Dr H.Burhanuddin,M.Pd:

Mari Menuai Kemakmuran dengan Kejujuran

mari-menuai-kemakmuran-dengan-kejujuran
Medan, (Analisa). Sejatinya, setiap orang harus menanyakan dirinya sendiri apakah kejujuran sudah mendominasi dalam kehidupannya atau justru lebih banyak kebohongan. 

Bila kebohongan yang mendominasi diri, janganlah menjadi pemimpin, sebab akan terjadi ketidakadilan dalam kehidupan dan akhirnya menimbulkan banyak kesusahan mapun kesengsaraan.

"Dalam mengisi bulan suci Ramadan 1440 Hijriah ini, salah satu yang akan kita bangun adalah kejujuran. Jujur dalam hidup, jujur dalam bekerja, jujur dalam berucap, jujur dalam mengemban amanah dan lainnya," kata Tokoh Pendidikan Sumut, Dr H. Burhanuddin, MPd kepada Analisa di Medan, Minggu (19/5).

Menyikapi kondisi bangsa dan negara tercinta saat ini tentang adu klaim pemenang Pemilu, tentang isu propaganda politik yang pada akhirnya akan menentukan siapakah Presiden RI lima tahun ke depan, H.Burhanuddin hanya dapat memberi nasihat dan harapan "jujurlah" kepada segenap komponen dalam melaksanakan pemilu, terutama Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sebab, merekalah yang akan mengumumkan siapa pemenangnya.

"Ingat! Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Semua kebohongan pasti akan ketahuan, seperti apa pun cara menyembunyikannya. Rakyat hanya ingin kejujuran.  Seluruh rakyat Indonesia, baik pendukung pasangan 01 atau 02, tidak akan suka dan pasti mengutuk siapa yang terpilih, tapi dengan cara curang," tegasnya sembari menambahkan, dengan kemenangan yang curang, masalah dan urusan negara dipastikan tidak akan pernah terselesaikan.

Menurutnya, rakyat Indonesia pada prinsipnya berharap dan berdoa semoga Allah SWT menunjukkan kejujuran dan memberikan pertolongannya kepada orang yang jujur untuk dijadikan sebagai pemimpin. Sedangkan kepada orang yang curang, diberikan kesadaran agar tidak melakukan kecurangan lagi.

Ingatlah, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini besar dan kaya, tapi kenapa masih jauh tertinggal dibanding dengan negara tetangga. Salah satu jawabannya, karena pemimpinnya belum jujur dalam mengatur negara.

“Untuk itu, mari bersama-sama membangun kejujuran, niscaya akan menuyai kemakmuran. Sebab, sesungguhnya jujur adalah kata yang paling mudah terucap oleh lisan setiap manusia, namun paling sulit untuk dilaksanakan,” ujar H.Burhanuddin. (rama)

()

Baca Juga

Rekomendasi