Antrean BBM Mengular, Isu Hoaks Jembatan Putus Picu Panic Buying

Antrean BBM Mengular, Isu Hoaks Jembatan Putus Picu Panic Buying
Antrean BBM Mengular, Isu Hoaks Jembatan Putus Picu Panic Buying (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Padangsidimpuan – Belum reda trauma masyarakat akibat krisis BBM pascabanjir bandang beberapa waktu lalu, Kota Padangsidimpuan kembali dikepung antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU dalam empat hari terakhir.

Ironisnya, di tengah kelangkaan ini, harga BBM di tingkat pengecer melonjak drastis hingga tembus Rp30.000 per liter.

Kondisi ini memicu keresahan luas. Warga merasa terjebak di antara keterlambatan pasokan resmi dan permainan para spekulan yang memanfaatkan situasi sulit.

Pihak SPBU mengonfirmasi bahwa tersendatnya pasokan kali ini bukan disebabkan oleh kendala jalur darat, melainkan faktor alam di laut.

"Kapal tanker dari Jawa ke Sumatera Utara sulit berlabuh karena gelombang tinggi akibat cuaca buruk sepekan terakhir. Jadi ini murni keterlambatan distribusi laut, jalur darat tetap normal," jelas J. Siregar, seorang petugas SPBU di Padangsidimpuan, Rabu (28/1/2026).

Kekacauan semakin diperparah dengan beredarnya hoaks yang menyebut Jembatan Garoga (penghubung Tapteng–Tapsel) kembali putus. Isu ini diduga sengaja ditiupkan oleh oknum tertentu untuk menciptakan kepanikan (panic buying) sehingga harga di tingkat pengecer bisa dimainkan.

Hasil pantauan di lapangan menunjukkan harga Pertalite di pinggir jalan kini melambung jauh di atas harga normal:

• Harga Pengecer: Rp20.000 hingga Rp30.000 per liter.

• Modus Lama: Warga melaporkan adanya kendaraan dengan tangki modifikasi serta pengisian berulang menggunakan jeriken yang luput dari pengawasan.

Lila Siregar (46), salah seorang warga, mengecam keras praktik "pemain" BBM yang masih bebas berkeliaran. Ia meminta aparat kepolisian segera turun tangan mengawasi SPBU secara ketat.

"Ini permainan lama yang terus dibiarkan. Ada yang isi motor, bawa jeriken, lalu dimuntahkan ke botol dan antre lagi. Ini tidak bermoral! Polisi harus menindak tegas para spekulan ini," tegas Lila.

Masyarakat kini berharap pemerintah dan pihak berwajib tidak sekadar memantau, tetapi melakukan langkah nyata untuk menormalkan distribusi dan memberantas mafia BBM eceran yang mencekik kantong rakyat.

(HIH/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi