Penemu Lubang Hitam Itu telah Tiada

Fisikawan ternama asal Ing­gris, Stephen Hawking, me­ninggal dunia dalam usia 76 tahun. Kematian Hawking telah dikon­firmasi oleh keluarganya.

“Kami sungguh sedih bahwa ayah kami yang tercinta telah me­ning­gal dunia hari ini,” ucap anak-anak Hawking, Lucy, Robert dan Tim, dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Press Association Inggris, seperti dilansir AFP, Rabu (14/3).

“Dia seorang ilmuwan yang hebat dan pria luar biasa yang kinerja dan peninggalannya akan hidup untuk bertahun-tahun ke depan,” imbuh pernyataan itu. Belum diketahui pasti penyebab meninggalnya Hawking.

Hawking lahir di Oxford pada 1942. Dia sulung dari empat bersau­dara. Dia mengenyam pendidikan di University College, Oxford, dan gemar membawa buku-buku soal ilmu pengetahuan alam. Dia lulus dengan gelar sarjana kehormatan first-class untuk jurusan Fisika.

Ayah Hawking, seorang dokter pengobatan tropikal ingin anaknya mengikuti jejaknya. Pengobatan tropikal (tropical medicine) khusus menangani gangguan kesehatan yang terjadi secara unik, tersebar luas dan lebih sulit dikendalikan di kawasan tropis dan subtropis. Namun Hawking ingin menjadi pakar matematika. Akhirnya Hawking belajar ilmu pe­ngeta­huan alam.

Tahun 1963, Hawking menderita penyakit bernama amyotrophic lateral sclerosis (ALS) yang membuatnya lumpuh total dan bicara deng­an ban­tuan mesin. Tapi, dia tetap aktif dan otaknya tetap cemer­lang.

Hawking meraih puluhan gelar kehormatan dan meraih medali kehor­matan Commander of the Order of the British Empire (CBE) dari Ratu Inggris.

Pemalas

Riwayat hidupnya menarik. Misal­nya Hawking ternyata pemalas di masa mudanya. Dia pernah mengatakan kalau dia tidak serius belajar membaca sampai usia delapan tahun.

Saat kuliah jurusan Fisika di Oxford, dia juga mengaku malas. Barulah ketika didiagnosa penyakit saraf dan diperkirakan mati muda, Hawking mulai konsentrasi belajar dan bekerja.

“Saudariku Philippa sudah bisa membaca pada umur empat tahun dan dulu dia benar-benar lebih pintar dariku. Tugas sekolahku sangat tidak rapi dan tulisan tanganku bikin pusing para guru,” katanya yang dikutip detikINET dari Metro.

Pengarang buku fenomenal A Brief History of Time ini berkisah tidak ter­lalu menonjol saat masih sekolah. Namun, teman-teman sekelasnya sudah menjulukinya sebagai Einstein. “Jadi, mungkin me­reka melihat tanda-tanda akan sesuatu yang lebih baik,” kisahnya.

Meski malas, dia berhasil diterima di Oxford sehingga julukan Einstein sepertinya tepat disandangnya. Tapi, di kampus prestisius itu, kemalasannya lagi-lagi kumat.

“Aku tidak bangga akan hal ini. Aku hanya mence­ritakan sifatku pada waktu itu. Seperti halnya maha­sis­wa yang lain, ada kebosanan dan merasakan sia-sia dalam berusaha,” sebutnya.

Titik balik dimulai ketika pada usia 21 tahun, dokter memberikan harapan hidup hanya dua tahun karena pe­nyakitnya parah. Terancam akan mati itulah yang mem­buatnya fokus, produktif, dan menghasilkan beberapa terobosan.

“Ketika menghadapi ke­mungkinan mati di usia dini, itu membuat kalian menya­dari bahwa hidup itu berarti dan ada banyak hal yang ingin kalian lakukan,” ujar­nya.

Lubang Hitam

Otak cemerlangnya telah menguak kesangat-terbata­san ma­nu­sia dalam mema­hami, baik maha luasnya se­mesta atau ruang mau­pun du­nia submolekul yang gan­jil dalam teori kuantum yang disebutnya dapat mempre­diksi apa yang terjadi pada awal dan akhir masa.

Buah karyanya meren­tang dari asal-usul alam se­mesta, dengan men­jejak pros­pek perjalanan waktu, sampai misteri Lubang Hi­tam yang memangsa ruang.

Sepanjang karirnya, fisi­kawan dan ahli kosmologi kenamaan ini banyak meng­habiskan waktunya mengi­den­tifikasi salah satu benda luar angkasa. Objek anta­riksa tersebut adalah Lubang Hitam.

Salah satu hasil peneli­tiannya terhadap Lubang Hitam yang paling terkenal adalah bahwa objek tersebut tidak berwarna hitam. Dia ju­ga menjelaskan, benda ang­kasa ini bisa meng­hasilkan radiasi termal dari proses sub-atom sehingga berpo­tensi menguap.

“Lubang hitam tidak ber­warna hitam sebagaimana objek ini sering digambar­kan,” katanya dalam sebuah kuliah, seperti detikINET kutip dari The Washington Post, Rabu (14/3).

Pemahaman yang dikenal sebagai Hawking Radiation ini berhasil membuat kagum ilmuwan. Mereka mengaku takjub dengan kemam­puan Hawking dalam menarik kesimpulan antara perpa­duan pema­haman relativitas umum dari Albert Einstein yang sangat dibutuhkan da­lam memahami lubang hitam dengan mekanika kuantum sebagai dasar dari teori proses sub-atom.

Bahkan, pada 2002, Hawking sempat mengata­kan bahwa dirinya ingin formula dari Hawking Radiaton tersebut diukir di batu nisan­nya.

Dia juga mengemukakan bahwa lubang hitam bukan­lah “penjara” seperti yang di­perkirakan sebelumnya. “Ob­jek bisa keluar dari lu­bang hitam dengan terdapat kemungkinan menembus ke alam semesta yang lain. Jika kalian merasa berada di lu­bang hitam, jangan menye­rah, pasti ada jalan keluar,” ujarnya.

Ilmuwan ini pun menge­luarkan hipotesis mengenai lubang hitam mikro, objek yang merupakan sisa dari le­dakan besar (Big Bang). Ben­da ini merupakan lubang hitam dengan masa yang lebih kecil dari bintang.

“Lubang hitam mikro ke­mungkinan terletak secara ber­serakan di antariksa, wa­laupun sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya. Sayang sekali, padahal jika ditemukan, saya bisa me­nang peng­har­gaan Nobel,” can­danya.

Dia memang tidak sempat memenangkan Nobel sampai kema­tiannya. Ini karena teo­ri-teori yang dike­mu­kakan­nya belum bisa dibuktikan. Namun, para ilmuwan tidak membantah kebenaran dan keab­sahannya.

Kontroversi

Hawking memiliki pemi­kiran kontroversial lainnya. Salah satunya adalah tentang agama dan Tuhan. Dalam bukunya In A Brief History of Time, dia tidak memung­kiri kemungkinan ada peran Tuhan dalam penciptaan du­nia.

“Jika kita memenemukan teori yang lengkap, itu akan jadi keme­nangan tertinggi ma­nusia karena dengan de­mikian kita tahu isi pikiran Tu­han,” tulisnya seperti di­lan­sir The Telegraph.

Dalam bukunya The Grand Design yang diter­bitkan pada 2010, dia men­gklaim bahwa tidak perlu kekuatan ilahi yang bisa men­­je­laskan terciptanya se­mesta. “Tidak perlu meminta Tuhan untuk meng­atur ba­gai­mana alam semesta be­ker­ja,” ungkapnya.

Dalam wawancara de­ngan El Mundo, Hawking di­tanya soal pendapatnya ten­tang Tuhan yang terungkap dalam dua bukunya. Da­lam jawa­bannya, Hawking juga menyatakan bahwa dia ada­l­ah seorang ateis.

“Sebelum kita memahami ilmu pengetahuan, wajar saja untuk per­caya Tuhan men­ciptakan alam semesta. Na­mun, saat ini, ilmu peng­eta­huan menawarkan penjela­san yang lebih meyakinkan. Yang saya maksud soal ‘Kita akan tahu isi pikiran Tuhan’ adalah kita bisa meng­etahui semua yang Tuhan ketahui, apabila ada Tuhan. Yang se­be­­narnya (Tuhan) tidak ada. Saya adalah seorang ateis,” jawabnya. (dtc/Ant)

()

Baca Juga

Rekomendasi