Oleh: Nevatuhella
ADA sepuluh suku (etnik) yang mendiami wilayah Sumatera Utara saat ini: Melayu, Mandailing, Batak, Karo, Nias, Padang, Jawa, Tionghoa, Aceh, dan Keling. Kerukunan hidup antar suku sudah lama terbina diwilayah Sumut. Baik oleh suku yang menjadi pemilik tanah beserta resam hidupnya, seperti suku Melayu, Batak dan Nias, Karo dan Mandailing. Mereka suku yang hadir sebagai pendatang, seperti Jawa, Aceh, Padang, Tionghoa, Keling pun sudah menyatu dengan warga asli Sumut. Walau gaya hidup masing-masing masih tercermin dalam bahasa sehari-hari, makanan dan adat istiadat lainnya.
Keragaman suku yang mendiami Sumut menguntungkan sekaligus merugikan pembangunan di Sumut. Istilah kalau sudah si A bermaga X, atau bersuku X di sebuah instansi menjadi kepala, maka para pegawai kebawah pun bersuku atau bermarga X. Ini hal lumrah, mengingat tak mudahnya menjadi seorang pegawai atau karyawan di sebuah instansi. Tapi seleksi kualitas seharusnya pula tidak dapat diabaikan.
Lalu bagaimanakah mempersatukan banyak suku ini, menjadikannya sebuah energi yang besar untuk membangun Sumut?
Waktu Sumut dipimpin oleh gubernur E.W.P. Tambunan (1978-1983), beliau yang Batak dan seorang mantan militer, telah melakukan berbagai upaya menyatukan suku yang ada. Hal ini harus dijadikan pelajaran bagi generasi saat ini, melepas kulit yang menutupi isi (substansi) dari berbagai suku. Bahwa apapun suku yang kini ada tinggal di Sumut mempunyai isi adat istiadat yang baik.
Jika ada Forum Umat Beragama (FUB), mengapa tak ada Forum Masyarakat Berbudaya (FMB)? Forum yang dapat menghimpun mereka yang ahli dan punya wawasan berbudaya yang tinggi. Sama seperti mereka yang duduk menjadi pengurus FUB.
Andai FMB ada, maka semua budaya bisa ditengarai sebagai kebudayaan Sumatera Utara. Sumut Berbudaya! Tak ada lagi istilah lokal yang saling unggul-mengungguli. Walau akar dari budaya yang ada di tiap suku masih dipertahankan dalam kelompok budaya Sumut yang ada.
Tak mudah memang mempersatukan atau membentuk FMB, namun harus dilakukan sejak kini untuk melahirkan sebuah persatuan yang kuat di Sumut. Satu rasa, hasilnya berbagai manfaat.
Di Aceh, budaya lokal tumbuh laju. Di Riau dan Kepulauan Riau demikian juga, dan lain-lain wilayah di Nusantara yang didiami oleh masyarakat mono-kultural. Kita lihat juga di Yogyakarta, disana kebudayaan tumbuh dan berkembang dengan paten. Hingga mata kita yang selama ini selalu berkiblat ke Jakarta beralih melihat kebudayaan disana yang cling.
Orang Jogja bisa dikata tidak terlalu ingin datang ke Sumut. Demikian juga orang Bandung, apalagi orang Bali. Tapi kita yang di Sumut, selalu berencana untuk menghabiskan waktu berlibur ke tiga daerah tersebut. Penerbangan swasta yang murah ke Jogja-Medan sudah dibuka juga. Untung-untung Sumut bisa kebagian rezeki dengan hal ini untuk mengundang wisatawan lokal Jogja ke sini.
Simbol Budaya
Kota Medan, ibukota Sumut sebagai kota budaya dan perdagangan. Sudah ratusan tahun, bahkan berabad-abad sudah orang-orang Melayu hidup di Medan dengan berbagai resam adat-istiadatnya. Ini tak dapat dimungkiri. Sementara di daerah pesisir Batubara, Tanjungbalai, Langkat, Percut, Bedagai, sampai Belawan, tinggal disitu orang Melayu pantai. Mereka yang hidup di awalnya berpindah-pindah (Shafwan Hadi Umri dalam “Manusia Bandar”, 2012). Sementara di tengah kota seperti Medan, Perbaungan, Binjai, Tanjungbalai, Kisaran, bermukim para raja dan keluarga besarnya. Orang-orang Melayu ini hidup dengan resam masing-masing. Kalau orang pesisir dengan ronggengnya, maka orang raja-raja dengan tarian serampang dua belas-nya.
Tepak sirih sebagai simbol silaturahmi yang diagungkan. Balai dengan bunga merawal dan sarang telornya yang menjadi hiasan yang berkeindahan. Pakaian yang sopan. Dari segi sastra pula Melayu mendominasi berbagai tutur sampai sastra tulis. Dari mulai pantun, gurindam, petatah-petitih. Sampai ke abad modern ini penulis-penulis sastra Melayu masih belum bisa ditandingi.
Ada nama Chairil Anwar, Amir Hamzah, Yoesoef Syuib, Ali Said, Ali Sukardi, sampai kini Damiri Mahmud, dan beberapa sastrawan Medan. Lain lagi penulis-penulis Roman Medan dekade tahun 1940-1970-an. Medan memang gudangnya sastrawan.
Simbol-simbol Melayu masih tegak berdiri hingga kini. Ada Mesjid Raya yang mengagumkan. Ada Istana Maimoon, Kolam Raya, dan lain-lain. Akulturasi budaya Melayu sangat jelas terjadi di kota Tanjungbalai. Antara Batak dan Melayu yang terkenal dengan pantun: Kapak bukan sembarang kapak/ Kapak terbuat dari kayu/ Batak bukan sembarang Batak/ Batak sudah jadi Melayu.
Lalu ada pula simbol-simbol yang ditinggalkan etnis Tionghoa yang berada di tengah kota Medan. Hal ini tak dapat dimungkiri, bahwa etnis Tiongkok menyumbang sedemikian rupa budaya kota Medan.
Lalu, etnik Batak secara fisik memang tidak ada meninggalkan simbol dikota Medan. Hanya dari segi perjuangan, sama dengan suku-suku lainnya memberi sumbangan yang cukup besar. Tano Batak sudah tak perlu diragukan kedahsyatannya. Dengan Danau Toba, yang merupakan salah satu danau terbesar di Asia. Orang Batak tentu sangat bangga menyatakan dirinya anak Batak, pewaris tanah Batak.
Demikian juga orang Nias. Dengan pantai-pantainya yang indah, dan budaya lompat batunya. Demikian juga Karo yang geografisnya berada di daratan tinggi, dengan dua gunung Sinabung dan Sibayak yang dibanggakan.
Realitas
Alkisah sewaktu saya masih remaja, atok perempuan saya bertanya pada kami cucu dan keponakan yang sedang menonton sandiwara di televisi. “Bini nya itu?” Atok saya bertanya ketika melihat sepasang aktor dan artis yang sedang memerankan pasangan suami-istri. Atok saya sangat malu dan merasa pantang, bahkan dosa, kalau perempuan dan laki-laki saling bermesraan yang bukan suami-istri.
Begitulah adat Melayu, terganggu dengan modernisasi dan peradaban Barat. Dan saya juga merasakan sangat tertanggu dengan tontonan televisi yang vulgar. Belakangan saya sampai tak sanggup melihat penampilan Bunga Citra Lestari yang menjadi salah seorang juri Indonesian Idol 2018.
Pasalnya pakaian beliau membuka auratnya sedemikian rupa. Begitu juga dengan penampilan Maria, Diva baru Indonesia, Juara Indonesian Idol 2018 di beberapa penampilan.
Dalam istilah kami di Tanjungbalai, pakaian Maria itu model basahan. Kalau mandi di sungai, kami mengenakan bahasan kain sarung yang diikat sampai dada, menjulur ke bawah.
Padahal ketika Maria memakai baju berlengan, menutup sebagian besar auratnya, ia manis dan sopan sekali. Cantik dan menawan di usianya yang remaja.
Saat itu saya bertanya sendiri, apa dengan penampilan Maria berbaju terbuka bagian dada, apa anak Melayu mau mengirimkan sms ke Maria?
Seandainya Maria menyandangkan ulos di bagian dadanya, tidak membuka auratnya selebar lapangan, tak keberatan anak Melayu mendukungnya. “Horas, Hidup Sumut, Berjaya Medan!” Apalagi ia meneriakkan frasa seperti ini.
Saya merindukan hidup di Sumut sebagai masanya Convivencia, yang secara harfiah berarti “hidup bersama” di abad convinience di Eropa yang berlangsung lebih dari 400 tahun. Dimana para mahasiswa dan dosen dari tiga agama samawi (Islam, Yahudi dan Nasrani) saling membantu, belajar bersama, menerjemahkan dan memahami ajaran serta ilmu pengetahuan lama untuk kemajuan bersama. ***
Penulis adalah esais, pengamat kebijakan publik










