Lubang Buaya Riwayatmu Dulu

Oleh: Maulana Syamsuri. PROF. Dr.M.Habib Mustopo dalam buku Sejarah menulis, bahwa PKI mulai melakukan latihan militer pada bulan September 1965. Latihan militer itu berlangsung di Lubang Buaya Pondok Gede Jakarta.

 Mereka yang dilatih adalah kader dan ormas PKI, seperti Buruh Angkatan Udara, Barisan Tani Indonesia, Badan Per­musyawatan Kewar­ganegaraan Indonesia, Pemuda Rak­yat, Universitas Republika, Serikat Buruh Kereta Api, SB Postel, SOBSI, Pertindo dan Buruh Tani non partai

Mereka yang datang dari berbagai daerah tidak diasramakan, tetapi tinggal di kemah-kemah dan rumah-rumah rakyat di sekitar tempat latihan militer itu.

Mereka juga mengadakan rapat kor­dinasi dan konsolidasi. Rapat me­mutuskan antara lain, membentuk Struktur Organi­sasi dan Pengendalian Perebutan Kekuasaan. Rapat juga me­mu­tus­kan sasaran Gerakan Pasukan Pasopati, yakni A.Yani, A.H.Na­su­tion, M.T. Haryono, Suprapto, DI Pan­jaitan, S.Parman, dan Sutoyo S. Sasaran pasukan Bima Sakti adalah objek-objek vital seperti studio RRI, Gedung Telekomunikasi dan kawa­san penting di sekitar Lapangan Monas.

Gerakan akan dilakukan pada 30 September 1965 pukul 04.00. Namun karena belum berkumpulnya seluruh komandan satuan yang akan melaku­kan penculikan, pelaksanaan ditunda 1 Oktober 1965. Tetapi gerakan itu tetap dinamakan Gerakan 30 Sepem­ber.

Setelah persiapan cukup matang, pada dinihari 1 Oktober 1965 PKI melakukan aksi penculikan dan penyiksaan serta pembunuhan terha­dap Dewan Jenderal. Dalam peuculi­kan itu A.H.Nasution selamat, namun putrinya, Ade Irma Nasution dan ajudannya Pierre Tendean menjadi korban dan tewas.

Korban penculikan disertai pem­bu­nuhan sadis itu dibawa dan dimasukkan ke Lubang Buaya .

D.N.Aidit Pulang Kampung

Sejak pelariannya ke Moskow, D.N Aidit kembali ke Indonesia dengan membawa konsep baru yang dinamakan “Jalan Demokrasi Rakyat Bagi Indonesia”. Posisi PKI memang semakin mantap berkat agitasi dan propaganda D.N.Aidit. Pada Pemilu 1955 PKI berhasil mendapat 6 juta suara.

Gerakan G.30.S/PKI menewaskan 7 Jenderal yang kelak sebagai Pah­lawan Revolusi, yakni Jenderal A.Yani, Letnan R.Soeprapto. Letnan Mas Tirtodarmo Harjono, Letnan Sis­wondo Parman, Mayor D.I.Panjaitan, Mayor Sutoyo Siswo­miharjo, dan Kapten Pierre Tendean.

Jenazah 7 pahlawan revolusi itu dibuang ke dalam sumur tua berdia­meter 75 sentimeter. Sumur itu dike­nal dengan nama Lubang Buaya.

Lubang Buaya Riwayatmu Dulu

Lubang Buaya yang terletak di Jakarta Timur memiliki se­jarah yang unik. Lubang Buaya dinamakan oleh Datuk Banjir, orang sakti kala itu, yang bermukim di sekitar Lubang Buaya. Datuk Banjir adalah seorang pejuang kemerdekaan. Tempat itu memang dikenal sebagai markas buaya ganas.

Datuk Banjir pernah melintas sungai besar menggunakan getek (perahu kecil). Di tengah sungai besar, tiba-tiba sampai pada ruang kosong dan tenggelam, Datuk Banjir teng­gelam ke dasar sungai dan melihat banyak buaya yang sangat ganas. Sejak itulah kawasan itu disebut Lubang Buaya.

Selanjutnya Prof.Dr.M.Habib Mustopo menulis, tentang penyele­saian aspek politik terhadap para pelaku G.30.S/PKI sebagaimana diputuskan dalam sidang kabinet Dwikora 6 Oktober 1965. Belum terlihat adanya tanda-tanda di­lak­sa­nakan. Hal itu memunculkan berbagai aksi menuntut pe­merintah agar segera menyelesaikan masalah tersebut dengan seadil-adilnya.

Aksi tersebut dilakukan oleh KAMI, KAPPI, KAPI dan lain-lain. Aksi tersebut disertai pula oleh Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia, Kesatuan Aksi Wanita Indonesia, Kesatuan Aksi Guru Indonesia. Aksi-aksi itu tergabung dalam Front Pancasila.

Gelombamg aksi itu menuntut pembubaran PKI serta ormasnya. Juga tercetus Tri Tuntutan Hati Nurani Rakyat. Front Pancasila menuntut 3 hal (Tritura). Tiga tuntutan Rakyat itu dikenal dengan nama Tritura. Tiga tuntutan itu : 1. Bubarkan PKI. 2. Pembersihan Kabinet dari unsur-unsur G.30.S/PKI . 3. Penurunan harga/Perbaikan ekonomi.

Penumpasan G.30.S/PKI

Setelah mendapatkan gambaran jelas dan keyakinan bahwa Gerakan 30 Septermbar 1965 adalah gerakan PKI, Pangkostrad Mayjen TNI Soe­harto segera menyusun rencana me­numpas gerakan pengkhianatan ter­sebut.

Operasi penumpasan diarahkan pada usaha merebut studio RRI dan kantor Besar Telkom. Usaha itupun berhasil dengan gemilang. Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah yang diguna­kan sebagai basis G.30.S./PKI berhasil dikuasai .

Perwira yang tewas akibat pencu­likan, penyiksaan dan pem­bunuhan oleh PKI disemayamkan di markas besar TNI/AD Jalan Merdeka Utara Jakarta Pusat. Esok harinya dengan upacara kebesaran militer para jenazah perwira tersebut di­ma­kamkan dengan upacara militer dan dima­kamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.

Peristiwa Bandar Betsy, juga masuk catatan Prof.Dr.M.Ha­bib Mustopo. Barisan Tani Indonesia secara liar menanami areal perke­bunan milik negara. 14 Mei 1965 pihak perkebunan berusaha mem­bersihkan tanaman liar itu dengan traktor. Ketika traktor itu mogok Pelda Soejono berusaha menarik traktor itu, tiba-tiba dikero­yok 200 orang anggota BTI dan ber­teriak, mengejek Pelda Soejono sebagai “Tentera Nekolim”.

Seluruh masyarakat Indonesia berharap peristiwa pem­berontakan G.30.S/PKI tidak terulang lagi. Seluruh masyarakat berharap semua pihak mempertahankan NKRI.

Peristiwa di Lubang Buaya adalah tragedi yang amat me­nye­dihkan, memilukan dan tidak akan terlupakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Lubang Buaya tetap menyisakan kenangan pedih, pilu dan teramat pahit. ***

Penulis adalah sastrawan/novelis

()

Baca Juga

Rekomendasi