Demam Tifoid (Penyakit Tipes)

demam-tifoid-penyakit-tipes

Oleh: Eka Putri, S.Ked.

Demam tifoid atau sering disebut tipes adalah penyakit cukup berbahaya yang disebabkan infeksi bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya, yaitu Salmonella typhi atau Salmonella Paratyphi yang terutama menyerang bagian saluran pencernaan.

Penyakit ini dapat ditemu­kan di se­luruh dunia, dan di­sebarkan mela­lui makanan dan minuman yang te­lah ter­cemar oleh tinja. Sumber pe­nu­laran penyakit demam ti­foid ada­lah penderita yang aktif, penderita da­lam fase kon­valesen, dan kronik ka­rier.

Orang Indonesia sering menye­but­nya dengan penya­kit tifus atau tipus atau tipes, meskipun dalam is­tilah ke­dok­teran sebetulnya tifus ada­­­lah penyakit lain dise­babkan bak­teri yang dibawa hewan pe­ngerat se­perti tikus. De­mam tifoid adalah pe­nya­kit sis­temik yang akut yang mem­­­punyai karakteritik demam, sa­kit kepala dan rasa tidak enak pada ba­gian abdomen berlangsung lebih ku­rang 3 minggu yang juga disertai ge­jala-gejala perut pembesar­an lim­pa dan erupsi kulit.

Penyebab demam tifoid ma­suk me­lalui minum atau ma­kan, maka­nan atau air yang terkontaminasi bak­teri. Orang yang terinfeksi pe­nya­­kit tifoid dapat mencemari pa­so­kan air di sekitarnya me­lalui tinja yang mengandung konsentrasi tinggi dari bakteri penyebab tipes. Kon­ta­minasi pasokan air pada gilirannya menc­emari pasokan makan­an. Bak­teri dapat bertahan se­lama berming­gu-minggu dalam air atau limbah kering.

Sekitar 3-5 persen orang men­jadi pembawa bakteri se­telah terinfeksi yang meru­pa­kan penyebab demam ti­foid. Sedangkan orang lain yang terinfeksi mampu men­derita pe­nyakit yang sangat ringan bahkan tidak tampak sakit.

Orang-orang ini dapat men­jadi operator bakteri jang­­ka panjang (penular bak­teri) meskipun mereka tidak memiliki gejala dan men­jadi sumber wabah baru demam tifoid selama berta­hun-tahun.

Faktor Risiko

• Tertular oleh penderita lain, baik be­rasal dari tinja, urin, ataupun mun­ta­han yang sudah tercemar dengan bak­te­ri Salmonella typhi

• Daya tahan tubuh yang rendah atau belum imunisasi lengkap

• Kebiasaan jajan di tem­pat yang kurang terjamin ke­bersihannya

• Bermain di tempat-tem­pat yang ter­cemar oleh bak­teri Salmonella typhi (pasir, tanah)

• Kebersihan diri yang ku­rang (ti­dak mencuci tangan sebelum makan).

• Bekerja atau mengun­jungi da­erah dengan wabah demam tifoid

Gejala demam tifoid se­ring kali tidak khas. Sering kali gejala awal tifoid tampak seperti gejala flu atau radang tenggorokan. Pada tahap le­bih lanjut gejala tifoid juga se­ring kali seperti demam ber­­darah. Masa inkubasi de­mam tifoid ini biasanya 1-2 minggu, dan durasi penyakit ada­lah sekitar 3-4 minggu. Gejala tifoid antara lain:

1. Demam suhu di atas 38°C, De­mam pada tifoid cukup khas. Minggu pertama sete­lah seseorang terinfeksi bak­teri penyebab tifoid, orang ter­se­but akan mengalami de­mam ri­ngan. Demam sema­kin hari se­makin me­ningkat. Demam tinggi ak­hirnya ter­jadi pada minggu ke dua. De­mam bias­anya muncul pada wak­tu sore hari dimana pa­sien me­rasa meng­gigil. Kaki dan tangan teraba di­ngin, se­dangkan badan teraba panas.

2. Bradikardia relatif yai­tu jumlah nadi per menit yang tidak sesuai dengan kon­­disi penderita. Normal­nya, bila suhu badan mening­kat ma­ka kecepatan nadi akan me­ningkat. Namun pada ti­foid, kecepatan nadi tidak me­ningkat.

3. Lidah tifoid yaitu lidah pada penderita tifoid cukup khas, yakni lidah berselaput keputihan pada bagian tengah lidah dan merah di bagian pinggir.

4. Keluhan pencernaan, seperti mual, perut kembung, sukar buang air besar, atau sebaliknya, buang air besar encer.

5. Keluhan saluran perna­pasan, se­perti batuk, pilek.

6. Gejala lainnya, seperti ma­ta me­­rah, sakit kepala, se­sak napas, pe­gal-pegal, nyeri sendi, dan sebagainya.

Dalam mendiagno­sis de­mam tifoid perlu ditanyakan tentang ri­wa­yat perjalan di daerah endemis, ma­kanan yang dikonsumsi. Masa in­ku­basi biasanya 1-2 minggu dengan ren­­tang antara 3-60 hari. >75% ka­sus demam ti­foid dijumpai demam dan 30-40% kasus nyeri perut. De­mam bisa berkepanjangan sam­pai 4 ming­gu jika tidak diobati. Sifat de­mam adalah meningkat perlahan-la­han dan tertama pada sore hingga malam.

Gejala klinis bervariasi da­ri ri­ngan sampai berat, bah­kan dapat me­ng­a­kibatkan kematian. Pada ming­gu per­tama gejala klinis biasa­nya ti­dak berbeda dengan penya­kit umum yaitu: demam, nye­ri kepala, pu­sing, nyeri otot, anoreksia, mual, mun­tah, obs­tipasi atau diare, pera­sa­an tidak enak, batuk dan diare. Pada minggu kedua gejala menjadi jelas, bradi­kar­di relative, lidah tifoid, pembe­saran ha­ti, pembesaran lim­pa, perut kem­bung, sampai pe­nurunan kesadaran.

Pada pemeriksaan darah bisa di­temukan leukopenia (sel darah pu­tih yang menu­run), dapat pula di­jum­pai normal ataupun sedikit me­ning­kat. Bisa juga dijumpai trom­bosit yang menurun dan laju endap darah yang me­ningkat. Perlu juga dilakukan pemeriksaan isolasi dari bakteri Salmonella typhi yaitu kultur darah, bone marrow, dan feses.

Kultur darah biasanya po­sitif pa­da hari 7-10 demam dengan sen­si­tifitas 90% dan turun menjadi 50% pada minggu ketiga, sedangkan bone mar­row aspiration culture dire­ko­mendasikan sete­lah periode tersebut terutama setelah mendapatkan terapi anti­biotika. Kultur pada feses dila­ku­kan pada minggu keti­ga. Pemerik­saan lain yang da­pat juga dilakukan di­ anta­ranya yaitu uji widal, tubex test, Typhidot, dan PCR.

Penatalaksanaan

• Istirahat dan Perawat­an

Tirah baring dan perawat­an professional bertujuan un­tuk mencegah komplikasi, akan membantu proses pe­nyembuhan. Tirah baring de­ngan perawatan sepenuhnya di tempat tidur, seperti ma­kan, minum, mandi, buang air kecil dan buang air besar akan membantu dan mem­per­cepat masa penyembuhan. Dalam pera­wa­tan perlu sekali dijaga kebersihan tem­pat tidur, pakaian, dan perleng­ka­pan yang dipakai.

• Diet dan Terapi Penun­jang

Diet merupakan hal yang cukup penting dalam proses penyembuhan pe­nyakit de­mam tifoid, karena ma­kanan yang kurang akan menu­run­kan keadaan umum dan gizi pende­rita akan semakin turun dan proses penyembuhan akan menjadi lama.

Diet ma­kanan harus me­ngandung cu­kup cairan dan tinggi protein, serta rendah se­rat. Diet ber­tahap mulai da­ri bubur saring, bubur ka­sar hingga nasi, yang per­ubah­an diet tersebut disesuai­kan dengan tingkat kesem­buhan pasien. Diet tinggi se­rat akan meningkatkan ker­ja usus sehingga resiko perfo­rasi usus lebih tinggi.

• Pemberian Antibiotik Pilihan

Beberapa antibiotik efektif untuk pengobatan demam ti­foid. Kloram­fe­nikol adalah obat pilihan selama berta­hun-tahun, karena efek sam­ping yang serius seperti pe­nurunan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit, kloramfenikol telah di­gan­ti­kan oleh antibiotik yang efek­tif lainnya.

Pilihan anti­biotik dipandu dengan mengidentifikasi wi­layah geografis di mana in­feksi terjadi (krisis ter­ten­tu di Indonesia menunjukkan res­is­ten­si yang signifikan ter­hadap be­be­rapa antibiotik).

Jika kambuh terjadi, maka anti­biotik lain perlu diberi­kan, tentunya de­ngan potensi kekuatan yang lebih tinggi. Res­istensi antibiotik terjadi ke­tika obat gejala tipes yang dibe­rikan tidak berkhasiat un­tuk dimi­num, atau banyak dari kita yang mem­beli obat gejala tipes se­cara man­diri di apotek tanpa resep dokter. Hal ini tidak disadari justru akan mem­bahayakan, karena ketika se­mua antibiotik tidak dapat diguna­kan lagi, maka infeksi bakteri tidak dapat disembuhkan lagi.

Pencegahan

1. Menghindari jajan di tem­pat yang kurang terjamin kebersihannya

2. Menjaga kebersihan ling­kungan

3. Membiasakan mencuci tangan sebelum makan de­ngan sabun, minimal selama 15 detik

4. Mencuci sayuran dan buah-buahan sampai bersih dengan air mengalir sebelum di makan

5. Menghindari mi­num air yang tidak diproses

6. Menghindari minum de­ngan es batu yang tidak je­las asalnya

7. Vaksin tifoid

Komplikasi demam tifoid ter­ma­suk kejang, ensefalo­pa­ti, perdarahan dan perforasi usus, peritonitis, koma, diare, dehidrasi, syok septik, mio­karditis, pneumonia, osteo­mi­elitis dan anemia. Pada ba­yi muda, dapat pula terjadi syok dan hipotermia. Pa­da ke­adaan berat dapat meng­aki­batkan kematian.

(Penulis adalah mahasis­wi dari Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia (FK-UNPRI)

()

Baca Juga

Rekomendasi