Ratusan burung parkit yang tiada henti bersahutan itu, merupakan koleksi para breeder (pehobi burung parkit) se-Sumatera Utara. Pada Minggu (9/12) pagi itu, para breeder berkumpul di Gardenia Resto, Jalan SMTK Dalam/Jalan Dr. Mansyur Medan.
Bukan tanpa sebab, para breeder yang tergabung dalam Komunitas Parkit Indonesia (KPI) Sumut itu, hari itu berkumpul pada suatu gelaran “Expose The Beauty of Parkit II”. Menurut Ketua Panitia, Yandi, gelaran itu merupakan kali kedua.
“Ada 45 peserta dari seluruh kabupaten/kota se-Sumut yang ikut pameran dan kontes. Selain pameran, juga ada 7 kelas kontes yang digelar,” katanya.
Dirincikan, kelas kontesnya dari tipe normal, dompied, (dominan piet), spangle, recpied, ino series, opalin, dilution, sampai kepada exhibition budgerigars (EB). Secara umum, hanya ada dua jenis parkit yang diserakan, yakni EB dan tipe piet.
Tujuan utama penyelenggaraan pameran dan kontes tersebut, menurutnya untuk memperkenalkan spesies parkit kepada masyarakat luas. Terlebih kiniada ribuan bahkan puluhan ribu breeder di Sumut yang terus berupaya mengeksplorasi keindahan parkit. “Eksplorasi ini bukan untuk kepunahan, sebaliknya justru untuk menambah jumlah parkit dan memerkaya warna dan keindahan parkit.”
Karena itu, dalam penilaian kontes, tidak sekadar dominasi warna pada satu bagian tubuh parkit, melainkan secara keseluruhan. Termasuk porporsi tubuh/fisik dari kepala sampai ekornya. Yang tidak kalah penting, juga menyangkut keorisinalan parkit sesuai jenisnya.
Selain itu, semakin banyaknya pecinta parkit yang rata menyebar ke seluruh kabupaten/kota di Sumut, harus dinaungi agar mereka lebih maksimal dalam membudidayakan parkit. Tentu saja, kompetisi juga dimaksudkan agar ada wadah unuk menguji tingkat keberhasilan parkit yang dirawat selama ini.
Bagi pecinta parkit, memelihara dan merawat burung jenis pelatuk ini gampang-gampang susah. “Dibilang gampang karena memang hobi dan menyenangkan. Susahnya ya harus sedikit teliti, dari membersihkan kandang, member makan, sampai perawatan untuk budidayanya,” ungkap salah seorang peserta, Dany Abrianto kepada Analisa.
Perawatan
Dari sisi perawatan, imbuh Dany, hanya sebatas memberi makan dan membersihkan kandang. Selain pakan rutin, extra fooding (makanan tambahan selain biji-bijian) juga harus diberikan. Para breeder juga harus tahu saat budgie (istilah untuk parkit) sedang mabung (molting). “Jangan dikira kondisi parkit mabung itu sedang sakit, padahal rontokny bulu parkit karena akan tumbuh bulu baru.”
Namun kalau untuk budidaya, breeder harus memahami beberapa langkah. Misalnya menyiapkan glodok (kotak/sarang tempat bertelur), memahami musim kawin ditandai dengan perubahan warna cere (hidung) jantan yang biru gelap dan pada betina cokelat.
Begitu juga dengan mengetahui saat betina parkit tengah egg binding (kesulitan bertelur). “Kalau penangannnya terlambat dan telur menyangkut di kloaka, bisa mengakibatkan kematian si betina,” imbuh Dany.
Yudi peserta dari Serdangbedagai punya cerita lain terkait perawatan budgie-nya. Selain member makan rutin, breeder juga harus mengenali FM. “Ini sejenis penyakit berupa rontoknya bulu ekor dan bulu sayap pada anakan yang disebabkan virus. Makanya saat anakan harus diberi egg food sebagai makanan tambahan.”
Jika memungkinkan, saat anakkan apalagi untuk alasan penjinakan, biasakan hand feed yakni burung mau makan di tangan dalam penangkaran atau disebut meloloh anakkan. Itu semua tentu trik-rik yang dimiliki breeder. Bisa saja breeder lainnya juga punya cara lain.
Bersama teman-temannya, saat kontes itu Yudi membawa sejumlah parkitnya. Beruntung, di kelas dilution dan di kelas opalin, ia meraih juara 1. Sedangkan Hendra dari Martubung meraih juara 2 di kedua kelas itu. Untuk juara 3 kelas dilution diraih Fadhil (Medan) dan juara 3 kelas opalin dimenangkan Akbar (Medan). Hendra juga meriah juara 1 untuk kelas spangle, disusul Dodi dan Dimas. Untuk kelas dompiet, masing-masing juaranya, Dewi Nirwana, Dian, dan Dimas. Sedangkan pememang kelas normal, Ahmad Nur (Sergai), Alfriend Silalahi (Medan) dan Dimas (Medan).
Hal paling menarik saat kontes dan pameran berlangsung, yakni adanya Budgie Trick Show dan Lomba Flay to Me. Keduanya sama-sama menampilkan ketangkasan parkit. Baik dari sisi kicauan maupun kelincahan geraknya. Termasuk saat parkit dilepas untuk terbang dan kembali kepada breeder-nya.










