Tugas Orang yang Berakal

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc.

Pernahkah kita bertanya pada diri, ketika diberikan akal oleh Allah sepantasnya apa saja yang kita lakukan di dunia ini? Apakah waktu yang diberikan Allah sudah dimaksimalkan untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang membuat akal kita bekerja dengan baik? Atau jangan-jangan kita tak pernah mau tahu ke arah mana sebenarnya potensi akal yang diberikan Allah difungsikan dengan sebaiknya.

Sebagai hamba Allah yang dicip­takan dengan sebagus bentuk (fii Ahsani taqwiim), kita mesti mere­fresh diri dengan selalu berta­nya, untuk apa Allah berikan akal kepada kita? Pertanyaan se­per­ti ini penting diaju­kan, agar kita bisa memaknai hidup ini dengan penuh kebahagiaan. Tanpa pernah mere­nungkan apa yang yang sudah dibe­rikan Allah kepada kita, pasti kita tak pernah mene­mukan ke­bahagia­an dan keber­limpahan nikmat di dunia ini.

Diriwayatkan, Nabi Daud as. pernah membacakan isi kitab Zabur di hadapan para sahabatnya dengan mengatakan, “Tugas orang yang bera­kal adalah tidak menyibukkan diri, kecuali dalam tiga hal. Perta­ma, bekal kembali ke kam­pung akhirat. Kedua, mencari biaya un­tuk kehidupan dunia. Ketiga, men­curi kenikmatan dengan cara halal.”

Inilah tugas kita sebagai muslim yang berakal. Jika kita mampu mengaplikasikannya di dalam kehi­dupan, tak akan ada kesulitan yang dihadapi. Sebab, inilah pola kehidu­pan orang berakal yang dipastikan benar. Ketika kita menyadari bahwa kita akan kem­bali kepada Allah dan bakal diminta pertanggungjawaban oleh-Nya, pasti kita akan menyiapkan bekal dengan sebaik-baiknya. Sebab, laporan pertanggungjawaban atas karunia yang diberikan-Nya bakal menentu­kan kita bakal masuk pintu surga atau pintu neraka. Plus, Setiap tinda­kan yang dilakukan akan diper­lihat­kan-Nya balasan­nya. Allah SWT berfir­man, “Ba­rang­siapa yang me­nger­jakan ke­baikan seberat dzar­rah­­pun, niscaya dia akan melihat (ba­la­sannya). Dan barangsiapa yang me­­ngerjakan kejahatan seberat dzarrah­pun niscaya dia akan melihat (bala­san­nya) pula.” (QS:Az-Zalzalah:7-8)

Ketika di dalam al-Qur’an, Allah SWT selalu menyindir kita dengan firman-Nya, “Apakah kamu tidak berakal?” menunjuk­kan potensi bahwa kita, kecen­derungannya, ku­rang bijak­sana menggunakan fungsi akal. Mesti­nya, kita gunakan akal yang dibe­rikan untuk memikirkan amal apa yang bakal dibawa saat kembali kepada-Nya. Amal itu tidak mesti banyak, kata Rasulullah SAW. Biar sedikit, asal rutin dilakukan itu bisa menjadi bekal.

Selain amal, iringilah sikap syu­kur dan sabar dalam beramal. Inilah pola penggunaan akal yang benar. Bersyukur sudah bisa diberi kesem­patan oleh Allah untuk beramal. Ber­sa­bar, jika amal yang dilakukan belum maksimal atau belum sesuai dengan keinginan kita. Serahkan hasil amal tersebut kepada Allah SWT.

Jika konsep ini kita berlakukan, tanpa disadari kita telah memben­tuk “ihsan” dalam diri. Kita melihat Allah SWT yang mengatur dan menentukan segala-Nya, bukan kita sendiri. Sehingga tak ada penyesalan dan kesedihan bila amal yang dijadikan bekal belum sem­pur­na. Tak akan ada kebanggaan bila amal yang dilakukan dengan sempurna. Sebab semua yang terjadi atas izin Allah, bukan ke­mampuan kita semata-mata.

Bila akal sudah difungsikan untuk mempersiapkan bekal kem­bali kepa­da Allah, saatnya fung­sikan fisik atau tubuh kita untuk mencari biaya kehidupan di dunia ini. Artinya, orang yang berakal mes­ki menjauh­kan dirinya dari sifat meminta-minta. Beramal silahkan, tapi bekerja wajib dilaku­kan. Maknya, jangan biasa­kan ‘ta­ngan berada di bawah’. Sebab ini merendahkan diri kita di hadapan makhluk Allah yang sebenarnya tak memiliki kemampuan apa-apa, ke­cuali Allah yang memberinya ke­mam­puan. Singkat kata, jangan me­ren­dahkan diri kepada sesama makhluk.

Ketika kita sudah memahami bah­wa fisik yang diberikan Allah SWT kelak akan diminta pertang­gungja­waban, fungsikanlah de­ngan sebaik-baiknya. Biar saat fisik nanti ditanya oleh Allah, bakal menjawab bahwa ia dipakai buat bekerja untuk membiayai kehi­dupan di dunia ini. Meski demi­kian, dalam bekerja selip­kan sikap syukur dan sabar. Bekerja dengan maksimal, tapi jangan jadikan hasil sebagai target. Sebab yang dipe­rin­tahkan kepada kita bekerja. Hasil­nya, biarkan Allah yang membe­rinya.

Karena itu, jadikan pekerjaan sebagai langkah untuk menerima re­zeki dari Allah. Itu mindset utama kita. Bila ternyata rezeki yang dibe­rikan sedikit, tetap bersyukur dan ber­sabar. Sebab dibalik kesyukuran itu, Allah akan berikan nikmat atau rezeki yang lebih besar lagi. Dibalik kesabaran atas rezeki yang diberi­kan, akan membuat kita menjadi orang expert (ahli) pada bidang pe­kerjaan tersebut. Bukan­kah semakin expert, maka rezeki akan semakin besar?

Setelah kita sudah meng­guna­kan akal untuk berfikir tentang ibadah yang layak dijadikan bekal dan juga sudah menggunakan fisik untuk bekerja, maka selanjutnya kita harus bisa mendapatkan kenikmatan yang disediakan Allah di alam semesta ini dengan cara yang halal. Artinya, ta­nyakan pada diri kita, apakah kenik­matan yang diberikan Allah ini halal untukku atau tidak? Sebab, tak semua rezeki yang diberikan Allah, kita nikmati sendiri. Ada kemung­kinan rezeki orang lain di dalamnya. Di situlah kita mendapatkan kenik­matan secara halal, ketidak-seraka­han de­ngan rezeki yang diberikan Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiga hal yang merusak. Yaitu, terlalu bakhil, menuruti hawa nafsu, dan bangga terhadap diri sendiri.” Inilah yang bisa mengu­bah kenikmatan yang halal menjadi haram. Seharus­nya kenik­matan tersebut bisa difung­sikan untuk berbagi kepada orang lain, akhirnya dinikmati sendiri. Bahkan sampai-sampai menjadi tak layak dinikmati lagi. Contoh seder­hananya, ada makan yang banyak tapi tak mau dibagi ke­pada tetangga. Hingga suatu hal me­nye­babkan makanan tersebut menjadi basi, tak bisa dinikmati lagi. Bukankah ini namanya merubah kenikmatan yang halal menjadi kenikmatan yang haram?

Padahal, ketika nikmat tersebut dibagi, akan membuat kita dan orang lain bahagia. Yang awalnya dilaku­kan sendiri, bisa menjadi berdua. Tapi karena dorongan naf­su yang serakah membuat segala­nya menjadi berubah. Halal beru­bah menjadi ha­ram. Awalnya berjanji tapi berubah mengingkari. Bukankah menepati janji kenik­matan yang halal, tapi ketika meng­ingkari berubah menjadi haram?

Begitu juga dengan bangga ter­ha­dap diri sendiri. Merasa diri lebih kaya dibanding orang lain. Awal­nya kekayaan tersebut menja­di kenikma­tan yang halal, tapi karena dibaluti ego merasa lebih dari yang lain, beru­bah menjadi ke­nikmatan yang haram. Sebab merasa memil­iki segalanya, pada­hal semua itu adalah milik Allah SWT.

Karena itu, pesan singkat Allah yang tercantum di dalam kitab Zabur lalu dibacakan oleh Nabi Daud tersebut mesti menjadi perha­tian kita. Hiduplah untuk mencari bekal saat menghadap Allah. Bekerjalah hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Carilah kenik­matan yang halal dengan senantiasa menjaga hati untuk tidak pelit dan berbangga diri. Semoga Allah senantiasa menja­dikan kita ma­nusia yang berakal dan manusia yang benar-benar mengapli­kasikan ahsanut taqwim yang dije­laskan Allah di surat At-Tin. Amiin.

Penulis adalah Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan.

()

Baca Juga

Rekomendasi