Medan, (Analisa). Stasiun Klimatologi Deliserdang menyatakan badai matahari yang terjadi pada 15 Maret 2019, tidak berdampak signifikan pada perubahan cuaca di Indonesia. Namun cuaca yang cukup panas dirasakan masyarakat dan hujan bersifat lokal yang umumnya terjadi di sebagian wilayah Sumatera Utara merupakan sesuatu hal yang biasa terjadi, mengingat posisi matahari persis berada di garis ekuator.
Kepala Stasiun Klimatologi Deliserdang Klaus Johanes Apoh Damanik dalam keterangan persnya kepada Analisa, Minggu (17/3) menjelaskan, saat ini suhu udara di wilayah Kota Medan dan sekitarnya masih dalam kondisi normal, yakni berada pada kisaran 33.0 derajat celsius-35.0 derajat celsius dengan kondisi cuaca umumnya cerah berawan hingga hujan ringan di beberapa tempat. Sedangkan secara umum saat ini sebagian wilayah Sumatera Utara masih mengalami musim kemarau.
Klaus didampingi Kasi Data dan Informasi Charles Alexander Tari menjelaskan, badai matahari atau juga dikenal sebagai badai geomagnetik adalah gangguan sementara pada lapisan magnetosfer bumi yang diakibatkan interaksi antara angin matahari dengan medan magnet bumi. Fenomena ini rutin terjadi sebagai akibat dari aktivitas pelontaran massa korona (Coronal Mass Ejection/CME) di matahari. “Badai ini terjadi akibat lubang korona di sekitar ekuator matahari yang bisa melepaskan gelombang magnetik,” jelas Damanik.
Lebih lanjut Alexander Tari menyebutkan, beberapa waktu yang lalu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyatakan, badai matahari yang terjadi diperkirakan akan mencapai bumi pada 15 Maret 2019. Badai geomagnetik ini diperkirakan terjadi pada kategori G1 (Minor) dengan nilai indeks Kp = 5, artinya terjadi gangguan lemah pada jaringan listrik terutama di wilayah lintang tinggi serta kemungkinan gangguan minor pada sistem satelit.
Peningkatan suhu
Lebih lanjut Klaus menjelaskan, adanya peningkatan suhu udara di Kota Medan dan beberapa wilayah Sumatera Utara khususnya wilayah pantai timur dan lereng timur dalam beberapa waktu ini bukan disebabkan badai matahari, tetapi lebih dikarenakan adanya pengaruh gerak semu matahari di mana saat ini pergerakan matahari dari belahan bumi utara menuju selatan.
“Pada 23 Maret nanti posisi matahari tepat berada di atas garis ekuator. Hal ini menyebabkan daerah sekitar ekuator mendapat penyinaran maksimal sehingga terjadi peningkatan suhu udara permukaan,” ungkapnya.
Lebih lanjut dia menyebutkan, pola angin di Sumatera Utara didominasi dari arah timur laut dengan kecepatan 5-18 knots dan terdapat gangguan siklonik berupa siklon tropis Savannah di Samudera Hindia bagian selatan Pulau Sumatera.
Dijelaskan Alexander, kondisi ini mengakibatkan daerah belokan angin (shearline) di wilayah Sumatera Utara yang membawa uap air dari Laut Cina Selatan melewati Sumatera Utara menuju daerah siklon tropis tersebut, sehingga pembentukan awan konvektif penyebab hujan kurang signifikan terjadi hampir di seluruh wilayah Sumatera Utara.
Dalam keterangannya, Klaus Damanik mengungkapkan bahwa sesuai penjelasan di atas maka Stasiun Klimatologi Deliserdang mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh adanya isu terkait fenomena badai matahari maupun terjadinya peningkatan suhu tersebut, mengingat hal itu merupakan fenomena alam yang biasa terjadi.
Kepada masyarakat, kata Damanik diimbau untuk mengupdate informasi cuaca dan iklim melalui sosial media seperti Instagram pada akun @infoBMKG dan @staklimdsd, Website pada www.bmkgsampali.net, Youtube: Stasiun Klimatologi Deli Serdang. (rmd)










