Dampak Banjir Bandang di Sumut, 444,4 Hektare Tanaman Pangan Rusak

Dampak Banjir Bandang di Sumut, 444,4 Hektare Tanaman Pangan Rusak
Terlihat tanaman padi yang terendam banjir akibat banjir bandang dan longsor yang terjadi di Sumatera Utara. (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara—Tapanuli Selatan (Tapsel), Mandailing Natal (Madina), Tapanuli Tengah (Tapteng), serta Deliserdang tidak hanya merusak rumah dan menelan korban jiwa. Bencana ini juga menghantam sektor pertanian, dengan total 444,4 hektare tanaman pangan dilaporkan rusak.

Data Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura (TPH) dan Pengawasan Mutu Keamanan Pangan Sumut menyebut, kerusakan paling luas terjadi pada tanaman padi, mencapai 429,4 hektare. Sementara tanaman jagung yang terdampak seluas 15 hektare, seluruhnya berada di Madina dan Tapsel.

Kepala UPTD Perlindungan TPH dan Pengawasan Mutu Keamanan Pangan Sumut, Marino, menjelaskan kerusakan jagung terjadi di Kecamatan Siabu (14 hektare) dan satu hektare di Kecamatan Angkola Muaratais. “Untuk jagung, sejauh ini tidak ada yang mengalami puso. Data ini merupakan pelaporan per 25–26 November 2025,” ujarnya, Jumat (28/11/2025) di Medan.

Kerusakan terbesar terjadi pada tanaman padi, terutama di Madina yang meliputi Kecamatan Siabu dan Ranto Baek, dengan total 317,4 hektare terdampak. Di Tapsel, banjir merendam areal tanam di Kecamatan Batang Angkola, Sayur Matinggi, Tantom Angkola, dan Angkola Muaratais. “Total tanaman padi terdampak di Tapsel mencapai 49 hektare dari luas tanam 198 hektare,” jelas Marino.

Di Deliserdang, laporan per 20 November 2025 mencatat 63 hektare tanaman padi di Kecamatan Tanjungmorawa ikut terendam. “Sama seperti jagung, tidak ada tanaman padi yang puso,” tegasnya.

Untuk meminimalkan dampak lanjutan, Dinas Ketapang TPH Sumut telah mengambil sejumlah langkah. Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dikerahkan melakukan pendataan di seluruh area terdampak, sementara para petani diminta membersihkan parit-parit agar aliran air kembali lancar. Posko-posko penanganan juga didirikan di tingkat desa hingga kecamatan.

“Pelaporan dampak banjir juga dilakukan secara cepat melalui grup WhatsApp agar penanganan bisa segera dilakukan,” kata Marino.

Sementara itu, untuk wilayah Tapanuli Tengah, ia menyebut belum ada laporan kerusakan tanaman pangan. “Kondisi di lapangan masih belum memungkinkan untuk pendataan,” tambahnya.

Baca Juga

Rekomendasi