Menantang Deras Arus Sungai Barumun

Perjuangan Anak Sekolah Sabahotang

Perjuangan Anak Sekolah Sabahotang
Anak-anak dari Desa Sabahotang menyeberangi Sungai Barumun (Analisadaily/Atas Siregar)

Analisadaily.com, Barumun - Saat sinar fajar masih menyeruak perlahan, puluhan siswa TK, SD , SMP dan SMA dari Desa Sabahotang, Kecamatan Barumun Baru, Kabupaten Padang Lawas, sudah bergegas meninggalkan rumah agar bisa sampai sekolah tepat waktu.

Jarum jam menunjukkan pukul 06.20 WIB, namun mereka sudah bersiap untuk antre di tepi Sungai Barumun. Dengan alat transportasi seadanya berupa perahu karet, mereka harus menantang derasnya arus Sungai Barumun yang sewaktu-waktu dapat membahayakan jika tidak berhati-hati saat menyeberang.

Untuk sekali seberang perahu karet hanya bisa ditumpangi maksimum delapan hingga sepuluh orang.

Begitu juga saat pulang sekolah, mereka kembali antre naik perahu karet agar bisa kembali ke desanya di seberang sungai.

Sebahagian orang tua siswa memilih ikut mengantarkan anaknya hingga ke bibir sungai. Namun sebahagian yang sibuk bekerja tidak sempat mengantar dan menjemput anak-anaknya.

Sebagian besar pekerjaan warga di desa itu adalah berladang dan berkebun. Rasa was was dan khawatir acap kali menyelimuti anak sekolah, terlebih ketika menyeberangi sungai tanpa didampingi orang tua.

Seperti halnya Mutia Hasibuan, satu diantara puluhan siswa yang menggunakan transportasi perahu karet.

Bagi siswi kelas V Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Sibuhuan ini, meski dibantu perahu karet untuk menyeberang, tetap ada rasa was-was.

"Takut jugalah pak, airnya kan masih deras," kata Mutia didampingi orang tuanya.

Mutia berharap perjuangan mereka menyeberang sungai bisa segera diatasi pemerintah agar lebih cepat membangun jembatan ke desanya. Sehingga anak-anak sekolah bisa lebih nyaman saat berangkat ke sekolah.

Selain Mutia, Frans juga mengalami perasaan yang sama saat menyeberangi sungai yang berdiameter kurang lebih 40 meter.

Bagi anak TK di Desa Hasahatan, Kecamatan Barumun Baru ini, ada rasa takut meskipun diantar orang tuanya sampai ke tepi sungai.

Kendati demikian, semangat yang kuat untuk tetap sekolah dan tidak ingin ketinggalan, selain cepat bangun saat pagi, Frans juga harus menyeberang sungai dibantu perahu karet.

"Bersyukur juga pak, ada perahunya, kalau tidak ada mungkin saya gak bisa sekolah," katanya.

Usianya masih dini. Namun setiap hari, Mutia, Frans dan bersama puluhan anak sekolah lainnya harus mempertaruhkan nyawa demi sebuah harapan bisa memperoleh ilmu di bangku sekolah.

Kepala Desa Sabahotang, Ali Zumroh Hasibuan mengatakan, lebih 200 kepala keluarga (KK) yang tinggal di desa itu. Tidak ada kendaraan bermotor atau pun mobil sebagai sarana transportasi mereka untuk bersekolah, melainkan hanya dibantu perahu karet untuk sampai ke desa seberang.

Sebelum Sungai Barumun meluap, infrastruktur jembatan penghubung antar desa itu terdapat jembatan titi gantung yang membentang di atas Sungai Barumun. Namun beberapa hari yang lalu, titi gantung yang menjadi satu satunya fasilitas transportasi antar desa itu ambruk setelah diterjang arus Sungai Barumun.

Ketiadaan infrastruktur memaksa para siswa tersebut harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai demi sampai ke sekolah. Setiap hari, mereka melakukan itu lantaran tidak ada jalan alternatif yang lebih dekat ke sekolah. Saat musim banjir seperti saat ini, sebahagian siswa kerap tak bersekolah karena tidak sanggup menyeberangi sungai yang arusnya deras dan membahayakan nyawa mereka.

Agar seragam sekolah seperti sepatu, pakaian, dan peralatan sekolah lainnya tidak basah, para siswa terpaksa membukanya ketika akan menyeberang. Sejumlah siswa bahkan memilih bertelanjang dada sambil memegang seragam mereka. Tidak sedikit siswa punya pengalaman jatuh di tengah arus hingga seragam dan buku mereka basah kuyup sebelum tiba di sekolah.

Sejumlah warga yang khawatir anaknya hanyut terbawa arus sungai, terutama siswa TK dan SD yang baru masuk sekolah, umumnya mengantar anaknya hingga ke pinggir sungai.

Terutama di saat musim hujan yang arus sungainya sewaktu-waktu bisa naik dan pasang.

Anak-anak usia sekolah di desa ini pada umumnya sekolah keluar. Baik sekolah TK, SD, apalagi tingkat SLTP dan SLTA. Meskipun sebenarnya sekolah dasar (SD) ada di desa itu, namun dengan alasan untuk memilih sekolah yang lebih baik, mereka rela menyeberang sungai demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Ali Zumroh selaku kepala pemerintahan di desa itu berharap, kiranya pemerintah bisa secepatnya membangun infrastruktur jalan atau jembatan agar anak-anak di desa itu bisa lebih mudah untuk ke sekolah.

Belum lagi masalah mengangkut kebutuhan dan hasil bumi warga di desa itu cukup terganggu akibat ketiadaan akses transportasi yang memadai. Begitu juga warga dari luar Desa Sabahotang yang memiliki lahan di desa itu turut merasakan kesulitan akibat ketiadaan akses transportasi.

"Jangankan untuk membawa barang dan hasil bumi masyarakat keluar dari Desa Sabahotang untuk menyeberang sungai saja kita masih kesulitan," kata Ali Zumroh.

Mengenai keluhan warga Sabahotang, ia berharap secepatnya bisa ditanggapi pemerintah. Ia tidak bisa membayangkan sampai kapan kesulitan yang dialami warga desanya jika akses transportasi dari dan menuju desa itu tidak segera dibangun.

"Begitulah kondisinya, apalagi saat ini cuaca tidak menentu," ungkapnya berharap.

Berita kiriman dari: Atas Siregar

Baca Juga