Kusuma Wushu Itu Terus Bermekaran

Oleh: J Anto. IBARAT mata air pegunungan yang tak henti mengalir, dari Padepokan Yayasan Kusuma Wushu Indonesia (YKWI) 'berlahiran' atlet-atlet wushu kelas dunia, baik di nomor taolu (atraksi) maupun sanda (tarung). Para pendekar wushu Medan ini telah sering mengibarkan merah-putih di event-event internasional.

Dalam usianya yang menginjak 20-an tahun, padepokan yang lahir dan berkem­bang berkat kecintaan Master Supandi Kusuma terhadap wushu itu, kini tengah melakukan berbagai pembenahan. Muara­nya tak lain menjaga kesinambungan kusuma-kusuma bangsa dalam cabang olahraga (cabor) wushu.

Tubuh mungil Kelly Earlene Irwin (8) melangkah ringan ke tengah matras. Tangan kanannya menggenggam toya. Sejurus kemudian, kaki kirinya tiba-tiba maju selangkah dan ditekuk dengan posisi 90 derajat. Kaki kanannya ditekuk dengan kemiringan sekitar 60 derajat, hingga lurus dengan punggung tubuhnya. Tangan kirinya membuat gerakan memukul ke depan dengan telapak tangan terbuka, sementara tangan kanannya melakukan gerakan menyilangkan toya di belakang punggung.

 Itulah gerakan gong bu tui zhang atau menolak telapak dengan kuda-kuda dalam nomor gunshu atau toya utara, yang memi­liki karakter permainan lincah tapi berte­naga.

Pada kesempatan lain, Kelly melakukan gerakan gai bu ya gun, yakni menekan toya ke bawah, dengan kaki menyilang. Berbagai gerakan yang diperlihatkan pelajar kelas dua SD Sutomo Medan itu, mengundang tepuk tangan dari puluhan orang yang duduk di pinggir lapangan, sekalipun saat mengakhiri demonstrasi, kedua kaki Kelly kemudian keluar dari garis matras.

 Di ruang latih Padepokan YKWI, Jumat (28/4) malam, memang tengah diadakan simulasi kompetisi untuk mereka yang diproyeksikan menjadi atlet andalan YKWI. Layaknya sebuah kompetisi atau kejuaraan, para calon atlet, sebanyak 16 orang, sebelum memulai kompetisi dipanggil satu per satu, lalu beriringan masuk ke tengah lapangan.

Begitu berada di tengah lapangan, mereka melakukan jingli (penghormatan) terhadap empat orang juri, yang duduk di setiap sudut lapangan, yakni Suhendry, Howandy San­toso, Eric Losardi, Fredy, Wijaya, Jodis, dan Sandry Liong.

"Ini pengalaman pertama Kelly ikut simulasi, jadi wajar kalau dia masih grogi. Dia sudah salah berdiri di posisi start, maka keluar garis," ujar pelatih Kelly, Aldy Lukman. Kelly adalah bibit muda baru yang direkrut awal Januari lalu. Bersama 6 orang lain yang berusia puluhan tahun, Kelly paling muda. Mereka  diproyeksikan sebagai  calon tim inti atlet Padepokan YKWI. Ada 31 atlet tengah digembleng secara khusus.

Keempat nomor yang tengah mendapat gemblengan khusus itu, yakni changquanjianshu (pedang), qiangshu (tombak) di bawah bimbingan Suhendry. Lalu chang­quan, daoshu golok, gunshu toya di bawah bimbingan Aldi Lukman. Nanquan di bawah gemblengan Sandry Liong dan taijiquantaijijian dibimbing Dwi Arimbi.

Regenerasi atlet hanya salah satu program untuk menjamin kesinambungan atlet berprestasi yang dilakukan padepokan tersebut. Dibangun oleh Master Supandi Kusuma sejak 1995 dan diresmikan pada 2001 oleh Jendral (Purn TNI) Wismoyo Arismunandar (ketua umum KONI saat itu). Padepokan YKWI adalah wujud rasa cinta dan pengabdian Supandi Kusuma terhadap bangsa dan tanah air. Medianya dengan melatih dan membina puluhan atlet wushu hingga meraih prestasi di tingkat nasional sampai internasional.

Bahkan sejumlah atlet kelas dunia lahir langsung dari tangan dingin Supandi Kusuma. Jainab misalnya, pada 1995 berhasil meraih medali perunggu pada Kejuaraan Duniadi Baltimore, Amerika Serikat. Raihan ini menjadi momen penting dalam sejarah olahraga wushu di tanah air.

Diakui KONI

Kita tahu, PBWI baru resmi dibentuk pada 1992. Itu setelah sekian lama seni beladiri wushu tak boleh diajarkan, dipela­jari, dan dikembangkan secara terbuka di negara kita. Wushu 'dipingit', jika tak disebut didiskriminasi. Penyebabnya politik represi terhadap kebudayaan masyarakat Tionghoa Indonesia di tanah air. Sejumlah praktisi wushu, berlatih secara diam-diam di rumah. Ada juga yang mencari siasat. Misalnya belajar  ke luar negri, seperti yang dilakukan Master Supandi Kusuma. Ia berlatih taiji­quan dari sejumlah master wushu dunia, diantaranya Master Yang Zhen Duo, Chen Fake, dan Chen Xiaowang.

Setelah pulang ke tanah air, ia mende­dikasikan seluruh ilmu beladiri yang diperoleh dengan membuat sebuah pade­pokan. Jainab adalah atlet Indonesia pertama yang langsung dilatihnya sendiri. Keber­hasilan Jainab meraih medali di Kejuaraan Dunia 1995 juga menjadi momen penting bagi sejarah olahraga wushu di tanah air.

"Sejak itu, PBWI secara resmi diakui sebagai anggota KONI dan wushu diakui sebagai salah satu cabang olahraga nasional di negara kita," tutur Supandi Kusuma. Sebelum berangkat ke Baltimore, AS, Ketua Umum KONI, Wismoyo Arismunandar memang membuat tantangan. Jika pada kejuaraan dunia di AS, atlet wushu Indonesia berhasil meraih medali, PBWI akan langsung diakui sebagai anggota KONI.

Setelah Jainab, bintang-bintang wushu terus berlahiran dari Padepokan YKWI. Sebut misalnya Lindswell Kwok, peraih medali emas Kejuaraan Dunia 2016. Kemu­dian Juwita Niza Wasni, peraih medali emas Asia Games 2014. Juga Charles Sutanto, peraih medali emas Kejuaraan Dunia 2016, Jodis, Haris Horatius, Eric Losardi, dan lainnya.

Tentu saja prestasi yang diraih para atlet tersebut tak hanya membuat harum nama Padepokan YKWI di tanah air dan manca negara, tapi juga membuat sejumlah tokoh olahraga, pejabat, anggota dewan, sampai menteri menyambangi padepokan. Sarana latihan dan pelatih yang mumpuni juga membuat padepokan YKWI berkali-kali dipercaya sebagai tempat pelaksanaan pelatnas untuk SEA  Games, Asian Games, maupun event internasional lainnya.

Tak mau terlena dengan berbagai kisah sukses itu, sejak pertengahan 2016, saat Ketua Padepokan YKWI dipegang Heri­yanto, akrab dipanggil Ace, berbagai program baru di-introdusir. Tujuannya untuk menghindarkan kesan seolah wushu olah­raga eksklusif. Program memasyarakatkan wushu ini misalnya dilakukan dengan memproduksi film-film pendek yang disebar lewat media sosial.

"Kenapa media sosial? Karena itu yang paling cepat menjangkau khalayak secara luas dan gratis," ujar Heriyanto. Akhir April ini misalnya, mereka mengunggah video pendek yang mengajarkan filosofis wushu atau beladiri sebagai sebuah pertahanan diri, bukan alat untuk gagah-gagahan atau mengajak berantem.

Selain itu, ada juga program wushu goes to school. Ini semacam usaha untuk mem­promosikan wushu ke anak-anak sekolah. Pihak YKWI berperan mendatangkan pelatih, sedangkan pihak sekolah menye­diakan  siswa  dan tempat latihan. Saat ini sudah ada 4 sekolah, swasta dan negri yang bersedia menjalin kerjasama. Kegiatan ini diwadahi sekolah lewat ekstrakurikuler.

"Tahun ajaran baru, atau Jui 2017, akan kita mulai," ujar Sandry Liong. Rencananya setelah kerjasama berjalan, maka akan dibentuk klub-klub wushu sekolah. Jika memungkinkan, menurut Heriyanto, akan diadakan turnamen terbuka untuk mencari bibit-bibit muda dari tiap sekolah. Mereka akan direkrut dan masuk tim inti Padepokan YKWI.

Saat ini di YKWI sendiri ada 400-an anak yang rutin berlatih setiap hari. Mereka terbagi ke dalam kelas umum dan kelas khusus. Kelas umum diikuti anak-anak yang berlatih wushu untuk kesehatan, sedangkan kelas khusus untuk yang diproyeksikan sebagai atlet.

Murid-murid itu ditangani 16 pelatih dan asisten pelatih. Semuanya adalah mantan atlet wushu, atau atlet senior yang masih aktif bermain, yakni Christina Xie, Howan­dy Santoso, Dwi Arimbi, Alvin Nicholas, FelixAngka, David zibrahim, Anton Hakim, Fredy, Eric Losardi, Fulians, Jody Sanches, Aldy Lukman, Jodis, Wilbert Sanjaya, Sandry Liong, Nicholas, dan Suhendry. Ada juga pelatih dari Tiongkok yang dalam waktu dekat akan segera bergabung.

Tim Atraksi

Program lain yang tengah digadang-gadang adalah pembentukan tim atraksi wushu. "Wushu taoulo ‘kan artinya atraksi, maka ke depan kita juga akan menyiapkan tim atraksi wushu yang siap mengisi atau memeriahkan berbagai acara kegiatan," ujar Heriyanto.

Tim atraksi wushu ini akan memiliki kostum khusus disesuaikan dengan tema kegiatan. Tim atraksi ini tidak hanya tampil untuk kegiatan atau perayaan yang berkaitan dengan perayaan hari raya Tionghoa, tapi juga kegiatan umum. Baik yang dilakukan perorangan atau instansi.

"Intinya juga untuk lebih mengenalkan aspek seni dan budaya dari wushu ke masyarakat. Selama ini orang tahunya wushu itu hanya salah satu cabang olahraga saja," lanjutnya.

Kuota penerimaan murid baru yang dibuka setiap tahun dan selama ini dibatasi hanya untuk 40-50 orang, juga rencananya akan ditambah.

"Kelas baru dan jadwal berlatih baru juga akan ditambah, tapi setelah program renovasi gedung dilakukan dan program pelatihan pelatih selesai dilakukan," ujarnya. Pembukaan kelas baru ini juga untuk nomor sanda yang kini dikoordinir Dasmantua Simbolon.

Setelah mengakhiri jabatan sebagai Ketua Umum PBWI awal Mei ini, ujar Master Supandi Kusuma, konsentrasinya akan membenahi YKWI termasuk merenovasi gedung YKWI agar lebih bagus. Sebagai pendiri, pelatih sekaligus pembina Pade­pokan YKWI, ia menyadari dalam 12 tahun terakhir memimpin PBWI, ia lebih terkon­sentrasi membina prestasi atlet-atlet wushu Indonesia sehingga meraih prestasi dunia. Akibatnya, ia jarang lagi menyambangi Padepokan YKWI.

"Setelah pengabdian saya selesai di PBWI, saya akan lebih sering turun ke padepokan, memantau pelatihan," katanya.  Saat seorang master wushu akan kembali 'turun gunung', kita percaya para kusuma wushu bangsa akan terus bermekaran dari padepokan ini. Jiayo.

()

Baca Juga

Rekomendasi