SENTINEL adalah salah satu dari penduduk asli Kepulauan Andaman yang terletak di Teluk Benggala. Mereka menghuni Pulau Sentinel Utara. Bangsa ini merupakan bangsa yang terpencil dan terbebas dari pengaruh luar. Pada sensus India tahun 2001, diperkirakan 39 individu menghuni Sentinel.
Suku Sentinel memang terkenal sebagai suku paling tersembunyi di dunia dan tidak mau berinteraksi dengan orang luar. Setiap orang yang akan mendekat ke pulau mereka di daerah Teluk Benggala akan dipanah sebelum menginjakkan kaki di pantai. Hal ini seperti yang dialami seorang turis asal Amerika bernama John Chau. Dia meninggal dunia setelah menginjakkan kaki di Pulau Sentinel Utara, Kepulauan Andaman. Dirinya tewas dipanah Suku Sentinel, salah satu suku paling berbahaya di dunia.
Sebelumnya, di akhir abad ke-20, pemerintah India, yang mengelola Kepulauan Andaman dan Nikobar, tempat Sentinel Utara berada berusaha melakukan kontak dengan suku Sentinel. Namun, upaya itu berakhir dengan proyektil yang ditembakkan penduduk asli pulau tersebut dari pinggir pantai.
Pada 1970, salah satu tim dokumenter National Geographic juga mendapat luka terkena tembakan tombak saat melakukan pengambilan gambar di sana.
Meskipun kebanyakan kontak tidak berhasil, tetapi dua pertemuan di awal 1990-an menyatakan bahwa suku Sentinel bersedia menerima kelapa dari para antropolog yang tergabung dalam Anthropological Survey of India (AnSI).
Di antara tim antropolog itu, hanya ada satu perempuan bernama Madhumala Chattopadhyay. Ia ingin mempelajari suku-suku pedalaman di Kepulauan Andaman dan Nikobar sejak anak-anak. Saat dewasa, antropolog ini kemudian menghabiskan waktu enam tahun untuk meneliti serta mempublikasikan 20 karya ilmiah tentang mereka. Chattopadhyay juga membuat buku berjudul Tribes of Car Nicobar.
Pada Januari 1991, Chattopadhyay mendapat kesempatan pertamanya untuk bergabung dengan tim yang akan mengunjungi Pulau Sentinel Utara. Namun, ada sedikit kendala: saat itu, wanita diragukan untuk terlibat dalam ekspedisi suku pedalaman yang 'tidak ramah'.
Berkat usaha kerasnya, Chattopadhyay akhirnya diizinkan berkunjung ke Pulau Sentinel Utara. Dengan begitu, ia menjadi antropolog wanita pertama yang pernah melakukan kontak dengan suku Sentinel.
Kelapa mengambang
"Kami semua sedikit gelisah selama ekspedisi (pada Januari 1991) karena sebelumnya tim yang dikirim pemerintah mendapat sambutan tidak baik seperti biasanya," kenang Chattopadhyay saat diwawancarai National Geographic, 27 tahun setelahnya.
Saat itu, tim Chattopadhyay mencapai pulau dengan perahu kecil dan mengalami kesulitan untuk berlabuh. Beberapa anggota suku Sentinel berada di pinggir pantai dengan membawa busur dan panah.
"Kami kemudian mulai mengapungkan buah kelapa ke arah mereka. Secara mengejutkan, anggota suku Sentinel menginjakkan kaki ke air untuk mengambil kelapa tersebut," cerita Chattopadhyay.
Dua atau tiga jam selanjutnya, pria-pria Sentinel berulang kali masuk ke dalam air untuk mengumpulkan kelapa, yang dianggap sesuatu baru karena buah ini tidak ada di pulau mereka. Sementara wanita dan anak-anak menonton dari kejauhan.
Suku Sentinel menerima kelapa yang diberikan para antropolog. Meski mereka menerima kelapa yang diberikan para antropolog, tapi Chattopadhyay menyatakan bahwa ancaman serangan masih terasa.
"Pria muda berusia sekitar 19 atau 20 tahun berdiri bersama perempuan di pantai dan tiba-tiba ia mengangkat busurnya. Saya harus berusaha keras memanggilnya menggunakan bahasa suku lain yang saya pelajari di wilayah lain agar dia mau mengambil kelapa.
Wanita di sebelahnya memintanya mengambil kelapa dan kemudian dia melakukannya," terang Chattopadhyay.
"Tak lama kemudian, beberapa anggota suku datang dan menyentuh perahu. Gerakan yang kami rasakan menunjukkan bahwa mereka tak takut lagi terhadap kami," imbuhnya. Tim ANSI kemudian berhasil mencapai bibir pantai. Namun, anggota suku tidak mengajak para antropolog ke tempat tinggalnya.
Pertemuan selanjutnya
Sepuluh bulan kemudian, Chattopadhyay datang kembali ke Pulau Sentinel Utara bersama timnya.
"Kali ini, anggota tim kami lebih besar karena pemerintah ingin orang-orang Sentinel lebih familiar dengan para peneliti," ujarnya. "Mereka melihat kami mendekat dan mendatangi kami tanpa senjata."
Tidak puas dengan mengumpulkan kelapa satu per satu, kali ini suku Sentinel naik ke perahu untuk mengambil sekarung buah sekaligus. Mereka bahkan berusaha membawa senapan milik polisi, mengira itu adalah sepotong logam. (bms/ngi/wkp/es)










