Oleh: Azmi TS
SETIAP 1 Mei diperingai sebagai hari buruh sedunia dan libur nasional. Selama ini, tertanam di benak kita tentang buruh – orang yang kerja di pabrik dan selalu demontrasi di jalanan. Isu buruh memang seksi dikaitkan dengan sebuah gerakan baik dalam politik, ekonomi, social, dan seni budaya.
Menoleh ke belakang tentang gerakan seni di Perancis abad ke-19, seni cenderung mengusung kredo l’art pour lart (seni untuk seni). Theodore Gautier mengatakan, seharusnya tak ada korelasinya dengan moralitas apalagi menyangkut hal-hal praktis (fungsional). Dengan tegas Gautier menyebutkan seni hanya terkait dengan keindahan dan estetika semata.
Kredo l’art pour lart sebagaimana yang dimaksudkan Immanuel Kant, yakni seni modern Eropa yang diinterestedness (bebas dari kepentingan). Contohnya lukisan karya Claude Monet berjudul Sunrise dan lukisan karya Vincent van Gogh bertitel The Starry Night. Seiring perkembangan seni rupa yang terus berdinamika tak ada yang bisa menjamin seni itu tak terikat apa pun.
Coba perhatikan seni rupa realisme-sosialis di Rusia yang memang diciptakan untuk tujuan dan kepentingan. Seni dibuat untuk menyebarkan paham ideologi komunis, serta bertanggungjawab atas kelanggengannya. Ide-ide seni itu harus mencerminkan tujuan dan kepentingan para pekerja (buruh), kharisma kepemimpinan, kehidupan sehari-hari, dan partai.
Seni realisme-sosialis pada 1920-an begitu disanjung karena telah membantu untuk mempropagandakan ideologi negara komunis. Lukisan potret Stalin karya Isaak Brodsky yang oleh rakyat Uni Soviet kala itu sebagai seniman papan atas. Wajah Lenin juga tak luput dari objek garapan Isaak Brodsky tentang beberapa tokoh popular negeri beruang putih itu.
Nama lainnya adalah Ilya Repin (1911) membuat lukisan berjudul A Demontration on 17 October 1905. Sesuai tema lukisan tersebut dapat ditebak tujuannya untuk menjatuhkan kekuasaan autokrasi Tsar Nicholas. Gerakan ini selain memperkecil kekuasaan raja juga untuk memperbesar suara rakyat. Walaupun lukisan ini jauh sebelum Lenin berkuasa dibuat, setidaknya ilustrasi gambar orang yang sedang berdemontrasi memicu lahirnya prakomunis.
Bagaimana gerakan buruh di Indonesia? Apakah ada karya seni yang menampung aspirasi buruh masuk ke dalam lukisan? Setidaknya isu buruh selain menuntut upah kesejahteraan, bisa juga ada keberpihakan seniman menjadi objek lukisan. Kisah-kisah para buruh migran yang tertindas, dihukum karena krimanilitas, perlakuan tak manusiawi sang majikan belum menjadi objek lukisan.
Cerita pilu hilangnya nyawa para pejuang hak azasi dan buruh seperti Marsinah mengingatkan kita tentang itu. Hari buruh selain istimewa sebagai sejajar dengan hari libur nasional tentunya lebih dimaknai secara proporsional. Bersyukur misteriusnya kematian Marsinah sudah diapresiasi dengan munculnya monumen dan berdirinya patung.
Keberadaan patung Marsinah boleh dibilang belum setimpal dengan upaya kegigihannya memperjuangkan hak kaumnya. Kalau bisa patung itu bisa mencitrakan dirinya seperti patung Kaisar Romawi, Augustus dengan kekuasaannya. Patung marmer yang mencitrakan kekuasaan kaisar itu bertolak belakang dengan kenyataan yang sesungguhnya.
Karya patung setinggi dua meteran lebih itu berjudul, Augusto di Prima Porta. Dalam patung itu kaisar dibuat dalam kerendahhatiannya, tetapi aslinya sang kaisar maniak perang dan memberangus lawan politiknya. Seni memang tak jauh dari perannya seperti abad pertengahan seni hanya diperuntukkan abdi gereja. Semua seni harus membela dan membangun sepirit keagamaan.
Agaknya peran seni tak selamanya digdaya, yang diagung-agungkan sebagai seni untuk seni hanya terkait estetika suatu waktu berubah. Seni yang diciptakan untuk kepentingan tujuan dan kekuasan dalam realism-sosialis juga terjadi pergeseran. Sejalan dengan perubahan ideologi komunis maka peran seni juga ikut tergusur.
Seni memang terpaut tipis dengan idiologi politik demi untuk melanggengkan hasrat kekuasaan yang lama. Sebaliknya ada seni yang banyak menampung amanah rakyat untuk kesejahteraan sosial bersama-sama. Tak heran sebagian masyarakat menyaksikan hiruk-pikuk dunia dalam suasana hening di dalam galeri, mencari seni yang bebas kepentingan ideologi, politik, ekonomi hanya mungkin tersimpan apik dalam keheningan galeri.










