Ilustrasi - Kondisi anak-anak di Jalur Gaza setelah serbuan Israel sejak Oktober 2023. (ANTARA/Anadolu/py)
Analisadaily.com, Hamilton - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan semakin parahnya "keputusasaan" di Jalur Gaza akibat memburuknya situasi yang memperparah risiko kesehatan umum, sementara pasokan makanan semakin menipis karena blokade Israel.
"Kondisi sanitasi di seantero Gaza dapat memperburuk risiko kesehatan masyarakat," kata Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric dalam konferensi pers pada Jumat (4/4).
Dilansir dari Antara, Sabtu (5/4), dia mengatakan, tiga area pengungsian sementara di Al-Mawasi melaporkan adanya serangan kutu dan tungau yang menyebabkan ruam pada kulit dan masalah kesehatan lainnya.
Namun, obat peredanya "baru akan tersedia jika perbatasan dibuka lagi bagi masuknya pasokan," kata dia.
"Program Pangan Dunia juga telah memperingatkan bahwa pasokan makanan di Gaza semakin menipis dan pelayanan bantuan yang mereka kerjakan berangsur-angsur berkurang," ucap Dujarric.
Terkait adanya kasus penjarahan di wilayah kantong tersebut, juru bicara PBB memandang hal tersebut sebagai tanda yang jelas akan adanya keputusasaan.
"Warga di Gaza tahu bahwa gerbang perbatasan masih tertutup. Warga di Gaza tahu tak ada makanan yang masuk. Rakyat putus asa," kata dia.
Terkait kondisi di Tepi Barat, Dujarric mengatakan bahwa "puluhan ribu" orang masih harus mengungsi akibat serangan militer Israel di Jenin dan Tulkarm. Mitra bantuan kemanusiaan masih melayani bantuan mendesak serta dukungan psikologis bagi mereka yang terdampak.
Pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu, Ahad lalu, berjanji meningkatkan serangan terhadap Gaza dalam upayanya mewujudkan rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengusir warga Palestina dari Gaza.
Sudah lebih dari 50.600 warga Palestina di Gaza, sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak, tewas akibat serangan Israel sejak Oktober 2023.
Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk pemimpin Israel Benjamin Netanyahu dan bekas pejabat pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perangnya di daerah kantong Palestina tersebut.
(ANT/CSP)