Onrizal (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan – Transisi energi seringkali terjebak dalam perdebatan teknis soal megawatt dan angka pembiayaan. Namun, pakar kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal, Ph.D, menawarkan perspektif baru yang lebih menyentuh akar rumput: Fikih Transisi Energi Berkeadilan.
Dalam gagasan yang diusungnya bersama Green Justice Indonesia, Onrizal menegaskan bahwa beralih ke energi bersih di Sumatera Utara bukan lagi sekadar agenda pembangunan, melainkan kewajiban etis untuk mencegah kerusakan (mafsadah) dan menegakkan kemaslahatan (maslahat).
Kompas Moral Maq??id al-Syar?‘ah
Menggunakan kacamata Maq??id al-Syar?‘ah (tujuan syariah), Onrizal membedah mengapa transisi energi adalah bentuk ibadah sosial. Polusi udara dan krisis iklim dinilai mengancam lima penjagaan pokok manusia:
- Menjaga Jiwa (Hifz al-Nafs): Melindungi warga dari penyakit pernapasan akibat emisi fosil.
- Menjaga Harta (Hifz al-Mal): Menekan biaya kesehatan dan kerugian ekonomi akibat bencana iklim.
- Menjaga Keturunan (Hifz al-Nasl): Memastikan anak cucu di Sumut tidak mewarisi bumi yang rusak dan biaya hidup yang mahal.
"Mencegah kerusakan harus didahulukan daripada mengambil manfaat. Jika energi fosil terus merusak kesehatan dan iklim, maka mempercepat energi bersih adalah langkah wajib secara etis," ungkap Onrizal, dosen Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara (USU) dalam tulisannya diperoleh
Analisadaily.com, Kamis (29/1/2026).
Potensi Sumut: Dari Sarulla hingga Atap Masjid
Sumatera Utara sebenarnya berada di atas "tambang" energi hijau. Dengan potensi panas bumi di Sarulla (±330 MW), aliran hidro yang melimpah, hingga bioenergi, Sumut punya modal kuat untuk mandiri.
Namun, Onrizal menekankan strategi yang paling dekat dengan rakyat: PLTS Atap.
"Panel surya tidak harus buka lahan baru. Pasang di atap rumah, sekolah, pesantren, hingga kubah masjid. Ini adalah simbol kemandirian energi komunitas yang nyata," tambahnya.
3 Agenda Aksi Nyata untuk Sumut
Agar transisi ini tidak sekadar menjadi dokumen di rak buku, Onrizal menawarkan tiga langkah konkret:
- Peta Jalan yang Transparan: Pemprov Sumut harus memiliki target dan jadwal implementasi yang bisa diawasi publik.
- Gerakan Energi Rakyat: Masifkan PLTS Atap dan efisiensi energi di gedung-gedung publik dan industri.
- Filantropi Islam untuk Energi: Menggerakkan potensi Wakaf Produktif dan Green Sukuk untuk mendanai proyek energi bersih skala komunitas lewat ormas seperti Al Washliyah, NU, dan Muhammadiyah.
Penutup: Ujian Keberpihakan
Bagi Onrizal, transisi energi adalah ujian keberpihakan pemerintah. Apakah kebijakan yang diambil benar-benar melindungi rakyat atau justru menambah beban baru bagi kelompok rentan?
"Sumut bisa memimpin transisi ini, asalkan berani adil. Transisi energi berkeadilan adalah tentang memastikan tidak ada satu pun kelompok yang tertinggal di belakang saat kita melangkah menuju masa depan yang lebih bersih," tutup Onrizal, yang juga Jejaring Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia.
(RZD)