Harmoni 55 Tahun Kowal

Oleh: Rina Afdhaliah Asri

SEIRING dengan program restrukturisasi TNI Angkatan Laut yang digalakkan oleh Laksda Raden Eddy Martadinata (lebih populer dengan nama R.E. Martadinata) sejak dikukuhkan sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) saat itu, wacana pelibatan peran wanita di lingkungan Angkatan Laut menjadi program prioritas. 

Hal yang menjadi pertimbangan, bahwa banyak bidang pekerjaan yang dilakukan oleh pria ternyata juga dapat dilakukan oleh wanita, bahkan beberapa jenis pekerjaan menghendaki persayaratan-persyaratan khusus yang hanya dapat dilakukan oleh wanita.

Terbentuknya Korps Wanita TNI Angkatan Laut (KOWAL), menjadi lembaran baru bagi Angkatan Laut dalam memberikan hak dan kesempatan bagi kaum wanita Indonesia untuk turut serta mendarmabaktikan dirinya di TNI Angkatan Laut. Walhasil, setelah melalui seleksi dan tahapan pendidikan yang ketat, 12 (dua belas) orang dinyatakan lulus. Wanita terbaik itu direkrut dari berbagai Perguruan Tinggi dengan beragam disiplin ilmu atau profesi yaitu Dokter Umum, Hukum, Pendidikan, Olah Raga, Geografi dan Biologi.

**

PADA 5 Januari 1963, KOWAL angkatan pertama dilantik oleh Menteri/KSAL R.E. Martadinata di lapangan apel Markas Besar Angkatan Laut (MBAL) Jalan Gunung Sahari 67 Jakarta (sekarang Mako Armada RI Kawasan Barat) yang sekaligus ditetapkan sebagai hari lahir KOWAL. Eksistensi KOWAL menjadi pembanding Angkatan Laut negara asing, karena kaum wanita di Amerika Serikat telah diikutsertakan dalam Woman Accepted for Volenteer Emergency Service (WAVES) dan Inggris telah membentuk Women’s Royal Naval Service (WRNS).

Pasca pelantikan, KOWAL langsung dilibatkan dalam upacara penyerahan Irian Barat dari Belanda kepada Indonesia melalui UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority). Kembali dari Irian Barat, KOWAL diberangkatkan ke Amerika Serikat untuk mempelajari lebih lanjut organisasi dan kegiatan ”Woman Accepted for Volenteer Emergency Service” di Maryland USA. Pemberangkatan tersebut dibagi dalam dua gelombang, pertama khusus belajar masalah staf manajemen dan gelombang kedua khusus belajar bahasa Inggris.

Kemudian tahun 1983, KOWAL dilikuidasi. Semula merupakan korps yang berdiri sendiri, sejak itu terintegrasi dengan korps/kejuruan yang ada di lingkungan TNI Angkatan Laut. Sebutan Korps Wanita TNI Angkatan Laut tetap melekat hingga saat ini, tetapi bukan dalam konteks korps/kejuruan melainkan pengelompokan (komuniti) prajurit wanita TNI Angkatan Laut baik Perwira maupun Bintara dari berbagai keahlian ilmu dan kejuruan.

**

SEBAGAI prajurit, KOWAL merupakan bagian integral TNI Angkatan Laut. Kehadiran KOWAL sebagai wanita tidak hanya sebagai pelengkap atau pemanis organisasi, maka tak terbantahkan bahwa kiprah KOWAL telah ikut menunaikan amanah Panglima Besar Jenderal Sudriman: “Tunaikan sumpah dan tugas kewajiban sebagai prajurit NKRI yang sanggup menjamin keamanan dan keselamatan nusa dan bangsa”. 

Pentas penugasan prajurit KOWAL, tidak lagi tersekat dalam lingkaran “pengecualian” atau terjebak dalam pusaran debat kodrati. Derap langkah KOWAL di berbagai event nasional maupun internasional termasuk pelibatan KOWAL dalam misi perdamaian dunia, bisa dijadikan catatan emas dalam lintasan sejarah 55 tahun pengabdian KOWAL. 

Dalam tataran penugasan di lingkungan TNI, harus diakui bahwa prajurit KOWAL telah berhasil membangun harmoni dalam memahami jati dirinya sebagai wanita dan sebagai prajurit dalam spektrum penugasan yang mengharuskan keunggulan komparatif dan kompetitif.

Dalam perspektif lain, rekrutmen prajurit KOWAL yang digelar setiap tahun di berbagai daerah, memunculkan keragaman suku dan budaya yang secara implisit mewujudkan karakter sifat dan ciri khas tersendiri. Keberagaman dan kohesi internal KOWAL, tentu menjadi kekuatan dalam merajut harmoni kebersamaan yang lebih indah dalam menata sebuah pengabdian untuk NKRI yang lebih masif. 

Motto KOWAL yang elegan: “Pengabdian dan Kehormatan adalah Jiwaku”, telah mengantarkan beberapa nama dari prajurit KOWAL mencapai karier terbaik dengan strata pangkat perwira tinggi. Derap langkah yang tegas nan ayu prajurit KOWAL, bakal terukir indah dalam tataran konsep ”everyman his own historian” (setiap individu akan menuliskan sejarahnya sendiri). Dirgahayu KOWAL ke-55, srikandi laut tak kenal surut.***

Penulis, pemerhati masalah sosial dan kemasyarakatan

()

Baca Juga

Rekomendasi