Mengenang Kekalahan 15 Agustus 1945

Enam Tentara Jepang Masih Belum Menyerah

MENYERAHNYA Jepang pada Agustus 1945 me­nandai akhir Perang Dunia II. Ang­katan Laut Ke­kaisaran Jepang secara efektif sudah tidak ada sejak Agustus 1945, semen­tara invasi Sekutu ke Jepang ha­nya tinggal waktu.

Walaupun keinginan untuk melawan hingga titik peng­habisan di­nyatakan secara terbuka, pe­mim­pin Jepang dari Dewan Penasihat Mi­liter Jepang secara pribadi me­mo­hon Uni Soviet untuk ber­peran sebagai mediator dalam perjanjian damai dengan sya­rat-syarat yang mengun­tung­kan Jepang.

Sementara itu, Uni Soviet juga bersiap-siap untuk me­nyerang Je­pang dalam usaha memenuhi janji kepada Amerika Serikat (AS) dan Ing­gris di Konferensi Yalta.

Pada 6 Agustus dan 9 Agus­tus, AS menjatuhkan bom atom di Hiro­shima dan Nagasaki. Pada 9 Agustus, Uni Soviet melancarkan pe­nyerbuan mendadak ke ko­loni Jepang di Manchuria (Manchukuo) yang melang­gar Pakta Netralitas Soviet–Jepang.

Kaisar Hirohito campur tangan se­telah terjadi dua pe­ristiwa me­nge­jutkan tersebut, dan me­merin­tah­kan Dewan Penasihat Militer un­tuk menerima syarat-syarat yang di­tawarkan Sekutu dalam Dek­larasi Potsdam. Setelah berlang­sung perundingan di balik layar se­lama beberapa hari, dan kudeta gagal, Kaisar Hirohito menyam­pai­­kan pi­dato radio di hadapan rak­yat pada 15 Agustus 1945.

Dalam pidato radio yang dise­but Gyokuon-hoso (Siar­an Suara Kai­sar), Hirohito membacakan Pe­rin­tah Kekai­saran tentang ka­pitulasi.  Pada 15 Agustus 1945, untuk per­­tama kalinya, me­lalui siaran ra­dio, suara Kai­sar Hirohito dide­ngar seba­gian besar warga Jepang. Bu­k­an kabar gembira yang dia sam­paikan, melainkan, per­nyataan bahwa Negeri Sakura telah kalah pada Perang Dunia II.

Sejak itu, jutaan warga Jepang meyakini betul bahwa, negara mereka mungkin telah menyerah kepada Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat, meski sang kaisar tidak eksplisit menerangkan hal tersebut melalui siaran radio.

Meski tersiar melalui radio --yang pada saat itu men­jamah se­jumlah pelosok di Jepang-- namun, ka­bar yang disampaikan Kaisar Hirohito itu terlambat atau tidak sampai ke telinga para tentara Ne­geri Sakura yang bertempur di wi­layah terpencil di Asia atau ke­pulauan Pasifik.

Sebagian personel telah men­dengar kabar kekalahan tersebut, namun mereka memilih untuk tidak percaya. Dan sejumlah individu meya­kini untuk beberapa waktu bahwa, negerinya masih aktif terlibat da­lam Perang Dunia II.

Berikut tentara-tentara yang tidak mengetahui atau menolak me­nyerah pada Pe­rang Dunia II, se­perti di­kutip dari Listverse.com:

1. Noboru Kinoshita

Hingga kini, aksi kami­kaze ter­catat sebagai aksi paling brutal da­lam pepe­rangan.

Memasuki 1944, ketika pasukan AS mulai mendekati daratan Je­pang, the Imperial Japanese Army (IJA) kewa­lahan. Di satu sisi, me­reka harus berkonsentrasi wila­yah yang telah diduki di Asia dan Pa­sifik. Dan di sisi lain, IJA juga ha­­­rus membendung pasukan Ne­geri Paman Sam yang makin men­dekat ke Jepang.

Situasi itu membuat sege­lintir pasukan IJA menetap di sejumlah pulau di Pasifik, mempertahankan status quo Jepang di kawasan. Sebagian lain dimobilisasi menuju pulau yang dekat dengan daratan Negeri Sakura.

Noboru Kinoshita meru­pakan salah satu tentara Je­pang yang dimobilisasi meng­gunakan kapal. Nahas, kapal yang membawanya ditembak hingga tenggelam oleh pasukan Sekutu.

Kinoshita berhasil menye­lamat­kan diri ke Pulau Luzon, Filipina, yang saat itu telah dikuasai pasukan AS. Sesam­painya di sana, dia ber­sem­bunyi di hutan lebat dan ber­t­ahan hidup dengan memakan apa pun yang dapat dite­mukan.

Pria itu berhasil meng­hindari pe­nangkapan selama 11 tahun, hing­ga akhirnya ditangkap oleh otoritas setem­pat pada 1955. Saat di dalam tahanan, Kinoshita akhir­nya bunuh diri, karena menolak kekalahan dan dikembalikan ke Je­pang pasca-Perang Du­nia II, mem­buat Kinoshita --secara teknis-- masih 'berpe­rang dengan Sekutu', hingga akhir hayatnya.

2. Bunzo Minagawa

Bunzo Minagawa tiba di Guam pada 1944 sebagai satu dari ribuan tentara Jepang yang diberi misi untuk me­ngusir invasi besar-besa­ran pasukan AS. Operasi mem­ben­­dung invasi AS gagal, dan se­ba­gian besar pasukan Je­pang tewas di medan pertem­puran.

Minagawa, bersama rekan­nya, Masashi Ito, termasuk di antara kor­ban yang selamat dan menemu­kan tempat ber­lindung di kawasan hutan Guam yang lebat.

Dia kemudian memulai pe­ngem­­baraan untuk meng­hindari pe­nang­kapan, hingga 16 tahun lamanya.

Keduanya bertahan hidup de­ngan mencuri dari pendu­duk lokal dan memungut sisa-sisa logistik pa­sukan AS. Teknik itu menjadi pola hidup keseharian Minagawa dan Ito, hingga ditangkap oleh pendu­duk lokal pada 1960. Akhir­nya, keduanya dikembalikan ke Jepang.

3. Hiroo Onoda

Saat Jepang kalah di peng­hujung Perang Dunia II, Onoda menolak untuk me­nyerah. Dia juga tak mau mengikuti langkah serdadu lain: hidup menanggung malu atau me­lakukan hal ekstrem, bunuh diri alias ha­rakiri.

Onoda tetap memilih tinggal di pedalaman hutan di Pulau Lubang, dekat Lu­zon, Filipina selama 29 ta­hun, hingga 1974. Ia tak percaya perang sudah berakhir.

Di Lubang, Onoda tidak ber­sem­­bunyi. Ia terus mela­kukan sur­vei fasilitas militer dan terlibat da­lam bentrokan sporadis. Saat itu, dia keliru membunuh 30 warga yang dia kira tentara musuh.

Dunia telah mengetahui kebera­da­annya sejak tahun 1950 ketika sa­lah satu rekan­nya sesama tentara, keluar dari dalam hutan dan akhir­nya kembali ke Jepang.

Pengasingan Onoda ber­­akhir saat komandannya yang sudah se­puh jauh-jauh ter­bang dari Je­pang khusus untuk menemuinya pada Maret 1974. Sang komandan mem­batalkan perintah yang dia berikan sendiri pada Onoda -- yang kala itu menyam­butnya dengan tangisan hebat.

4. Yuichi Akatsu

Tidak semua tentara Je­pang yang menolak menye­rah terus ber­tarung atau ber­sembunyi tanpa batas wak­tu.

Salah satunya adalah Yui­chi Akat­su, yang meng­ha­biskan bebe­rapa tahun untuk meneror orang-orang Fili­pina di Lubang dengan Hiroo Onoda.

Meskipun begitu, alasan Akatsu mela­kukan itu karena dirinya ha­nya seorang tentara berpang­kat prajurit rendah dan tunduk pada perintah Onoda,

Akatsu akhirnya menyerah pada 1949 kepada kepolisian setempat. Sebelum dikem­balikan ke Jepang, dia mem­bantu pihak berwenang men­cari Onoda dan dua orang seja­­watnya, tapi mereka semua berhasil menghindari penangkapan.

5. Shoichi Yokoi

Pada 21 Juli 1944, pasukan Ame­rika Serikat melakukan sera­ngan berskala besar untuk meng­in­vasi dan merebut kem­bali Guam dari Jepang, yang telah menduduki wila­yah itu sejak Desember 1941.

Pertempuran di Guam ber­lang­sung hingga Agustus 1944 dan me­newaskan sekitar 18.000 pasukan Negeri Sakura.

Namun, segelintir tentara Jepang berhasil menye­la­matkan diri dari me­dan pertem­puran, seperti Shoic­hi Yokoi. Dia melarikan diri ke be­lantara hutan Guam yang lebat.

6. Teruo Nakamura

Tak semua personel Im­perial Japanese Army (IJA) berke­bang­saan Jepang. Salah satunya adalah Prajurit Ren­dah Teruo Nakamura yang berasal dari Taiwan.

Nakamura ditempatkan di pulau Morotai, Halmahera, Indonesia pa­da tahun 1944, bersamaan ketika pa­­sukan Sekutu melancarkan sera­ngan dan berhasil mengatasi perla­wanan Jepang di kawasan.

Sang prajurit rendah berhasil menyelamatkan diri ke kawasan hutan pulau Morotai, demi meng­hin­dari pe­nangkapan pasukan Se­kutu. Dia bertahan hidup dengan se­gala cara yang dianggap perlu. Hing­ga pada 1974, dia dite­mukan oleh aparat se­tempat dan dipulang­kan ke Taiwan. (wkp/listvs/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi