Oleh: Mulyadi Hutahaean
Analisadaily.com, Medan - Azan Subuh menjadi alarm pertama yang membangunkan kami, Jumat (28/11/2025). Bukan dari kamar, bukan dari ranjang. Tapi dari dalam mobil yang terparkir di tepi Jalan Iskandar Muda—tempat kami terpaksa bermalam setelah banjir mengepung Kota Medan. Tubuh pegal, baju lembap, dan embun dingin di kaca mobil menjadi penanda malam panjang tanpa kepastian.
Saat matahari perlahan muncul, kami pun memberanikan diri pulang ke rumah masing-masing di kawasan Jamin Ginting dan Perumnas Simalingkar. Air yang semula setinggi dada orang dewasa, pagi itu telah surut hanya sebetis. Di beberapa titik, hanya tersisa jejak lumpur di aspal, seperti bukti bisu betapa kota ini semalaman tak berdaya.
Perjuangan Melintasi “Sungai” Hasanuddin
Sekitar pukul 19.00 WIB, ketika hujan tak kunjung berhenti di hari keempat, kami memutuskan pulang lewat Jalan Zainul Arifin. Namun, sepanjang jalan sudah berubah menjadi kubangan luas akibat luapan Sungai Deli. Di beberapa titik, genangan bahkan mencapai knalpot mobil minibus.
Arah ke Jalan Pattimura ditutup total karena air dari Mongonsidi terus meninggi. Satu-satunya jalan yang “mungkin” bisa dilewati hanyalah melalui Jalan Hasanuddin menuju Iskandar Muda. Itulah sebabnya, meski ruas Hasanuddin bak sungai, pengendara—baik roda dua maupun roda empat—tetap nekat melaju.
Motor-motor banyak yang mogok. Pemiliknya mendorong kendaraan dalam kondisi basah kuyup. Sementara pengendara mobil memaksa menekan pedal gas stabil agar air tidak masuk ke knalpot.
“Udah basah kakiku… air juga masuk ke dalam mobil. Gimana ini, pak? Selamat nggak kita lewat sini?” keluh istriku di kursi sebelah. Syukurnya, kami berhasil melewati jalan yang berubah jadi arus deras itu.
Takut Menerjang, Tak Punya Tempat Pulang
Setelah melewati genangan, kami berhenti di halaman sebuah toko tekstil untuk memeriksa mobil. Air yang masuk sempat kami keringkan sebisanya sebelum melanjutkan perjalanan menuju Simpang RS Siti Hajar. Namun, rasa trauma saat melintasi banjir di Hasanuddin membuat nyali kami mengendur.
Hujan rintik terus turun hingga jelang tengah malam. Setiap informasi yang kami terima justru menambah rasa cemas. Pengendara lain yang melintas dari arah Jamin Ginting bercerita bahwa air di sana sudah setinggi pinggang. Saudara kami yang berada dekat Simpang RS Siti Hajar memberi kabar bahwa ketinggian air hampir satu meter. Mustahil untuk dipaksa menerjang.
Kami putuskan mencari penginapan. Sayang, seluruh hotel di kawasan Iskandar Muda penuh. Tidak ada pilihan lain selain beristirahat di emperan toko roti—tempat biasanya para pengemis membaringkan tubuh.
Awalnya kami mengira orang-orang yang tidur di emperan itu adalah sesama warga terdampak banjir. Ternyata mereka adalah pengemis yang malam itu juga mencari tempat berteduh. Pemilik kendaraan lain lebih memilih tidur di dalam mobilnya. Maka, sah lah kami berbaring semalam suntuk di emperan bersama para gelandangan kota.
Namun dinginnya udara malam membuat rasa nyaman tak bertahan lama. Kami kembali masuk ke mobil sekitar pukul 00.15 WIB.
Mencoba Peruntungan, Kembali Tertahan
Belum sempat terlelap, telepon berdering. Seorang saudara memberi informasi rute yang katanya aman dilalui: Jalan Sei Mencirim – Darussalam – Gajah Mada – Tanjungsari. Dengan harapan baru, kami mencoba rute itu.
Sayangnya baru beberapa meter dari lokasi istirahat, di kawasan Pasar Peringgan, genangan air sudah menutup seluruh badan jalan. Seorang warga menghampiri dan memperingatkan. “Gak bisa lewat, pak. Dalam kali airnya. Bisa terpuruk nanti,” katanya.
Dengan rasa kecewa, kami kembali lagi ke tempat semula. Untung hanya ada tiga mobil yang parkir sehingga kami bisa kembali menepi. Lelah dan dingin akhirnya menaklukkan tubuh, dan kami tertidur dalam posisi duduk bersandar di jok mobil.
Pagi yang Lebih Bersahabat
Kami terbangun saat azan Subuh berkumandang dari masjid di Jalan Abdullah Lubis. Hujan berhenti. Genangan air di sebagian besar jalan mulai surut. Kami putuskan pulang.
Di Simpang Brimob air masih menggenang, namun kini aman dilalui. Setelah itu, jalan-jalan yang kami lewati hanya menyisakan lumpur dan bekas banjir—seolah ingin mengingatkan bahwa semalam, Medan sempat lumpuh.
Malam panjang itu menjadi cerita baru tentang bagaimana sebuah kota yang akrab dengan banjir tetap membuat warganya terjebak dalam ketidakpastian. Namun, seperti pagi yang akhirnya datang, harapan selalu punya cara untuk menemukan jalan pulang.











