan, baik di Aceh maupun dunia.

Meski demikian, kita berharap dan mewanti-wanti bahwa upa­ya menelusuri keberadaan suku Mante ini jangan dila­ku­kan secara serampangan. Termasuk soal keinginan "me­manusiawikan" mereka sebagaimana kehidupan kita, ma­nusia modern, sekarang ini. Mengungkap keberadaannya ja­n­gan sampai berubah menjadi eksploitasi terhadap me­reka. Ada benarnya pandangan pemilik video yang viral ini yang merahasiakan lokasi perjumpaan itu demi menghindari eks­ploitasi besar-besaran terhadap upaya menelusuri keberadaan suku ini.

Di sisi lain, satu hal yang pasti atas terungkapnya ke­be­radaan suku asli Aceh ini adalah begitu besarnya kekayaan etnis yang dimiliki bangsa ini. Yang sebagian di antaranya ternyata belum terjejaki dengan baik. Bukan tidak mungkin, masih banyak suku asli Indonesia yang juga belum terungkap sebagaimana suku Mante yang tinggal di pedalaman hutan-hutan Indonesia.

Karenanya, fenomena keberadaan suku Mante di Aceh ha­ruslah kita maknai dalam kerangka itu. Bangsa kita berlimpah kekayaan etnis dan seturutnya adalah peradaban. Dari masa ke masa. Kekayaan dan peradaban yang kini merajut kita sebagai sebuah bangsa yang dengan sepenuh kesadaran berpegang pada "Bhinneka Tunggal Ika".

()

Baca Juga

Rekomendasi