Oleh: Hidayat Banjar
KENAPA kita perlu film? Sebagai salah satu cabang kesenian, film merupakan sarana yang paling efektif digunakan untuk pendidikan, propaganda dan lain sebagainya. Sesungguhnya, film tidaklah sekadar hiburan (tontonan), juga tuntunan.
Penting bagi semua pihak untuk mengingatkan kembali urgennya keberagaman dan keterbukaan sikap. Salah satu di antaranya dapat dilakukan lewat film yang bisa menjadi sarana pendidikan. Film memiliki kekuatan luar biasa untuk menjadi penggerak perubahan. Sinergitas antara dunia pendidikan dan film tidak hanya menguntungkan bagi pendidikan, juga bermanfaat bagi industri perfilman.
Film menjadi salah satu inovasi luar biasa dalam pendidikan terkait keragaman. Sebab dia menghadirkan begitu banyak hal: figur, cerita, bahasa dan konteks lain. Sangat memperkaya dan -kalau dalam situasi normal- tidak bisa hadir di dalam kelas.
Bicara keragaman, sebetulnya kita bicara cara berpikir. Cara memecahkan masalah, cara berempati dan memahami perspektif orang lain, yang semuanya itu sebetulnya kekuatan film. Dasar itulah agaknya membuat film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, terpilih sebagai film terbaik di ajang penghargaan perfilman Usmar Ismail Award (UIA) 2017. Dewasa ini keberagaman merupakan isu yang seksi untuk jadi pembicaraan dan pemikiran. Acara UIA ditayangkan live oleh Trans 7, berlangsung, Sabtu (29/4), di Balai Kartini, Jakarta.
Diberitakan berbagai media, UIA 2017 memiliki keunikan, panel juri merupakan para jurnalis yang mewakili berbagai media nasional. Jumlah panel maupun media akan terus bertambah untuk memberikan apresiasi insan perfilman lebih kompetitif dan bergengsi ini. Misalnya dari 138 judul film yang dinilai menghasilkan 30 nomine. Ketiga puluh film unggulan inilah yang dinilai oleh juri akhir.
Program Festival
“Kalaupun kemarin ditayangan hanya tiga nomine yang disebutkan, sebenarnya itu diambil dari 30 nominal dan kami (juri) sudah melakukan pemeringkatan,” jelas Ketua Dewan Juri UIA, Wina Armada. Tahun berikutnya, selain menambah jumlah panel juri, UIA 2018 akan menjalankan program-program festival. Terutama literasi mengenai kritik film.
Terkait itu, Kompas, Selasa, 2 Mei 2017, Halaman 12 mengemukakan, dunia perfilman Indonesia dinilai terus berkembang. Tren positif tersebut terlihat dari semakin beragamnya tema yang diangkat dengan memuat ikhwal keberagaman dan kebudayaan lokal. Penilaian itu disampaikan Wina seusai penganugerahan di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (29/4).
Perkembangan baik itu tergambar dari 138 film yang dinilai dewan juri. Film ditayangkan pada rentang 3 Maret 2016 sampai 23 Maret 2017. Dua poin penting yang dilihat dewan juri dari ke-138 film yang dinilai itu, lanjut Wina. Keberagaman tema dan masuknya unsur serta pergulatan budaya lokal. Contoh film yang mengangkat itu adalah Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, yang pada Usmar Islamil Award 2017 dipilih sebagai film terbaik. Film itu mengisahkan seorang sarjana berusia muda dari Jawa Barat. Dia berkarya di pelosok Nusa Tenggara Timur yang agama dan kebudayaannya sangat berbeda dengannya.
Aisyah mengingatkan kepada kita agar hidup bergandengan tangan dalam rumah besar yang bernama Indonesia. Fakta keberagaman itulah yang digambarkan Herwin Novianto dalam film ini.
Membagi Ilmu
Cerita dimulai ketika Aisyah baru saja lulus menjadi sarjana. Dia menetap di sebuah kampung kecil di Ciwidey, Jawa Barat. Kampungnya berdekatan dengan perkebunan teh yang berudara sejuk dan sarat dengan nilai religius. Dia tinggal bersama ibu dan adik laki-lakinya. ayahnya telah lama meninggal dunia.
Aisyah ingin sekali mengabdikan hidupnya untuk menjadi seorang guru. Suatu ketika, Aisyah memperoleh telepon dari yayasan tempat dia mendaftarkan diri. Aisyah memperoleh kabar gembira, dia segera mendapatkan tempat untuk mengajar. Sebuah tempat yang tak pernah dia dengar sebelumnya bernama Dusun Derok, terletak di Kabupaten Timur Tengah Utara. Tempat itu berjarak sangat jauh dengan kampung halamannya. Konflik kecil antara Aisyah dan ibunya tak bisa terbendung lagi. Karena niat Aisyah yang begitu bulat, dia tetap memutuskan untuk berangkat ke NTT. Aisyah ingat pesan ayah untuk berbagi ilmu.
Sejak awal kedatangan, Aisyah telah merasa “asing” di tempat itu. Apalagi ketika dia hadir, tanpa sengaja masyarakat salah menganggapnya sebagai Suster Maria, hanya karena sama-sama memakai kerudung. Sebelumnya masyarakat mengharapkan kedatangan Suster Maria sebagai guru didik di kampung itu. Setelah kesalahpahaman mampu diatasi, Aisyah tetap merasa gamang.
Kampung yang dia datangi merupakan sebuah daerah yang sangat terpencil, tanpa sinyal seluler dan belum masuk listrik. Di wilayah itu sedang dilanda musim kemarau yang panjang mengakibatkan warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Lingkungan yang baru, ditambah tradisi serba asing dan ruang lingkup religius yang berbeda membuat Aisyah tambah gamang. Munculah sosok Pedro (Arie Kriting) yang mencoba membatu Aisyah.
Kebencian
Ketika Aisyah mulai mendidik para murid di sana, dia malah menghadapi kebencian dari salah seorang muridnya yang bernama Lordis Defam. Pada awalannya ia tidak memahami mengapa Lordis begitu membencinya, bahkan sampai mempengaruhi para sahabatnya untuk tidak mau masuk kelas.
Belakangan kepala dusun memberikan pemahaman kepada Aisyah, kedatangannya sebagai guru muslim dianggap musuh oleh Lordis yang beragama Katolik. Pemikiran itu dimengerti Lordis lewat pamannya, yang saat konflik Ambon berlangsung ia berada di kota.
Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara merupakan film Indonesia yang digarap oleh rumah produksi Film One Productions (Hamdani Koestoro). Disutradarai oleh Herwin Novianto dengan penulis skenario Jujur Prananto. Film ini diangkat dari kisah nyata seorang wanita Muslim yang menjadi guru di sebuah desa terpencil. Lokasi syuting di Atambua, Nusa Tenggara Timur. Adapun para pemain yang antara lain Laudya Cynthia Bella, Lidya Kandau, Arie Kriting, dan Ge Pamungkas. Film mulai tayang di bioskop pada pertengahan Mei 2016.
Aisyah mengingatkan, kerukunan dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia. Mutlak memerlukan sikap “toleransi” yang harus dijunjung sebagai etika sosial dalam kehidupan masyarakat. Tanpa toleransi, mustahil kerukunan dapat diwujudkan secara real. Terminologi toleransi sendiri bukan semata cukup dengan menerima perbedaan. Lebih dari itu, toleransi adalah bentuk dari sikap tenggang rasa manusia di tengah masyarakat yang serba majemuk.
Karenanya, wacana teologi yang diproduksi pada abad pertengahan agaknya perlu diaktualkan kembali sehingga tidak dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan kekerasan. Gagasan tentang membangun relasi inilah yang disebut dengan theology of relation atau relational theology.
Konstruktif
Ini dapat didefinisikan sebagai upaya mengonstruksi strategi baru untuk meletakkan agama-agama tidak dalam posisi saling bermusuhan. Tanpa harus mengkompromikan nilai-nilai keimanan yang dikandungnya. Agama-agama harus berperan secara konstruktif untuk membangun dunia yang lebih adil dan damai.
Nilai-nilai itu sangat efektif disampaikan lewat film. Spiritualitas bangsa ada di dunia kesenian (film). Justru itu, negara-negara yang peduli pada seni (film) umumnya lebih maju dibanding yang abai. Karenanya, usaha membangkitkan kesadaran terhadap peran strategis seni film, harus terus-menerus dilakukan. Negara yang telah kehilangan sensibilitasnya terhadap seni adalah negara yang tengah menegasikan potensinya sendiri dalam hal menumbuhkembangkan kreativitas dan otentisitas.
Lihatlah bagaimana Amerika Serikat memanfaatkan sarana film untuk propaganda, bahwa mereka adalah adikuasa. Obsesi Amerika untuk jadi penguasa dunia dimanfaatkan lewat film.
Film yang di dalamnya terhimpun ragam seni (suara, gerak, mimik, musik, dan lain sebagainya) sangat memungkinkan dimanfaatkan untuk kepentingan banyak hal. Pluralisme dapat tersosialisasikan dengan baik lewat film.
Jakob Sumardjo dalam makalahnya Pokok-Pokok Filosofi Film yang disampaikan dalam Forum Film Bandung beberapa waktu lalau. Jakob mengatakan, dengan menonton film, mengindera film, mengalami film, penonton menangkap nilai-nilai tertentu yang termuat dalam bentuk film tadi. Pada dasarnya, membuat film adalah menyampaikan nilai-nilai tertentu kepada penonton film. Membuat film adalah menuangkan nilai-nilai tertentu dalam bentuk film.
Keyakinan akan agama kita yang paling benar adalah sebuah nilai. Ternyata sahabat kita juga meyakini agamanyalah yang paling benar. Jika kebenaran ini dipertentangkan, niscaya yang muncul adalah konflik agama. Film dapat berpesan: agamamu untukmu, dan agamaku untukku.
Mari kita hormati manusia, karena dia sengaja diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam kondisi berbeda antara satu sama lainnya. Kita hormati manusia tanpa memandang apa agamanya dan keyakinannya. Ya Aisyah, kita bersaudara. Semoga.
Penulis; Penyuka Seni dan Esais











