Transnistria, Negara Tak Diakui Dunia

SEPERTI yang kita ketahui bersama bahwa negara adalah sekumpulan orang yang menem­pati wilayah tertentu dan di­orga­nisasir oleh pemerintah negara yang sah, yang umumnya memi­liki kedaulatan. Ne­gara juga me­rupakan suatu wilayah yang memiliki suatu sistem atau aturan yang berlaku bagi semua individu di wi­layah tersebut dan berdiri secara inde­penden.

Syarat primer sebuah negara adalah me­­miliki rakyat, memiliki wilayah dan me­­miliki peme­rintahan yang berdaulat. Se­­dang­kan syarat sekundernya adalah men­­dapat pengakuan dari negara lain.

Jika jumlah negara di dunia ini yang berkedaulatannya diakui oleh PBB hanya berjumlah sekitar 193 negara. Namun ternyata jumlah tersebut belum mencakup semua negara yang benar-benar ada di dunia. Karena ada beberapa negara yang be­lum masuk ke dalam anggota PBB de­ngan berbagai alasan.

Namun ada juga negara yang Sudan berdaulat dan diakui oleh PBB, akan tetapi keberadaanya di dunia jarang di ketahui alias tidak terkenal. Mungkin karena luas wilayah negara tersebut yang terpencil.

Bahkan negara-negara ini seakan tidak pernah ada dan jarang di ketahui oleh ne­gar-negara luar. Mungkin hanya warga ne­gara mereka sendiri lah yang mengetahuinya.

Transnistria, negara berpen­duduk se­kitar 500.000 jiwa, dengan luas wilayah ku­rang 1.000 km persegi ini ada namun juga tiada. Berbatasan dengan Ukraina di sisi timur dan Moldova di sisi barat, negara ini sempat menjadi bagian dari Moldova ketika Uni Soviet masih berdiri.

Transnistria mengumumkan berpisah dari Moldova dan me­milih menjadi negara sendiri pada 1990, setelah keruntuhan Uni So­viet dan Moldova bersekutu dengan Rumania.  Sempat mengalami pepe­rangan singkat dengan Moldova pada Maret hingga Juli 1992 yang menimbulkan 1.500 korban jiwa.

Perang berakhir dengan ditan­datanga­ni­nya perjanjian gencatan senjata yang ber­tahan hingga se­karang. Sejak saat itu, pe­me­rintahan Moldova Sudan tak lagi me­miliki pengaruh di Transnistria.

Perjalanan melintasi waktu ke masa lalu

Meski telah mengaku sebagai sebuah negara yang merdeka, namun pemerin­tahan Transnistria belum menda­patkan pengakuan dari dunia.

Wilayahnya bukan menjadi bagian ne­gara manapun, namun juga belum me­mi­liki hak sebagai sebuah negara. Kon­disi itu menjadikan mata uang negara itu tidak berlaku di luar wilayahnya. Begitu pula dengan paspornya yang dianggap tidak berguna, karena tidak diterima di negara mana pun.

PBB masih menganggap Tran­s­nistria sebagai bagian dari Moldova. Dan hanya tiga negara, yakni Abkhazia, Republik Arts­kah dan Ossetia Selatan, yang me­nga­kui Trans­nistria sebagai ne­gara mer­deka. Na­mun ketiga negara itu sendiri juga masih diakui secara terbatas oleh dunia.

Meski demikian, Transnistria banyak didatangi wisatawan mancanegara, teru­tama mereka yang ingin merasakan per­ja­lanan melintasi waktu ke masa lalu. Ber­ja­lan-jalan di kota-kota di Transnistria, maka pengunjung masih dapat menemu­kan patung Lenin, pemimpin Uni Soviet hingga 1924.

 Juga masih banyak terpasang simbol-simbol kejayaan negara komunis itu. Simbol-simbol Uni Soviet dan komunis masih banyak digunakan di negara ini.

Bangunan-bangunan di negara ini juga banyak yang berarsitektur era Soviet. Se­olah-olah di Tran­snistria, Uni Soviet masih ada hingga saat ini. Satu lagi fakta unik dari negara ini, adanya su­permarket, restoran, bioskop bahkan tim sepak bola yang diberi nama Sheriff, yang didirikan oleh seorang mantan KGB, agen rahasia Soviet.

Transnistria dapat ditempuh melalui jalur darat dari Moldova atau Ukraina, meng­gunakan kereta atau bus dan turun di ibu kota negara itu, Tiraspol. Yang harus selalu diingat, peme­rintah Transnistria memberikan izin perjalanan bagi para turis maksi­mal selama 10 jam.

Baru merdeka selama 28 tahun, masya­ra­katnya yang mayoritas berbahasa Rusia, kini masih berusaha agar negaranya se­makin dikenal dunia. Di sinilah peran pen­ting para pemandu wisata di negara ini. Waktu di Transnistria seolah berhenti di era 1990-an. (wkp/hpc/dwc/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi