Perayaan Qingming (Chengbeng)

Warga Tionghoa Bersihkan Makam Leluhur

JUTAAN warga keturunan Tiong­hoa di berbagai pelosok du­nia akan berziarah ke makam le­luhurnya sebagai bagian dari tradisi Qing Ming, pekan ini.

Dikenal juga sebagai 'menyapu makam', dalam upacara ini orang-orang akan membersihkan makam dan memberi persembahan kepa­da roh leluhur maupun anggota ke­luarga tercinta.

Namun dalam beberapa tahun belakangan, teknologi juga mulai me­masuki tradisi yang sudah ber­langsung selama berabad-abad.

Untuk upacara tahun ini, misal­nya, satu taman pemakaman di Nan­jing, ibu kota Provinsi Jiansu di sebelah timur Tiongkok, mena­warkan jasa 'dan sekaligus pem­bersih makam.

Jika Anda tidak bisa datang ke makam, maka karyawan di pema­kaman Yuhuatai Gongdeyuan akan membersihkan makan dan mena­ruh bunga untuk para pelanggan, yang menyaksikannya lewat video siaran langsung di aplikasi media so­sial Wechat.

Menyewa para pelayat pro­fe­sional memang menjadi semakin populer karena tidak semua orang bisa pulang ke kampung halaman saat tradisi Qing Ming untuk mem­beri penghormatan langsung kepada leluhur.

­Sebagian orang yakin bahwa peng­hormatan kepada leluhur ha­nya bisa dilakukan dengan datang langsung ke makam.

Beberapa taman pemakaman juga menerbitkan halaman ke­na­ngan di internet sehingga - lapor Shanghai Daily - orang bisa 'me­me­san penghormatan' kepada lelu­hurnya dengan menyalakan lilin atau 'hadiah' dari kertas.

Taman Pemakaman Chang­qing di ibu kota Beijing mena­warkan pembongkaran makam dan jena­zah­nya dikremasi.

Abu jenazah kemudian ditaruh di sebuah guci dan keluarga men­diang mendapat plakat leng­kap dengan kode QR-nya sebagai ma­kam 'dunia maya'.

Membakar hio dan

ba­rang-barang dari kertas

Sebagai upaya untuk menga­tasi semakin terbatasnya lahan, pihak berwenang Tiongkok me­mang mem­promosikan kremasi dan al­ter­natif lain dari pema­kaman tra­disional.

Salah satu tradisi dalam Qing Ming adalah menaruh makanan di makam leluhur. Bagaimanapun tawaran la­yanan teknologi ter­sebut tak menyingkirkan sama sekali tra­disi asli karena sejumlah orang ma­sih yakin bahwa peng­hormatan hanya bisa dilakukan dengan lang­sung mendatangani makam.

Salah satu alasan lain untuk men­­dorong 'Qing Ming ala dunia maya' adalah mengurangi polusi udara selama penyelengaraan tra­disi yang tahun 2018 ini res­minya jatuh pada 5 April namun praktik­nya berlang­sung sepanjang pekan ini.

Warga keturunan Tionghoa yakin bahwa membakar hio dan barang-barang dari kertas - terka­dang ukurannya besar- merupa­kan upaya menghormati leluhur dan mengirim uang serta barang-barang kesukaan leluhur.

Namun di Singapura, satu kuil sudah melarang pembakaran 'peti harta' yaitu kotak besar berisi ber­bagai barang-barang yang terbuat dari kertas, seperti dilaporkan The Strait Times.

Sedang di Malaysia -karena kha­watir akan demam ber­darah- be­berapa toko menjual guci dari ba­han ramah lingkung­an yang bisa ter­urai secara alami untuk mem­bakar hio karena guci biasa akan menampung air hujan dan menjadi tempat berkembang nyamuk.

Bagaimanapun sebagian orang tetap tidak berhenti untuk 'mengi­rimkan kemewahan' kepa­da lelu­hur­nya dengan membakar tiruan pakaian, tas, maupun jam bermerek terkenal atau gawai terbaru yang terbuat dari kertas. (bbc/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi