Pemerintah Akan lebih Perhatikan Kaum Difable Intelektual

Pemerintah Akan lebih Perhatikan Kaum Difable Intelektual
Angkie Yudistia staf khusus Presiden berdialog dengan Pengurus Pusat Special Olympics Indonesia (SOIna), di Ruang Rapat, Kantor Sekretaris Negara, Komplek Istana Presiden di Jakarta, Senin (17/2). (Istimewa)

Analisadaily.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia amat mengerti kondisi yang dihadapi kaum difabel intelektual khususnya bagaimana memenuhi hak-hak mereka termasuk di bidang olahraga. Untuk itu, kerjasama yang lebih baik dengan berbagai pihak akan terus di usahakan agar anak-anak difabel intelektual bisa mendapat kesempatan lebih luas untuk menjadi manusia mandiri yang berarti buat lingkungannya.

Pokok pikiran itu muncul saat Angkie Yudistia staf khusus Presiden berdialog dengan Pengurus Pusat Special Olympics Indonesia (SOIna), Senin 17/2, di Ruang Rapat, Kantor Sekretaris Negara, Komplek Istana Presiden di Jakarta.

Special Olympics Indonesia (SOIna) adalahsatu-satunya organisasi yang mendapat akreditasi dari Special Olympics International (SOI) untuk menyelenggarakan pelatihan dan kompetisi olahraga sepanjang tahun di Indonesia dalam rangka pemberdayaan Penyandang Disabilitas Intelektual agar menjadi warga masyarakat yang lebih berguna dan produktif

Usai mendengarkan pemaparan kondisi difabel intelektual di masyarakat Indonesia saat ini, Angkie berkomentar bahwa lingkungan anti bullying perlu diciptakan agar iklim yang lebih ramah hadir. Ini merupakan salah satu syarat penting yang dibutuhkan

Butuh Perhatian Serius

Sedangkan Ketua PP SOIna Warsito Ellwein dalam kesempatan itu mengatakan bahwa kondisi kaum Difable intelektual yang diperkirakan sekitar 5 juta orang di Indonesia perlu mendapatkan perhatian lebih serius dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Saat ini masih terdapat banyak halangan yang membatasi interaksi anak difabel intelektual dengan lingkungannya.

“Di samping perhatian yang lebih besar, termasuk pemberiaan anggaran bagi pembangunan fasilitas olah raga di berbagai daerah, “ujar Warsito yang terpilih memimpin SO Ina dalam Munas di Semarang, November 2019 lalu.

Dalam kesempatan itu para pengurus SOIna memaparkan berbagai persoalan yang menghalangi potensi pengembangan. Sudah banyak contoh cerita sukses keberhasilan pendidikan dan pengembangan di berbagai negara yang kemudian menempatkan anak-anak Difabel Intelektual mendapatkan posisi terhormat di lingkungannya.

Aksi 6 orang atlit Special Olympics dalam film berjudulThe Ringer merupakan salah satu contoh bagaimana anak-anak difabel intelektual mampu mengerjakan hal yang tak mudah. Lingkungan industry film di Amerika Serikat menerima kehadiran mereka dengan baik. Mereka pun mendapat perlakuan yang sama dengan artis film lain termasuk menyangkut besaran honor yang mereka terima.

Potongan adegan film sengaja ditayangkan untuk menjawab pertanyaan Angkie Yudistia kepada para pengurus SOIna seberapa jauh potensi anak difabel intelektual bisa dikembangkan. Ada berbagai faktor yang menentukan selain usaha dari para pegiat difabel, dukungan pemerintah dan sikap masyarakat ikut menentukan.

“Kalau kita ingat dahulu kaum kulit hitam hidup amat terpinggirkan di Amerika Serikat, setelah lewat perjuangan yang panjang akhirnya ada yang kemudian bisa menjadi presiden,” ujar Warsito menambahkan.

Upaya pengembangan yang baik akan mengantar kaum difabel menjadi manusia mandiri. Hal seperti ini sampai ketingkat tertentu telah dilakukan di Indonesia. Namun yang dibutuhkan kini adalah konsistensi dan perhatian lebih luas semua pihak. Sebuah organisasi seperti SOIna saja, lanjut Warsito, tak akan mampu bekerja untuk 5 juta orang difabel intelektual (Rel/Ja)

Berita kiriman dari: Rel

Baca Juga