Oleh: Rhinto Sustono
KAJIAN arsitektur kekinian sudah merambah segala aspek bangunan, baik perkantoran, museum, rumah, hingga fasilitas publik. Berangkat dari sisi fungsional dan atas ‘kekinian’ itu, perkembangan arsitektur abad ke-21 kini tidak lagi terpaku pada satu gaya dominan. Maka muncullah arsitektur kontemporer yang digagas dengan mengadopsi ragam gaya berbeda.
Pascagaya-modernisme dan munculnya teknologi canggih yang terus terbarukan, arsitektur pun beradaptasi konseptualnya dan lebih mengarah pada gaya ekspresif. Tidak sekadar pemanfaatan teknologi tinggi, berbagai pendekatan yang lazim diaplikasikan pada desain kontemporer ini pun menggunakan material bangunan terkini.
Tak ada keraguan jika harus mengaplikasikan desain kontemporer pada bangunan yang tinggi dan lengkap segala fasilitas modernnya. Melalui desain tubular, memungkinkan arsitek mendesain konstruksi bangunan tinggi, ringan, dan lebih kuat dibanding bangunan abad sebelumnya. Apalagi kini komputer meringankan kerja arsitek dalam mendesain rancang bangun tiga dimensi, bahkan lebih presisi dan cepat.
Meski gaya kontemporer termasuk kekinian, namun tidak berarti gaya ini akan terhenti sampai di sini. Pun tidak berarti menjadi pilihan gaya yang terpopuler. Bagi kebanyakan orang yang ingin keluar dari gaya arsitektur yang konvensional dan ingin terlihat lebih berbeda, gaya kontemporer yang dinamis ini akan jadi prioritas pilihan.
Sifat dinamis pada gaya kontemporer, secara konstan akan terus berubah. Bukan tidak mungkin, gaya ini kelak juga akan menjadi arsitektur konvensional seperti gaya-gaya arsitektur terdahulu. Karakteristik utama sebagai pembeda arsitektur kontemporer dengan pendahulunya, yakni menggabungan berbagai elemen gaya arsitektur tanpa ada satu elemen gaya yang lebih menonjol.
Gambaran sederhana arsitektur kontemporer dapat dilihat dari eksplorasi bentuk atapnya. Kekinian mungkin sudah jarang terlihat atap berbentuk perisai layaknya atap konvensional. Bentuk atap yang ada kini lebih datar dengan overstack, bahkan lebih berani mengeksplor bentuk unik yang tidak umum, misalnya melengkung atau bentuk-bentuk dinamis lainnya.
Kekhasan lainnya dari arsitektur kontemporer yakni dengan pemanfaatan pencahayaan alami. Konsep ini diterapkan pada bukaan-bukaan besar, skylight, pengadaan void rumah, hingga pemanfaatan material kaca (material transparan) lainnya.
Pada sisi interiornya, gaya kontemporer ini lebih mengintegrasikan keberadaan ruangnya, bahkan lebih terbuka. Aplikasi gaya ini banyak ditemukan pada gedung layanan umum, juga di kantor.
Secara kasat mata, bagian fasad rumah atau fasad bangunan pada arsitektur kontemporer menjadi ruang kreasi tanpa batas. Mulai dari penerapan material sederhana, hingga penggunaan material yang dinamis.
Dari berbagai literasi, salah satu keunggulan arsitektur kontemporer adalah terciptanya keselarasan hubungan antara bangunan dan lingkungan sekitarnya. Meski menyajikan variasi rancangan lansekap hingga pemanfaatan lingkungan dan alam sekitarnya, namun konsep kontemporer tetap tersaji apik dari segi visual maupun fungsinya.
Salah satu bangunan bergaya kontemporer ini dapat dikenali melalui beberapa contoh bangunan monumental di beberapa negara. The Capital Gate Tower in Abu Dhabi – United Arab Emirates karya RMJM, salah satu contohnya.
Gedung pencakar langit yang memiliki 35 lantai ini tampil ekstrem dan sangat berbeda dibanding dengan rancang bangun gedung-gedung tinggi yang ada sebelumnya. Apalagi secara konstruksi meninggi, memiliki gubahan masa melingkar yang berputar 18 derajat pada tengahnya dan membuatnya tampil beda.
Auditorium
Bangunan lainnya, yakni karya arsitek Santiago Calatrava, The Auditorio de Tenerlife yang memiliki bentuk lengkung dan juga melingkar. Terlihat sangat tidak konvensional jika dilihat dari fungsinya sebagai auditorium. Pun The Sydney Opera House di Australia yang ikonik. Bentuknya terinspirasi dari bentuk layar kapal atau kumpulan kulit kerang yang menumpuk. Bahkan Ribbon Chapel di Hiroshima, Jepang dan Lotus Temple di New Delhi, India.
The Ribbon Chapel adalah sebuah kapel yang selesai dibangun pada 2013 dan diperuntukkan untuk resepsi pernikahan. Bangunan ini menghadap ke Laut Inland Jepang dan dikelilingi pepohonan tinggi di taman Hotel Resor Bella Vista Sakaigahama, di Onomichi, Hiroshima. Arsitek Hiroshi Nakamura mendesainnya dengan dua bagan lengkung seperti spiral yang saling meliuk dan memuncak.
Sesuai namanya, kuil ini disesuaikan dengan bentuk bangunannya yang memang menyerupai bunga lotus raksasa yang sedang mekar. Meski dibangun pada 1986 di Shambhu Dayal Bagh, Bahapur, New Delhi, India, namun dari fasad bentuknya merupakan babakan baru dari benih gaya kontemporer.
Ada pula Guggenheim Museum di di tepi sungai Nervion, Bilbao, Spanyol. Bangunan ini banyak terinspirasi bentuk kapal, tebing, menara, dan sirip terbang. Pembangunannya dilakukan di atas situs kawasan industri yang sudah tak berfungsi dengan jajaran gudang tua, yang memadukan konteks sejarah dan geografisnya.
Bangunan kontemporer yang mengadopsi berbentuk bulat, spiral, dan meliuk-liuk dengan indah ini merefleksikan sejarah kawasan industri kapal dan pemancingan yang difilosofikan pada kilauan gedung menyerupai sisik ikan raksasa itu.
Tidak melulu pada bangunan komersial, gaya arsitektur kontemporer juga sangat mungkin diterapkan pada hunian. Adalah The Long House karya Hopkins Architects sebagai contohnya.
Arsitektur kontemporer tidak sama halnya dengan gaya baroque, futurisme, dan modernisme, yang selalu terkait dengan periodesasi sejarah tertentu. Pengaplikasiannya pada bangunan rumah, bisa disiasati melalui bentuknya yang tidak jamak dan lazim. Jauh terbalik dari konsep minimalis yang kerap mengandalkan dominasi garis lurus-simetris.
Selain di luar negeri, di sejumlah daerah di Indonesia juga sudah banyak berdiri bangunan bergaya kontemporer. Contoh terdekat yakni Gedung Museum Daerah Deli Serdang. Meski juga mengadopsi gaya futristik, dilihat dari pola bagan bangunan utamanya dari penggabungan dua bidang setengah lingkaran, atapnya yang melingkar mengikuti bentuk gedung, bisa digolongkan pada gaya kontemporer kuga.
Pun hal-hal terbarukan lainnya dari sebuah gedung publik yang tidak biasa, dengan penerapan warna terang dan penggunaan banyak jendela kaca, bisa jadi sifat dasar memasuki gaya kotemporer. Apalagi bangunan ini juga berintegrasi dengan alam sekitarnya.











